GNPF MUI Mendukung Jokowi, Bagaimana Ceritanya?

GNPF MUI Mendukung Jokowi, Bagaimana Ceritanya?

3

Ilustrasi

Kompas.com memberitakan, pada siang hari tanggal 25 Juni 2017, ada pertemuan GNPF MUI dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka. Ini tak direncanakan sebelumnya. Tiba-tiba. Mensesneg Pratikno mengatakan, acara itu mendadak. Itu digagas oleh GNPF-MUI.

Menurut Pratikno, hal tersebut dimungkinkan karena di Hari Raya Idul Fitri itu, Presiden Jokowi mengadakan open house. Pada saat itu, Presiden Jokowi menerima siapa saja yang datang, termasuk orang-orang GNPF-MUI itu, ujar Pratikno.

Pertemuan tersebut tentu saja mengagetkan. Bukan saja karena tidak direncanakan sebagaimana biasa bila ada pertemuan penting dengan Presiden Jokowi. Apalagi pertemuan ini dilakukan oleh orang-orang yang menamakan dirinya seperti sebuah organisasi formal, dan yang selama ini sangat tidak suka dengan Jokowi. Hal itu mengagetkan karena usai pertemuan yang 20 menit itu muncul berita menarik dengan judul “Istana Klaim GNPF-MUI Mendukung Kebijakan Jokowi”.

Dari GNPF MUI dihadiri oleh Bachtiar Nasir (BN) dan Zaitun Rasmin. Sementara dari pihak Istana dihadiri oleh Presiden Jokowi sendiri didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto.

Ada apa dengan Bachtiar Nasir?

Pertanyaannya, ada apa dengan BN? Mengapa tiba-tiba ia menjadi ramah terhadap Jokowi? Kondisi apa yang membuatnya berubah 180 derajat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya?

Pertanyaan ini muncul karena sikap BN terhadap Jokowi selama ini sama sekali tidak bersahabat. Terlebih-lebih sejak dan selama kasus Ahok yang dituduh menodai agama Islam dan ulama. Dalam berbagai ceramahnya, yang sudah tersebar di youtube, sikap asli BN kepada Jokowi dapat diketahui. Yang nadanya merendahkan dan melecehkan ada, yang menuduh macam-macam hal negatif juga banyak.

Salah satunya yang barangkali masih hangat dalam ingatan adalah respons BN ketika Jokowi menjadi Capres tahun 2014. Saat itu BN dengan sinis bilang Jokowi memang hebat. “Di Solo mewariskan pemimpin KAFIR, di Jakarta juga mewariskan pemimpin KAFIR. Selangkah lagi akan KAFIR kan Indonesia,” kilahnya. DIa bahkan berani bilang “Selangkah lagi Jokowi membuat Indoneisa kafir.” (voa-islam.com)

Dikatakannya, Jokowi yang sekarang dielu-elukan itu, sejatinya hanya membuat musibah, bagi Muslim Indonesia, bukan membuat kehidupan menjadi lebih tenang. Tetapi, kalangan Muslim banyak yang menjadi korban media, yang memang sudah disetting membuat berpikirnya kalangan Muslim, berubah dan terbalik. Mereka percaya bahwa Jokowi itu, manusia suci, dan sangat ‘mumpuni’, dan akan membebaskan Indonesia dari berbagai belitan masalah.(Voa-islam.com)

Tetapi yang lebih bahaya adalah ceramah bernada provokatif yang menyemangati anak-anak muda yang hadir pada ceramah-ceramahnya  di mesjid agar memusuhi pemerintah Indonesia. Sampai-sampai ada pengambilan sumpah anak-anak muda itu agar berani berhadapan dengan TNI dan Polri guna merebut negara RI (entah dari siapa dan untuk kepentingan apa. Sangat mencurigakan).

Dari situ tampak bahwa apa yang dilakukan BN tidak bisa dianggap sekedar protes atau kritik kepada Jokowi atau pemerintah. Dengan mengambil sumpah anak-anak muda agar berani berhadapan dengan TNI maupun Polri, diakui atau tidak, BN memiliki agenda terhadap negara ini, paling tidak terhadap Jokowi, yang tentu saja tidak sejalan dengan apa yang diupayakan Jokowi maupun pemerintah berdasarkan hukum nasional.

Tampaknya, agenda tersebut tersimpul dalam pernyataannya yang mengatakan bahwa ”Berislam sampai MATI, MATI bersama Islam, Ini harga MATI.”(Voa-islam.com). Dikaitkan dengan pernyataannya sebelumnya, tampak bahwa BN tengah mengusahakan terbentuknya sebuah Indonesia dengan ukuran satu-satunya adalah Islam yang dia pahami.

GNPF-MUI Mau apa?

Pertanyaan berikutnya, apa posisi GNPF-MUI terhadap Presiden Jokowi atau pemerintah Indonesia sehingga minta bertemu dengan Presiden Jokowi sekedar menyatakan dukungan? Bukankah sikap mendukung pemerintah merupakan kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia yang tak harus dinyatakan dengan mendatangi presiden secara langsung?

Ada beberapa dugaan mengapa hal itu dilakukan BN. Pertama, menciptakan image bahwa GNPF-MUI adalah lembaga resmi yang perlu diakui. Bagi BN, pengakuan itu sangat perlu. Terutama untuk menunjukkan kepada Ketua MUI, Ma’ruf Amin bahwa mereka masih exist.

Bagi BN hal ini sangat penting. Ia sangat berharap agar dengan pertemuan itu, publik beranggapan bahwa GNPF-MUI merupakan perkumpulan yang diakui oleh Jokowi. BN tentu berpikir bahwa dengan adanya Jokowi di belakang GNPF-MUI, maka sikap keras Ma’ruf Amien tidak serta merta menghempaskan GNPF-MUI.

Pasalnya, dalam diskusi bertajuk “Fatwa MUI & Hukum Positif” di PTIK, Jakarta Selatan pada Januari 2017, Ma’ruf Amin memang sempat keras terhadap GNPF-MUI dengan mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya (MUI) tidak ada hubungannya dengan GNPF. Organisasi itu, adalah buatan masyarakat sendiri dengan kegiatan yang mereka buat sendiri tanpa ada kaitannya dengan MUI, tegasnya (merdeka.com).

Inilah yang tidak banyak diketahui publik. Publik mengira bahwa GNPF-MUI adalah organisasi buatan MUI yang diberi tugas mengawal pelaksanaan fatwa. Ternyata anggapan itu keliru. Itu hanya akal-akalan Bachtiar Nasir, Rizieq Shihab, Amien Rais, AA Gym, Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan kawan-kawannya untuk menggerakkan massa dalam demo serial sejak Oktober 2016 untuk menjegal Ahok pada Pilkada 2017..

Ini artinya bahwa GNPF-MUI tidak memiliki landasan hukum. GNPF MUI tak ubahnya perkumpulan kongkow-kongkow atau organisasi tanpa bentuk yang membonceng popularitas MUI untuk mencapai tujuan mereka sendiri yang bisa sangat tidak sejalan dengan tujuan MUI seperti disinyalir oleh Kapolri, Tito Karnavian.

Menurut Tito, dalam masyarakat masih ada kelompok tertentu yang memanfaatkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI untuk memecah belah kerukunan bangsa dan negara. Salah satu di antaranya ialah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) dengan pembina, salah satunya, adalah Rizieq Shihab. (merdeka.com)

Kedua, BN mendekati jokowi untuk mencari perlindungan atas kasus yang membelitnya terkait dengan pencucian uang Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS). Dalam kasus ini, orang dekat BN bernama Islahudin Akbar sudah ditetapkan menjadi tersangka karena melakukan pencairan uang YKUS yang diduga antara lain membiayai demo 411, 212 sebagaimana dijelaskan BN (Kompas.com).

Yang membuat BN ketar-ketir adalah dugaan pengiriman uang yang dilakukannya ke Suriah, kepada kelompok yang disebut-sebut sebagai pendukung ISIS. Kendati penyelidikan atas aliran dana itu terkesan dihentikan polisi, namun BN belum merasa terbebaskan dari dugaan tindak pidana pencucian uang, apalagi bila dikaitkan dengan dugaan mendukung  ISIS.

Kalau keadaannya begitu, lalu apakah yang bisa diharapkan dari GNPF-MUI? Apakah benar GNPF-MUI hendak mendukung pemerintahan Jokowi? Mendukung apa dan bagaimana? Itulah pertanyaannya kura-kura!

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage