Felix Melecehkan Al-Quran dengan Melarang Menggunakan Akal ?

Felix Melecehkan Al-Quran dengan Melarang Menggunakan Akal ?

78

Memeluk suatu agama merupakan hak masing-masing individu. Agama merupakan ranah privasi seseorang. Pemaknaan agama yang baik tentu saja berimbas pada tindakan dan perilaku yang baik pula. Pada dasarnya, semua agama ada untuk suatu kebaikan. Agama digunakan untuk kontrol dalam kehidupan dengan mengikutsertakan peran ilahi.

Sesungguhnya tidaklah masalah mengeluarkan pendapat mengenai suatu keyakinan, selagi standar ganda tidak digunakan. Jika sudah menggunakan standar ganda dalam membahas suatu keyakinan, potensi bersinggungan akan terjadi.

Agama dan rasionalitas harus selaras

Rasionalitas adalah salah satu pembeda antara hewan dan manusia. Adanya rasionalitas akan menimbulkan empati dan kebaikan lainnya.  Orang dapat berempati jika dapat berfikir rasional, karena dengan itu kita dapat berfikir “ jangan melakukan, apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepada kita”.

Setiap manusia diberikan akal oleh sang pencipta. Semua yang diciptakan, memiliki peran dan fungsinya masing-masing termasuk akal. Jika kita sebagai manusia tidak menggunakan akal dalam kehidupan, itu sama saja menghina sang pencipta akal itu sendir karena menciptakan hal yang mubazir. Jangankan akal, cacing saja ada karena dia berguna dalam siklus yang ada di alam ini.

Agama dan akal yang mewakili rasionalitas haruslah berjalan selaras. Jika tidak, agama akan beralih fungsi sebagai sesuatu yang berbahaya dan tidak sesuai dengan hakikat agama sebenarnya. Sebagai contoh, apakah teror dalam nama agama dibenarkan? Jika orang masih waras, tentu saja bilang tidak. Karena pembunuhan terhadap orang tidak bersalah atas nama apapun tidak dapat dibenarkan.

Tidak menggunakan akal, sama saja dengan robot

Sebuah robot tidak perlu memiliki akal yang berfungsi untuk penalaran. Robot dijalankan sesuai dengan program yang telah dibuat untuk mengikuti perintah sang pembuat. Robot melakukan sesuatu sesuai dengan program yang sudah dibenamkan. Berbeda dengan manusia yang diciptakan bukan sebagai robot, tetapi sebagai manusia bebas dengan berbagai pilihan hidup yang akan ditempuh masing-masing.

Sebuah perangkat komputer, diinstal program sesuai dengan kebutuhan si pengguna. Perangkat komputer tesebut hanya menjalankan perintah dengan rumus-rumus bahasa pemograman yang sudah ada. Jadi menjadi wajar jika robot dan sebuah perangkat komputer hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita.

Felix melarang menggunakan akal

Jika orang tidak menggunakan akal dalam kehidupannya, tidak lebih seperti zombie yang tidak memiliki nilai lebih untuk membangun kehidupan menjadi lebih baik.

Entah apa yang ada dipikiran Felix, sehingga dia membenturkan Al-Quran dengan akal. Felix melalui pernyatan di twitter melarang umat muslim menggunakan akal . Menurut saya, ini merupakan pelecehan terhadap Al-Quran, karena secara tidak langsung  minimbulkan persepsi buruk bahwa Al-Quran bertentangan dengan akal. Padahal untuk membaca Alquran juga dibutuhkan akal yang sehat supaya tidak salah.

Tanpa akal, Manusia dapatmenjadi mesin pembunuh dan alat peraih kekuasaan

Jika akal tidak digunakan, doktrin akan mudah dilakukan. Doktrin tidak lebih dari merubah manusia menjadi robot yang diseting untuk keperluan tuannya. Jadi jangan heran, jika ada orang beragama tetapi kelakuannya seperti iblis dengan melakukan bom bunuh diri dan tindakan-tindakan keji atas nama agama.

Manusia tanpa akal  berpotensi dimanfaatkan menjadi  mesin pembunuh yang sadis.Hal itu disebabkan oleh tindakan yang terpusat dengan “ tunggu komando”. Pemujaan sang pemberi doktrin secara otomatis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik kekuasaan. Sebagai contoh, disaat pilkada, orang-orang yang telah didoktrin tidak akan pernah memperdulikan rekam jejak dan kemampuan sang kandidat. Yang dilakukan hanyalah menunggu komando harus milih siapa, koruptorpun tidak akan jadi masalah, jika sang pemimpin sudah memerintahkan untuk memilih.

Tanpa akal, Agama berpotensi menjadi sumber uang yang menggiurkan

Demi uang, manusia rela melakukan berbagai hal, dari cara yang baik hingga buruk. Fenomena pemuka agama instan, pengajar agama instan menjadi momok tersendiri digenerasi yang akan datang.

Para penceramah karbitan dengan ilmu ala tebak-tebak buah manggis sangat marak. Entah mereka belajar dari mana. Tetapi begitu laris manis diundang dengan bayaran yang cukup untuk hidup bermewah-mewah tanpa bekerja keras. Bisa dibayangkan, jika semuanya dengan mudah berprofesi sebagai penceramah, mau jadi apa dunia ini. Yang ada hanya saling mengklaim kebenaran dari sudut pandang masing-masing.

Dengan akal budi yang diberikan sang pencipta, tentu saja kita dapat menyeleksi mana yang baik secara universal, mana yang benar-benar melakukan syiar agama dan mana yang Cuma mencari uang saja.

Ramadhan itu waktunya untuk membuat Dzikir dan pikir selaras, bukan mengalahkan salah satunya. Bagaimana denganmu?

#ArtiRamadhan

Share.

About Author

Pengamat kelas coro yang otaknya dikit, puas loo?.........antonseword.com@gmail.com....

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage