Gara-Gara Kaos dan Sepeda yang Dibagi-bagi Jokowi, Kaca Mata Fadli Zon Rusak Parah, Ia Butuh Kaca Mata Pembesar

Gara-Gara Kaos dan Sepeda yang Dibagi-bagi Jokowi, Kaca Mata Fadli Zon Rusak Parah, Ia Butuh Kaca Mata Pembesar

30

Fadli Zon (http://www.suratkabar.id/51272/politik/)

Saya senang membaca puisi Fadli Zon yang ditulisnya di Yerevan 3 September 2017. Judulnya “Kaos dan Sepeda”. Dua bait berturut-turut dimulainya dengan pertanyaan “Di mana manakah kesejahteraan dan Ke mana kesejahteraan?”

Saya kira pertanyaan itu sungguh-sungguh. Ternyata hanya sindiran. Ia malah menjawabnya sendiri dengan sinis. Di bit pertama Fadli bilang, di saat ekonomi susah, lapangan pekerjaan makin punah, kesenjangan kaya miskin makin mewabah, sang pemimpin dengan segala kemewahannya malah melempar kaos di jalanan untuk diperebutkan oleh rakyat. Bait ini ditutup dengan pertanyaan penegasan sinisme, “Inikah Jalan menuju kemakmuran?”

Bait kedua, kurang lebih bernada sama. Cuma, yang ditekankan di sini adalah soal utang negara yang makin bertambah sementara daya beli masyarakat makin lemah karena harga kebutuhan pokok yang terus meroket. Keadaan ini menurut Fadli direspons oleh sang pemimpin dengan memberikan hadiah sepeda sebagai hiburan setelah menjawab pertanyaan asal-asalan. Bait ini pun kembali ditutup dengan pertanyaan retorik, “inikah jalan menuju kemakmuran?”

Bait-bait berikutnya merupakan pendalaman dari dua bait sebelumnya.  Menurutnya, apa yang dilakukan oleh pemimpin di negara keempat terbesar di dunia itu (nah, siapa lagi kalau bukan pemimpin Indonesia?) tak punya nilai apa-apa. “ini ironi zaman penuh dagelan yang menjadikan kita bahan lawakan” tulis Fadli.

Ia lalu membayangkan Bung Karno dan Bung Hatta dengan pikiran-pikiran besar dan keteladanan kepemimpinan mereka yang luar biasa dalam membangun negara tanpa membagi-bagi kaos dan sepeda. Dalam benak Fadli, pimpinan yang sekarang seharusnya begitu. Namun, apa yang dilihatnya ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ditampilkan Bung Karno dan Bung Hatta. Tidak heran kalau Fadli menjadi kecewa berat.

Lalu, mengapa saya senang?

Jawabnya banyak. Tapi di sini saya sebutkan dua saja. Pertama, saya kagum kelihaiannya membungkus isi hatinya dengan sinismenya terhadap tindakan dan kebijakan Presiden Jokowi yang kerap membagi-bagikan kaos dan hadiah sepeda setelah menjawab pertanyaan tertentu di saat melakukan kunjungan kerja di daerah. Nama Jokowi memang tidak disebutkan gamblang. Tapi, dengan menyebutkan negara keempat terbesar di dunia, anak SD pun paham bahwa yang dia maksud adalah presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Kedua, puisi adalah refleksi diri atas kenyataan. Tepatnya refleksi Fadli terhadap fakta yang ada di Indonesia kini, pada masa kepemimpinan Jokowi. Bagi Fadli, apa yang ada di Indonesia saat ini semua buruk. Tak lebih dari sebuah dagelan yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai lawakan.

Menyenangkan, karena tanpa saya tanya, Fadli telah mendahului memberikan informasi lengkap kepada saya, dan tentu saja pembaca lainnya, tentang dirinya, kapasitasnya, dan bagaimana ia menilai apa yang ada di depan matanya. Saya sungguh kagum ketulusannya membeberkan refleksinya atas berbagai objek nyata.

Di saat rakyat Papua, Kalimantan, Sumatera, dan daerah-daerah terluar Indonesia merasa sangat bersyukur atas gencarnya pembangunan infrastruktur karena selama 72 tahun merdeka belum pernah mereka rasakan, Fadli menilai itu dagelan. Tidak ada dalam kenyataan alias bohong.

Di saat anggaran perlindungan sosial masyarakat dinaikan dari Rp 75 triliun pada 2014 jadi Rp 215 triliun pada 2017; anggaran pendidikan dinaikkan dari sekitar Rp 300 triliun jadi Rp 447 triliun pada 2017 yang sebagian dibiayai oleh APBN dan sebagiannya lagi berasal dari utang, Fadli menilainya tidak berguna.

Ia sepertinya terus memprovokasi anggapan bahwa utang negara menguap entah ke mana. Inilah yang dibeberkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani ketika bicara blak-blakan soal utang negara pada rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, 4/9/2017.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa selain membangun jalan, bandara, pelabuhan, jutaan masyarakat bisa menikmati kehadiran negara lewat berbagai program penting seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang terus meningkat hingga 91 juta orang, imunisasi anak anak umur 0-11 bulan, Program Keluarga Harapan (PKH), hingga program jaminan kesehatan yang naik 5 kali lipat. Belum lagi program bidik misi untuk 450.000 siswa, Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk puluhan ribu siswa, hingga ribuan sekolah yang dibiayai lewat Bantuan Operasional Sekolah (BOS), jelasnya.

Beliau bilang, utang negara memang meningkat. Hingga Juli 2017, total utang pemerintah pusat mencapai Rp 3.779,98 triliun. Angka itu naik Rp 73,46 triliun dari posisi utang di Juni 2017 sebesar Rp 3.706,52 triliun.

Nah, kenaikan angka itu saja yang disukai oleh mereka yang anti Jokowi, utamanya Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Bagi mereka, kenaikan angka utang merupakan bencana yang akan ditanggung sampai ke anak cucu cicit bangsa Indonesia. Di berbagai kesempatan mereka terus memprovokasi rakyat atas pandangan tersebut. Penggunaan dana dan prestasi pemerintahan Jokowi dalam mengelola dana negara, mereka tidak mau singgung setiap kali berbicara kepada rakyat. Mereka terus berusaha merawat kebencian dengan menularkannya dalam pikiran rakyat.

Padahal, ahlinya sendiri, Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku bendahara Negara Indonesia telah berulang menjelaskan, bahwa yang namanya utang itu merupakan hal yang wajar bagi semua negara. Hampir seluruh negara di dunia memiliki utang, hanya negara-negara kecil yang menjadi surga pajak (tax haven) yang tidak memiliki utang, yang juga dia sebut sebagai negara perjudian.

“Di seluruh dunia, 190 negara, semuanya punya utang. Kecuali 2 negara kecil yang merupakan tax haven yang jadi pusat pejudian, dia enggak punya utang. Tapi semua negara punya utang,” tuturnya dalam acara Workshop Nasional Perempuan Legislatif Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Tapi, bagi Fadli yang lulusan sastra, penjelasan ahli ekonomi tersebut dan prestasi yang dicapai Indonesia, dinilainya bukan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rupa-rupa pembangunan infrastruktur dan program sosial, dianggapnya bukan jalan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Itulah sebabnya ia terus bertanya, “di manakah kesejahteraan?”

Pertanyaan tersebut menegaskan kepada publik bahwa apa yang ada di depan matanya sendiri tidak mampu ia lihat. Kayaknya, kaca mata yang dikenakan Fadli sudah rusak berat, tapi terus dipakai. Ia belum sadar bahwa ia benar-benar butuh kaca mata baru, kaca mata pembesar. Ada yang jual?

Sumber:

Lonjakan Dahsyat Utang Pemerintah

Cara Sederhana Sri Mulyani Jelaskan Soal Utang Negara Rp 3.779 T

Sri Mulyani Tangkis “Serangan” soal Utang Negara

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage