Fitsa Hats: Tren Diksi Syari’ah

Fitsa Hats: Tren Diksi Syari’ah

4

Novel Bamukmin kini makin populer. Setelah gagal menggugat Ahok 204 juta, kini, Novel sukses mempromosikan dirinya sebagai “semacam” Habib seleb. Dengan diksi syari’ah yang ia buat atas Pizza Hut, yakni Fitsa Hats, kini Novel menjadi buah bibir. Masa bodoh dengan mereka yang menertawakan, menghina, mengejek atau menghujat. Dunia seleb perlu itu. Semacam kontroversi gitu. Itu sudah biasa.

Novel Bamukmin siap-siap aja menunggu tawaran endorse dari banyak juragan kuliner. Baik domestik maupun internasional. Baik ownernya mukmin atau kafir. Kok bisa begitu? Lihat saja traffic di google untuk pencarian Pizza Hut atau Fitsa Hats. Google pasti sedang kewalahan, seperti halnya seword.com yang siang tadi kewalahan menghadapi bejibunnya para pengunjung.

Jonru sudah sering endorse segala jenis jualan termasuk kuliner. Bedanya Jonru jualan fitnah dulu baru dapat orderan endorse. Bib Novel kan bisa jualan “diksi syari’ah” agar jualan mereka yang pengen diendorse barokah. Apalagi, diksi syari’ah di negeri ini sudah dianggap sesuatu yang sakral dan punya karomah.

Saya punya banyak teman dari kalangan anak-anak tarbiyah yang partainya “fekaes”. Mereka sedang mempopulerkan diksi-diksi syari’ah dalam pergaulan hidup sehari-hari. Seperti komitmen menggunakan kata panggilan seperti ana-antum. Kadang dislang-in jadi ane-ente. Ngeri-ngeri barokah kalau ngobrol dengan mereka. Saya yang lima tahun belajar Bahasa Arab jadi ngerasa gimana gitu. Haha..

Pernah suatu waktu mereka tanya ana, eh, saya, waktu istri hamil besar. “Zaujah antum sudah lahir?” tanya seorang teman fekaes. Saya jawab dengan Bahasa Indonesia, “Istri saya belum lahir. Masih hamil besar.” Syari’i banget yah obrolan dibuatnya? Saya jadi canggung, sebab kecintaan saya terhadap Bahasa Indonesia begitu besar. Eaaa..

Pernah dalam acara pengajian secamam halaqah gitu. Sang Murabbi menyampaikan ceramah tentang pentingnya Bahasa Arab. Mengapa penting? Karena ada haditsnya. Yang bunyinya kira-kira begini, “Cintailah Bahasa Arab karena tiga: karena aku berbangsa Arab, Alquran berbahasa Arab, bahasa ahli surga adalah Bahasa Arab.” Begitulah bunyi haditsnya.

Ternyata. Sang murabbi tidak bisa Bahasa Arab. Maklumlah, murabbinya bukan jebolan pesantren atau sekolah agama. Saya pun hanya bisa mengangguk-angguk.

Itulah mengapa penggunakan diksi ngArab atau saya sebut sebagai “diksi syari’ah” dijadikan tren dalam kehidupan kelompok garis cinkrang ini. Mereka sepertinya takut kalau-kalau disuruh keluar lagi dari surga kalau tidak bisa Bahasa Arab. Kalau bisa ucap ana-antum kan lumayan. Tapi kan Bahasa Arab bukan sebatas ana-antum?

Ya. Itulah mengapa Bib Novel berfantasi dengan meng-arabisasi sesuatu yang memang bukan Arab. Pizza Hut jadi Fitsa Hats. Mungkin, Kentucky Fried Chicken diarabkan jadi Kantuqi Furid Shikan. Mudah bukan berbahasa Arab formulasi Bib Novel. Mungkin, Novel Bamukmin hanya salah seorang yang mempopulerkan tren ini. Bisa jadi masih banyak di luar sama.

Seorang laskar bertanya, “Antum mau Fergi Kamana?” Dijawab oleh laskar lain, “Ana mau Fergi ka masjid, mau sholat. Antum tidak ikud?” Kira-kira, begitulah dialog yang bakal terjadi nanti. Sungguh sangat syar’i. Jika orang Arab datang ke Petamburan, mereka akan terpukau, kaget, mungkin mau pingsan. Lalu bertanya, “Bahasa Arab jenis apa ini?”

Bisa bahasa Arab itu bagus. Sebab, khazanah Quran lebih enak dikaji jika paham bahasa Arab. Kitab-kitab klasik tafsir, hadits, fikih dan lain sebagainya juga berbahasa Arab. Semua khazanah keislaman kunci pembukanya ada di Bahasa Arab.

Saya salut dengan Kiayi-kiayi top seperti Gus Dur, Gus Mus, Prof. Quraish Shihab, Cak Nur, dan masih banyak lagi. Beliau-beliau sangat faham bahasa Arab tapi tidak lupa dengan tradisi lokal yang ngendonesia banget. Jarang sekali saya lihat beliau-beliau memakai diksi arab apalagi diksi arab ala Novel Bamukmin.

Itulah mengapa Islam yang beliau-beliau gambarkan begitu teduh, adem dan damai. Sebab, wajah nusantara tetap lestari tidak tergerus dengan arabisasi yang amat radikal golongan garis cinkrang ini. Keilmuannya yang mendalam sebab bacaannya kitab kuning yang arabnya gundul-gundul. Beda dengan ustad-ustad seleb dadakan yang titik-titik itu yang bacaannya nyari di google.

Akhirul kalam. Dalami bahasa Arab bukan sekedar tren berbahasa surgawi. Tapi, untuk mendalami khazanah maha luas yang Islam miliki.

Saya rasa, begitulah kura-kura.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage