Catatan Satu Tahun Pernikahan

Catatan Satu Tahun Pernikahan

43

8 September 2017, adalah hari ulang tahun pernikahan saya dan istri. Di hari itu pula, anak kami berusia satu bulan dan tiga hari. di hari itu juga kami mendengar kabar tentang bayi Debora, bayi yang lambat ditangani hanya karena pihak rumah sakit tidak terhubung dengan BPJS.

Bagi teman-teman yang sudah berkeluarga atau belum memiliki anak, saya yakin akan sedih sekali, minimal termenung sejanak dan berpikir “bagaimana kalau itu terjadi pada keluarga kami?” tapi alhamdulillah anak dan istri saya sehat, tapi kami juga pernah mengalami beberapa kondisi saat harus keluar dana cukup besar untuk biaya kesehatan.

Saat memutuskan menikah, saya dan istri tidak pernah terpikir untuk program hamil dan seterusnya. Jika memang waktunya dikaruniai anak, kami akan bersyukur. Tapi jika memang harus menunggu, kami berdoa supaya diberi kesabaran.

Di awal-awal pernikahan, saya kerap melakukan perjalanan jauh, seperti ke Jogja, Semarang dan Jakarta. Sebenarnya ini adalah kegiatan biasa yang sering saya lakukan saat masih jomblo. Tapi setelah menikah, tidak semua tempat tersebut bisa saya kunjungi langsung sebelum mendapat izin dari istri. Atau kadang diminta untuk tidak jalan terlalu lama. Misal 2 hari jalan, balik rumah beberapa hari, baru jalan lagi.

Suatu kesempatan istri saya agak bingung mengapa saya harus datang ke beberapa kota, kenapa harus ketemu langsung?. Apa tidak bisa via telpon, chat atau email? Mengapa harus berkali-kali bertemu dan seterusnya. Selain karena biaya transportasinya tinggi, juga kadang harus meninggalkan rumah selama beberapa hari.

Daripada penasaran dan kalau saya jawab juga tidak memuaskan, suatu hari saya mengajak istri ke Semarang dan Jakarta untuk bertemu dengan beberapa orang. Saya sadar bahwa perjalanan tersebut akan sangat panjang dan melelahkan. Tapi ya sudah, supaya dia tahu teman-teman saya di Jakarta dan apa yang sering kami diskusikan.

Singkat cerita, pulang dari Jakarta istri saya kelelahan. Lemas. Beberapa kali mengalami pendarahan. Menurut google, kalau perempuan kelelahan dan lemas, biasanya sedang hamil. Begitu juga kata salah seorang teman saya.

Karena penasaran, saya beli alat tes kehamilan di minimarket. Setelah tes, ternyata memang positif hamil. Alhamdulillah bersyukur sekali.

Kami segera ke bidan untuk periksa. Tapi raut wajah gembira dan penuh syukur itu berubah seketika setelah datang dari bidan. Kata bidannya, istri saya terancam keguguran karena kelelahan. Janin baru berusia seminggu.

Ketika mendengar alasan kelelahan, saya jadi sangat menyesal kenapa mengajaknya melakukan perjalanan panjang selama beberapa hari ke Semarang dan Jakarta? Kenapa tidak berpikir ada kemungkinan hamil dan seterusnya. Di jaman google, saya merasa bodoh sekali saat itu. Mengapa tidak sempat googling untuk baca artikel-artikel tentang keluarga?

Di tengah perasaaan penuh sesal tersebut, saya mencoba untuk melakukan sesuatu, berikhtiar. Karena saya tidak ingin menyesal lebih dalam lagi jika di kemudian hari terjadi hal buruk dan kami tidak melakukan apa-apa. Hari itu juga kami ke dokter spesialis kandungan, dokter terbaik dan termahal di kota, dokter Ibnu. Kata orang, kalau rumah sakit umum sudah angkat tangan, biasanya baru dirujuk ke rumah sakit miliki dokter Ibnu.

Dokter Ibnu meminta agar istri saya tidak banyak melakukan aktifitas, disuruh beli pampers agar tidak perlu jalan ke kamar mandi hanya untuk kencing, bahkan disarankan untuk menjalani rawat inap karena kandungannya sangat lemah.

Saya setuju saja dengan saran dokter, hanya saja istri merasa akan stres kalau harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Jadi dia memilih istirahat di rumah.

Setiap bulan kami mendatangi dokter Ibnu. Setiap bulan juga istri saya mendapat obat-obat baru yang harus dikonsumsi sampai habis. Kadang kalau obatnya sudah habis, kami datang lagi ke dokter untuk periksa.

Sampai ada keluarga kami yang bertanya, apa tidak bisa ke bidan saja? karena masyarakat satu kabupaten sangat tau betapa mahalnya biaya konsultasi ke dokter Ibnu. Rata-rata saya harus keluar biaya 450 ribu untuk konsultasi dan beli obatnya. Sementara kalau ke bidan bisa gratis, dan kalaupun ada obat yang harus dibeli di apotik, harganya juga sekitar puluhan ribu saja.

Bulan pertama, kedua dan ketiga kami rutin periksa ke dokter ibnu. Bulan keempat, coba periksa ke bidan. Haha… lagi krisis.

Dan hal yang serupa terjadi lagi. Istri saya terlihat sedih sekali setelah keluar ruang periksa. Kalau ke dokter Ibnu, saya selalu ikut masuk ke ruang periksa dan USG, mendengarkan penjelasan dan saran sang dokter. Tapi kalau di bidan, saya tidak bisa masuk sebab ruangannya cukup sempit. Jadi hanya menunggu di luar.

Sesampainya di rumah, istri baru cerita sambil terisak. “tadi ditanya periksa ke dokter siapa selama ini? aku jawab dokter Ibnu. Terus bidan bilang, orang-orang di sini kalau ada kasus seperti mbak biasanya keguguran. Sebab emang ga periksa karena nggak punya dana.”

Bidannya mengatakan salut dengan saya yang bertindak cepat, sehingga bayinya sekarang normal dan sehat. Ternyata itu yang membuat istri saya menangis haru. Hehe

Dua minggu setelah itu, setelah pegang duit lagi, saya ajak istri periksa ke dokter Ibnu lagi. Begitu terus sampai bulan ke sembilan. H-7 sebelum melahirkan, kami datang lagi ke dokter untuk USG dan mengetahui apakah proses melahirkannya nanti akan normal atau operasi. Jawabannya normal.

Seminggu setelahnya, jam 12 malam, istri saya mengeluarkan cairan bening. Dan, menurut yang saya baca dari google, itu salah satu tanda ketuban pecah serta bersiap untuk melahirkan. Saat itu juga saya beri bawa ke bidan di puskesmas, karena bidan di desa sedang dinas malam.

Sesampainya di puskesmas, istri saya diminta jalan-jalan dulu supaya memudahkan proses melahirkannya nanti. Tapi setelah beberapa jam, tetap buka satu dan istri mengeluarkan cairan bening. Saat saya tanya apa air ketubannya pecah? Bidan menjawab tidak.

Oh oke, setelah sejam lebih jalan-jalan dan tetap buka satu, saya dan istri memilih istirahat. Saya tidur di luar puskesmas, sementara istri di ruang periksa.

Jam 3 dinihari, saya dibangunkan dan bidan bilang air ketubannya sudah habis. Jadi ini harus segera dibawa ke rumah sakit. Waah saya langsung panik sekaligus ingin marah-marah. Sebab sejak awal saya pikir air ketubannya sudah pecah, tapi bidan bilang belum. Lalu tiga jam setelahnya mendadak dibilang sudah habis.

Istri saya masih tertidur lelap saat saya komunikasi dengan bidan. Ada satu kejadian yang membuat saya hampir melempar hape dan menendang-nendang pintu ruang periksa. Pasalnya, ada satu bidan yang sedang telpon ke dokternya, sempat bilang “terancam salah satu ya dok, oo kalau tidak anaknya berarti ibunya.”

Bayangkan, saya mendengar percakapan seperti itu saat capek-capeknya, baru bangun tidur dan jam 3 dinihari. Tapi saya tahu tidak boleh marah-marah karena nanti istri bangun dan bertanya-tanya. Jadi ya sudah, segera dibawa ke rumah sakit milik dokter Ibnu untuk penanganannya.

Penanganan di ruang UGD berlangsung cepat. Tanpa ditanya mengenai pembiayaan atau ditanya apakah peserta BPJS. Perawat yang berjaga langsung melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter Ibnu, berkali-kali menyebutkan istilah-istilah dunia kedokteran.

Setelah dua jam menjalani perawatan, saya dipanggil ke ruang dokter untuk wawancara dan tanda tangan. Ditanya akan memilih ruang VIP atau ekonomi. Ditanya pekerjaan, BPJS, dan lain-lain.

Terakhir yang paling penting adalah hasil periksa. Jika sampai jam 12 siang belum ada reaksi melahirkan, maka harus dioperasi sebab ketubannya sudah pecah. Saya tanda tangani dua puluhan lembar kertas yang ada, sebagai persetujuan. Ya meski sebenarnya saya juga tidak baca. Yang penting tanda tangan dan proses.

Alhamdulillah jam 10:10 siang istri saya berhasil melahirkan normal. Namun tidak boleh langsung dibawa pulang sebab harus menjalani perawatan selama 3 hari. Sebab bayi yang lahir terlihat sedikit berwarna biru. Saya paham sebab memang mendampingi selama proses melahirkan.

Itulah sedikit catatan tentang kehamilan sampai proses melahirkan yang kami alami. Biaya kesehatan memang mahal, fasilitas terbaik jelas lebih mahal. Tapi yang terpenting adalah keputusan untuk mampu bersikap.

Selain itu, kadang juga perlu sedikit tutup telinga dengan “apa kata orang lain.” Saya bukan termasuk orang kaya, tapi merasa kalau membayar 500 ribu tiap bulan untuk beli obat konsultasi ke dokter spesialis kandungan, saya tak perlu hutang ke orang lain. Jadi ya sudah berikan saja perawatan terbaik. Di luar itu ada orang yang mengatakan kebanyakan duit, ya alhamdulillah kalau 500 ribu sebulan masih mampu, tinggal hemat di pos pengeluaran yang lain.

Terakhir, semoga jadi pelajaran untuk para calon pasangan muda yang mungkin perlu bahan referensi tentang pentingnya mengambil sikap secara cepat dan tepat. Kita tidak akan pernah menjadi manusia sempurna, tapi kita bisa berusaha maksimal… Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik WA: +15068028643 BBM: 74B86AE4

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage