Gara-Gara Mulut Novel, Aa Gym Batal Manggung

Gara-Gara Mulut Novel, Aa Gym Batal Manggung

140

Di sepertiga malam tadi. Sebelum ber-qiyamul lail, saya dikagetkan dengan sebuah berita. Berita ini sungguh mengusik kesunyian sepertiga malam saya. Hingga saat mengambil air wudhu sekalipun. Saya berpikir bahwa perjuangan teman-teman penulis seword.com baik melalui tulisan, obrolan bahkan doa yang tersembunyi di pekatnya malam, ternyata berbuah hasil.

Setelah beredar secara luas sebuah poster akan ada tabligh akbar di Pulau Pramuka, TKP kasus dugaan penistaan agama Ahok, ini menjadi topik pembicaraan di kalangan penulis seword. Tabligh akbar ini diadakan setelah Novel Bamukmin membuat kesaksian di sidang Ahok. Katanya, ia sempat menerima banyak telpon dari Pulau Seribu bahwa ada kasus penistaan agama oleh Ahok. Jadi, kita sudah tahu kemana arah tabligh akbar ini.

Para penulis seword telah menaikkan beberapa tulisan terkait ini. Saya pun sempat menulis tentang ini, meski lebih banyak berbicara soal Aa Gym. Ini kekhawatiran kami jangan-jangan melalui tabligh akbar ini, orang-orang di Kepulauan Seribu dapat dipengaruhi bahwa memang ada penistaan agama disana. Padahal, mereka tidak pernah mengikuti aksi bela islam. Mereka kan yang menyaksikan langsung ceramah Ahok, tapi mengapa bukan mereka yang melaporkan?

Karena itulah, Novel Bamukmin mengatakan bahwa orang Pulau Seribu imannya kurang dan Islamnya beda. Tidak aneh sih kalau kaum berdaster garis cingkrang bilang begini. Sebab, mereka akan menghantam siapapun yang tak sependapat atau tak mau mengikuti seruan mereka.

Ternyata, kata-kata Novel Bamukmin ini tidak dianggap biasa oleh warga Kepulauan Seribu. Mereka menanggapinya secara serius. Seorang warga Pulau Pramuka, namanya Linda, mengatakan kepada media, “Kita marah juga kalau dibilang seperti itu. Kenapa dia enggak ke sini ngomong begitu. Ya marah juga lah kita memang dia tahu kita di sini Islamnya bagaimana!”

Tidak hanya Linda, seorang warga bernama Marudin Boko juga merasa tersinggung atas pernyataan Novel. Katanya, “Memang Islam saya belom dalam. Kalau keseluruhan pulau memang benar dikatakan awam tersinggunglah kita. Dia juga belum tentu bener.”

Ini kesalahan yang amat fatal yang telah dilakukan Novel. Di satu sisi, ia mengatakan banyak warga yang menelponnya, tapi di sisi lain, ia mencap warga yang melapor itu kurang beriman, gara-gara tidak ikut aksi bela islam. Dari kesaksian Novel kita mudah sekali menyimpulkan bahwa ia telah memberikan kesaksian palsu.

Dan Novel harus membayar perilakunya yang merendahkan iman sekelompok orang. Lidahnya tak bisa dijaga. Lidahnya telah menyayat habis simpati warga Kepulauan Seribu. Hingga akhirnya, warga Kepulauan Seribu, diwakili oleh Abdullah bin Saidah, Ketua Kelompok Nelayan Pulau Pramuka, meminta agar tabligh akbar yang menghadirkan Aa Gym ditunda. Ditunda hingga Pilkada selesai.

Abdullah mencium aroma politik di balik tabligh akbar tersebut. Apalagi, penyelenggara tabligh akbar ini terafiliasi dengan masa anti calon tertentu. Ia berujar, “Warga Pulau sudah tenteram dan jangan diganggu lagi. Seperti kemarin, kami dinyatakan oleh saksi Novel Bamukmin bahwa kami kurang iman, itu terlalu menyakitkan. Dan sekarang kami sudah bisa mengendalikan diri. Jangan dibikin panas lagi.”

Ia tidak mau dengan adanya tabligh akbar ini memunculkan perselisihan di antara masyarakat karena berbeda pilihan. Mereka sudah sejak lama hidup tenteram. Kehadiran tabligh akbar hanya akan mengganggu ketenteraman hidup yang telah lama mereka bangun.

Kekhawatiran Abdullah juga warga Pulau Pramuka lainnya sangatlah beralasan. Pertama, momen tabligh akbar ini diadakan setelah munculnya kesaksian Novel yang bawa-bawa warga Kepulauan Seribu. Kedua, warga Kepulauan Seribu disebut imannya kurang karena tidak ikut aksi bela Islam. Ketiga, di sidang selanjutnya, warga di Kepulauan Seribu akan dimintai kesaksian tentang kasus dugaan penistaan agama ini.

Kita sudah tahu ini arahnya kemana. Agak-agaknya, warga akan dibuat percaya bahwa penistaan agama telah terjadi. Lalu, dipakailah Al-Maidah ayat 51 untuk mengkampanyekan haram pemimpin non muslim. Ujung-ujungnya, warga akan memberi kesaksian sesuai harapan spirit 212, minimal. Maksimalnya, warga tidak akan memilih Ahok, karena ia non muslim dan penista.

Sayang. Harapan itu harus pupus bersamaan dengan angin darat yang menghembus di pagi hari. Ia membawa semilir hangatnya sang fajar yang mulai mengintip di kejauhan. Memberikan harapan baru bahwa hari ini pasti lebih baik dari kemarin. Hari ini akan bermunculan peristiwa-peristiwa luar biasa, kerja tangan Tuhan di saat kita terlelap dalam lelahnya ikhtiar.

Aa Gym batal manggung. Atas penolakan yang amat halus (ditunda dulu acaranya) warga Kepulauan Seribu. Belum lagi Kabid Humas Polda Metro Jaya Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan bahwa acara tersebut belum berizin. Seharusnya, tiga hari sebelumnya sudah memohon izin. Tapi, hingga minggu kemarin izin tak pernah disampaikan.

Itu sebenarnya peringatan untuk Aa Gym dari Tuhan, “Ngurusin Jakarta wae kamu Gym. Emang di Jabar gak ada masalah?”

Ra(i)sa-Ra(i)sanya begitulah.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage