Heboh Halal-Haram Samyang Mie Pedas Asal Korea

Heboh Halal-Haram Samyang Mie Pedas Asal Korea

8

Beberapa hari ini heboh dengan berita Mie asal Korea Selatan yang sangat hits yakni Samyang mengandung babi. Saya sebagai salah satu konsumen setia yang sudah berhenti makan mie instan lain, tapi tetap hanya makan Samyang awalnya sempat kaget. Isu halal haram Samyang ini sudah ramai sejak penjualan Samyang belum semudah sekarang. Saat itu Samyang hanya bisa didapat lewat online shop (dan cepat sekali habisnya!) serta supermarket yang menjual makanan impor. Harganya pun menjadi sangat mahal, bahkan ada yang menjualnya 25 ribu per bungkus.

Demam samyang memang meracuni banyak masyarakat seiring popularitas drama Korea dan hal-hal berbau Korea lainnya di Indonesia. Berawal dari ngiler melihat tokoh di drama memakan mie Korea dan juga travel vlogger ataupun Korea enthusiast yang sering mengunggah Samyang Challenge di Youtube. Sampai akhirnya sekarang samyang dengan mudah bisa ditemukan di swalayan dekat rumah dan harganya pun stabil di kisaran 16-17 ribu per bungkus.

Samyang yang banyak beredar di supermarket dekat rumah kita adalah Samyang hitam. Itu rasanya ayam pedas. Saat saya membaca berita itu saya sempat bertanya apakah ini akan termasuk yang kata BPOM mengandung babi? Ternyata, tidak! Jadi mie yang ditemukan BPOM mengandung babi adalah Samyang U-Dong dan Samyang rasa Kimchi. Serta dua mie lain yakni Nongshim Shim Ramyun Black dan Ottogi Yeul Ramen.

Dari lembaga pemberi sertifikat halal Korea Selatan sendiri ada 14 produk dari brand Samyang yang sudah mendapat sertifikat halal yakni Samyang Ramen, Kimchi Ramen, Yukgaejang, Sootamyeon, Hot Chicken Stir-Fried Noodles, Big cup Hot Chicken Stir-Fried Noodles, dan Cup Hot Chicken Stir-Fried Noodle. Nah Hot-Chicken Stir Fried Noodle itulah yang banyak dijual di swalayan dengan bungkus hitam menggodanya itu.

Pabrik Samyang di Korea Selatan sendiri ada dua yakni di Iksan dan Wonju. Pabrik di Wonju ini telah mendapatkan sertifikat halal dan memproduksi 30 jenis ramen dan enam makanan ringan. Sementara pabrik di Iksan hanya memproduksi 13 jenis ramen dan hanya memiliki sertifikat HACCP, sebuah sertifikasi internasional dalam industri makanan dan minuman untuk mengidentifikasi risiko keamanan pangan.

Nah dari heboh-heboh Samyang ini saya menemukan beberapa fenomena menarik. Salah satunya adalah ternyata literasi masyarakat kita masih sangat rendah dan akhirnya membuat mereka sangat reaktif. Kemungkinan besar hanya membaca headline berita tapi tidak membaca isinya. Dan kemudian mereka heboh share atau berkomentar termasuk di akun-akun gosip Instagram, tapi nggak tahu sebetulnya varian mana yang disebut BPOM mengandung babi.

Pers dan masyarakat kemudian entah karena ingin clickbait atau juga karena literasi yang rendah tadi kemudian menyebarkan berita juga menggunakan foto yang makin memancing kontroversi ketimbang klarifikasi. Yang dijadikan cover atau headline adalah foto samyang hitam yang sejauh ini ada tanda halal dan tidak termasuk daftar BPOM. Ini membuat masyarakat kita yang sudah pola pikirnya malas membaca dan mencari tahu lebih lanjut malah makin terjerumus ke dalam informasi yang salah.

Tentu pola seperti ini merugikan banyak pihak mulai produsen, distributor, toko penjual, hingga masyarakat lain sebagai konsumen. Sebetulnya ada banyak kejanggalan dari kasus ini. Saya tidak akan membicarakan soal aspek hukum karena tentu ada yang lebih ahli dan kompeten menjelaskannya. Tapi menghentikan peredaran dan mencabut ijin?

Pertanyaan saya adalah kalau masalahnya hanya sekedar karena mengandung babi apakah perlu sampai harus ditarik peredarannya atau dicabut ijin importnya? Cukup beri peringatan, pengumuman, dan arahan agar menempelkan stiker ‘mengandung babi’ misalnya. Dari situ saja konsumen yang nggak mau membeli bisa mendapat informasi. Di swalayan pun bisa diberikan tag “produk non-halal’ atau diletakkan jadi satu rak khusus untuk produk yang mengandung babi. Sambil tentunya tetap dipantau apakah mereka sudah memberikan informasi yang tepat ke konsumen atau tidak. Menurut saya itu cukup. Apalagi masalahnya bukan karena produk ini mengandung zat beracun atau berbahaya. Kalau distributor dan toko sudah memberi peringatan ke konsumen, sisanya ya kembalikan ke konsumen mau tetap membeli atau tidak. Toh tidak semua konsumen adalah Muslim atau ambil pusing dengan masalah ini.

Ini sebetulnya hampir sama dengan bagaimana kita memilih restaurant masakan Cina, Jepang, atau Korea untuk makan. Mau aman ya cari yang sudah ada label halalnya, kalau ada yang menyiapkan menu dengan komposisi mengandung babi kembalikan saja ke konsumen kamu mau tetap makan atau tidak. Bukan dengan menutup tempat makannya. Tapi tempat makan dan pelayan di situ juga harus jujur misalnya menjelaskan dulu ke pengunjung, menempel tulisan ada menu mengandung babi, atau menjelaskan proses memasaknya apakah dengan alat masak yang sama atau dibedakan antara menu babi dan menu lainnya.

Baca Juga :

#ArtiRamadhan :

 “satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke).

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage