Belahan dada Nenek Tsunade dan Persepsi Sex yang Salah

Belahan dada Nenek Tsunade dan Persepsi Sex yang Salah

18

Ada yang menarik, saat netizen mengkomentari peserta debat asal Indonesia. Ajang World Schools Debating Championship (WSDC) diselenggarakan di Bali dari tanggal 1 sampai dengan 11 Agustus 2017. Bukan soal prestasi mereka yang diapresiasi, tetapi beberapa netizen malah meributkan pakaian yang dikenakan oleh peserta debat wanita. Debat yang diusung bersama peserta dari 50 negara di dunia ini mengusung tema toleransi dan keberagaman. Tema ini sungguh bagus, tetapi tidak untuk para kaum radikal. Debat dibutuhkan logika, tetapi jangan sampai anda debat dengan kaum radikal, karena jika kalah mereka tidak perlu akal, yang diperlukan hanya teriak-teriak sambil bawa pentung.

Ada beberapa netizen yang nyinyir lantaran pakaian peserta debat. Hal tersebut lantaran dikait-kaitkan dengan persepsi sebuah sex. Intinya pakaian sedikit terbuka menimbulkan nafsu.

Untuk mempersiapkan diri dalam acara debat tersebut, tidak main-main, peserta harus menelan segala bacaan dari politik, ekonomi sampai konflik Timur Tengah, serta memahaminya dengan benar.

Inilah Indonesia yang masih ada memandang prestasi dari kacamata yang begitu sempit. Sudut pandang yang dangkal. Hal tersebut lantaran ada yang nyinyir, “ apa yang diharapkan dan dibanggakan dari tukang debat?”. Sudah sangat jelas, untuk bisa mendebat dibutuhkan wawasan yang luas serta analisa yang baik. Secara tidak langsung mengatakan, untuk apa memiliki wawasan yang luas? Kan sakit. Seharusnya menurut saya lebih tepatnya adalah “ apa yang diharapkan dan dibanggakan dari tukang nyinyir?”.

Nyinyir tanda tak mampu, sudah menjangkit berbagai kalangan, dari kalangan politikus sampai kalangan agamis yang mengaku suci. Nyinyir seringkali dilakukan dimedia sosial, oleh tokoh-tokoh politik lawan dari Jokowi.

Persepsi sex

Setiap manusia normal pasti memiliki keinginan terkait sex. Tetapi itu semua tergantung dengan manusia itu sendiri, apakah yang menjadi persepsi dalam melakukan hubungan sex itu sendiri sehingga menjadikannya dasar melakukan perbuatan itu. Jika manusia melakukan hubungan sex lantaran diawali hubungan cinta antar pasangan suami dan istri, tentu saja tidak akan menjadi masalah. Awal melakukan hubungan sex karena cinta, tidak akan gampang tergoda dengan paha tetangga yang lebih mulus dari paha pasangan yang ada hitam-hitamnya sedikit. Atau dada tetangga yang montok tidak akan membuat air liur menetes, karena persepsi dalam melakukan sex bukan hal buah dada yang montok, tetapi karena cinta kepada pasangan.

Sewaktu saya kecil, saya sangat senang liat film Warkop DKI. Dalam film tersebut banyak sekali mengexpose wanita-wanita seksi dan cantik, tetapi toh saya hingga detik ini tidak pernah memperkosa cewek yang sedang berbikini di pantai atau kolam renang karena sebuah persepsi sex yang salah.

Berbeda dengan saat ini, film kartun saja disensor dadanya. Terakhir saya menonton film Naruto, nenek Sunade, dadanya disensor, sungguh bikin geli saja. Belum lagi lomba renang yang disensor, jadi menimbulkan kesan telanjang bulat, karena pkaian renangnya diblur.

Foto : Tsunade ( konoha news)

Memfokuskan pikiran untuk hal-hal yang positif, akan menjauhkan diri dari pikiran-pikiran negatif. Sebagai contoh, saya dulu adalah seorang yang sangat jijikan. Kalo saya melihat kotoran ayam meskipun sudah kering dan tidak bau, maka saya pengen muntah, hal tersebut karena pikiran saya berfokus pada rasa jijik pada kotoran ayam tersebut. Tetapi setelah saya tidak lagi fokus ke kotoran ayam tersebut, saya tidak gampang jijik dan tidak muntah lagi jika melihat kotoran ayam. Begitu juga jika kita berfokus dan berfikir, bahwa wanita itu objek sex, sehingga jangankan melihat tubuhnya, memiikirkannya saja pasti langsung otak jadi mesum.

Pendidikan mental dan budi pekerti yang mendesak untuk dilakukan

Dari kejadian itu, membuktikan bahwa revolusi mental sangat diperlukan, supaya negara kita tidak menjadi mental sangekan ketika melihat belahan dada dan paha. Atau mental marah-marah ketika melihat patung, karena imannya takut goyah oleh sang patung.

Orang-orang yang kalah dengan hal-hal remeh temeh, bagaimana dapat berfikir produktif dan dapat membangun bangsa ini? Jika melawan otak mesumnya sendiri saja tidak bisa. Jika iman saja kalah sama patung, apalagi sama godaan duit untuk korupsi.

Selain itu, pendidikan budi pekerti sangatlah penting, untuk menumbuhkan rasionalitas dan rasa empati, supaya intoleran tidak semakin menjangkiti negeri ini.

Sumber pendukung :

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40841708?ocid=socialflow_facebook

 

Share.

About Author

Pengamat kelas coro yang otaknya dikit, puas loo?.........antonseword.com@gmail.com....

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage