(Dana) Quran, Haji, dan Masjid dikorupsi, Mana Aksi Bela Islam?

(Dana) Quran, Haji, dan Masjid dikorupsi, Mana Aksi Bela Islam?

67

27 adalah angka yang unik dalam bahasan saya kali ini. Ini bukan angka cantik, tapi sepertinya merupakan sebuah peringatan Tuhan kepada kita. Seolah-olah Dia hendak mengancam kepada kita makhluk-Nya, “Jangan main-main dengan-Ku!” Ada fakta apa di balik angka 27 ini?

Tahun 2014, kita dikejutkan dengan peristiwa kasus korupsi pengadaan dan penggandaan Alquran dalam tubuh Kementerian Agama, tepatnya di Ditjen Bimas Islam. Total kerugian yang diderita negara lebih dari 27 miliar.

Tahun 2015, masih di Kementerian yang sama, yakni Kementerian Agama. Terjadi kasus korupsi dana haji dengan tersangka menteri agama sendiri, Suryadharma Ali. Kerugian yang diderita negara juga mencapai lebih dari 27 miliar.

Pada tahun ini, hari ini kita dikejutkan dengan munculnya dugaan tindak pidana korupsi pembangunan masjid di Walikota Jakarta Pusat. Kasus korupsi ini menyeret nama cawagub nomor urut satu, Sylviana Murni. Besarnya anggaran yang digunakan untuk pembangunan masjid ini senilai 27 miliar.

Tentu ini bukan sebuah kebetulan. Masalahnya, ini bukan kasus korupsi biasa. Ini tak seperti kasus korupsi pengadaan wisma atlit atau korupsi sapi impor. Ini adalah jenis korupsi yang paling berani manusia lakukan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Korupsi yang berkaitan erat dengan wilayah-wilayah agama. Ini sangat mengerikan. Ini seperti mencuri di hadapan Tuhan.

Saya heran. Mengapa orang-orang ini berani sekali mencuri di hadapan Tuhan langsung? Quran itu Kitab Suci kita umat Islam. Petunjuk agung manusia untuk menjalani hidupnya. Yang berisi segala macam pedoman hidup untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar.

Kalau sebegitu pentingnya Quran dalam kehidupan kaum muslimin, tentunya, membantu dalam proses pengadaan dan pendistribusian kepada umat, akan dinilai sebagai sebuah kebaikan yang amat luar biasa. Tiap muslim harus memiliki pendirian seperti itu. Sebab itu adalah jihad yang tiada taranya.

Lalu. Mengapa masih ada manusia yang hendak mengambil keuntungan dari sini? Bukannya membantu melancarkan proses pengadaan, ini malah mengambil keuntungan-keuntungan duniawi dari mencuri di hadapan Tuhan secara langsung. Benar-benar tidak tahu malu sekali orang ini.

Belum lagi masalah haji. Carut marut pengelolaan haji dengan cara memberikan otoritas penyelenggaraan haji kepada pihak-pihak yang tidak kompeten. Semua itu dilakukan hanya untuk memperkaya diri sendiri. Tidak hanya itu, Suryadharma Ali belum puas hanya bermain penyelenggaraan haji. Ia juga menggunakan dana operasional menteri yang tidak sesuai dengan peruntukan.

Mengapa bisa terjadi korupsi besar-besar di Kementerian Agama? Apakah karena para koruptor ini ahli agama, hingga tahu bagaimana caranya bertobat yang baik dan benar? Setelah mereka menggasak dana kemaslahatan umat, dosa-dosa mereka dapat ditutupi dengan simbol-simbol kesalehan. Ramah, santun, berpeci, bergamis, jidat hitam, berjanggut, ra(i)sa-ra(i)sanya itu cukup memberikan image ke publik bahwa mereka yang berada di dalam tubuh Kementerian Agama adalah orang-orang suci.

Korupsi jenis ini sangat memalukan. Ini memberikan pelajaran kepada kita, jangankan di tempat-tempat lain, di Kementerian Agama sekali pun yang tentunya pejabat-pejabatnya ngerti agama, korupsi tetap terjadi dan besar-besaran. Ini kan tanda tanya besar. Sudah ngerti mencuri itu dilarang, tapi masih tetap juga mencuri. Parahnya, duit yang dicuri itu diperuntukan untuk membiayayi hal-hal yang amat sakral dalam Islam.

Ini jelas-jelas penistaan agama kelas berat. Dana Quran dikorupsi, dana haji dikorupsi dan kini dana pembangunan masjid dikorupsi. Dan yang sangat disayangkan, tidak ada aksi bela islam atas kasus penistaan agama ini. Tidak ada demo besar-besaran, dimana orang-orang datang tempat-tempat yang jauh, dengan ongkos sendiri, bahkan dengan jalan kaki, untuk membela agamanya yang telah dinista oleh para koruptor ini.

MUI pun tidak bergerak cepat mengeluarkan fatwa haram dan pernyataan bahwa para koruptor tersebut jelas-jelas telah merusak citra agama. Menodai agama. Dan menista agama. Ada apa dengan MUI? Apakah MUI tidak berani melawan jajaran kementerian agama, sebab masih satu jurusan?

Berbeda dengan itu. Untuk kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, semua pihak terlihat begitu responsif bahkan reaktif. Mereka datang dari tempat yang jauh-jauh hanya untuk mengobarkan yang katanya “jihad melawan penista”. Meski pulang tak punya ongkos mereka tetap harus ikut.

Padahal, duduk perkaranya saja belum jelas. Banyak dari para pendemo yang tidak menonton video Ahok secara penuh. Hanya berpegang pada video editan Buni Yani. Dan kini, semua kebohongan aksi bela islam  mulai nampak. Kesaksian para saksi pelapor sangat diragukan kebenarannya. Malah, banyak di antaranya yang membuat kesaksian palsu.

Saya jadi bertanya-tanya. Kok segitu bodohnya umat islam mau turun ke jalan atas nama bela agama, untuk suatu kasus yang belum jelas duduk perkaranya. Akan tetapi, untuk kasus-kasus yang sudah jelas duduk perkaranya, sudah terbukti bersalah, semangat bela agama mereka justru melempem. Padahal, koruptor-koruptor di lingkaran agama inilah yang telah benar-benar menista agama.

Terakhir. Pasti Tuhan tengah memberikan sebuah kabar kepada kita dengan angka 27 ini. Saya mencoba memahaminya demikian. Sebab, tidak ada yang terjadi kebetulan, apalagi yang menyangkut dengan kejahatan di lingkungan agama.

Saya mencari-cari rahasia di balik angka 27 ini. Hingga akhirnya saya mengafiliasikan angka 27 dengan Juz 27. Dalam Juz 27 ini, jika kita hubungkan dengan karakter seseorang, karakter yang diceritakan dalam Juz 27 ini meliputi: Sosok yang bertanggung jawab, kuat pendirian, memiliki wibawa dan pengaruh kuat, suka membantu, dermawan, cenderung keras dan temperamental.

Meski teori di atas hanyalah sekumpulan kemungkinan, tapi ini sangat relevan dengan kasus-kasus korupsi yang menelan kerugian 27 miliar. Sebagai pakar ra(i)sa, saya menduga, agak-agaknya Tuhan hendak memberikan kode kepada kita: Carilah pemimpin dengan tipe seperti dalam Juz 27. Dan saya lihat. Karakter-karakter tersebut adalah dalam diri seorang Basuki Tjahaja Purnama. Wahh… bisa dianggap cocokologi nih. hahaha..

Ra(i)sa-ra(i)sanya begitulah.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage