Hikmah dari Aksi Unjuk Rasa Mikrolet di Kota Malang

Hikmah dari Aksi Unjuk Rasa Mikrolet di Kota Malang

7

Hari-hari ini, pemberitaan di media tidak lepas dari kehebohan aksi unjuk rasa. Kali ini bukan berupa “aksi bela-belaan” seperti yang sudah-sudah. Melainkan aksi protes yang dilakukan oleh segenap pengemudi transportasi umum. Khususnya pelaku transportasi yang bersifat konvensional.

Bukan cuma Tangerang, Bandung, atau Bogor saja yang heboh. Di sebuah kota yang cukup jauh dari ibukota Jakarta, sempat pula terjadi aksi demonstrasi yang dilakukan oleh pelaku transportasi umum. Ya, kota tersebut adalah Malang, Jawa Timur. Bahkan, aksi unjuk rasa yang dilancarkan oleh segenap pengemudi mikrolet (angkutan kota) di kota Malang sudah berlangsung sejak Februari lalu.

Aksi mogok mikrolet di kota Malang. Source: dokumentasi pribadi

Kukira, semua sudah begitu familiar dengan Gojek, Grab, Uber, atau merek-merek lainnya. Mereka adalah contoh aplikasi transportasi berbasis online. Kehadiran layanan transportasi ini, tentu disambut dengan sukacita oleh masyarakat. Sederhananya, masyarakat mempunyai satu alternatif baru, sebagai pilihan dalam bertransportasi.

Sebagai konsumen, setiap orang pasti memiliki kebutuhannya masing-masing. Ada yang merasa nyaman dengan transportasi publik yang telah tersedia. Ada pula yang kurang sreg. Nah…, para konsumen yang kurang sreg inilah, yang melatarbelakangi lahirnya jasa semacam Gojek dan Uber tersebut. Bagaimana menghadirkan sebuah moda transportasi yang lebih private. Lebih cepat. Lebih praktis dijangkau. Dan lebih nyaman untuk dirasakan.

Bagaimana tidak nyaman…? Hanya dengan memencet beberapa tombol, kita sudah bisa memesan layanan Gojek. Tidak berapa lama, mas-mas Gojek itu sudah nyamperin di depan rumah, atau dimana pun titik kita berada. Lalu tanpa ba bi bu lagi, mas Gojek sudah membonceng kita, dan siap mengantarkan sampai ke tujuan yang diinginkan. Harga jasanya pun cukup terjangkau. Walaupun masalah harga sifatnya relatif bagi setiap orang.

Tetapi romantisme yang dialami moda transportasi online ini tak bertahan lama. Sebagai “kakak tertua”, pelaku transportasi konvensional sudah tentu melontarkan resistensi. Karena bagi mereka, keberadaan moda transportasi online nyata-nyata mengurangi jumlah penumpang yang bisa mereka peroleh. Dan berimbas pada pendapatan yang menjadi berkurang.

Seperti yang terjadi di kota Malang. Kemunculan moda transportasi online seperti Gojek dan Grab, memantik kegerahan bagi pelaku transportasi konvensional. Merasa pemerintah kota (pemda) abai dengan nasibnya, aksi unjuk rasa pun menjadi satu pilihan terakhir. Satu upaya agar aspirasi para pengemudi mikrolet dan taksi konvensional, bisa lebih didengarkan dan diperhatikan oleh para pemangku kebijakan publik.

Aksi demonstrasi yang dilakukan pengemudi mikrolet dan taksi konvensional, dimulai sejak Senin, 20 Februari 2017 lalu. Aksi ini berupa pemogokan masal kedua moda transportasi tersebut. Bisa ditebak, pemogokan ini berdampak serius. Ya, tidak semua masyarakat mempunyai kendaraan pribadi yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Akhirnya, banyak penumpang yang terkatung-katung di pinggir-pinggir jalan. Termasuk anak-anak sekolah. Kleleran, karena tidak ada mikrolet yang bisa ditumpangi.

Aksi unjuk rasa kembali terjadi di hari Senin, 27 Februari 2017. Namun untuk kali ini skalanya mengecil. Karena pemda melakukan upaya mediasi. Mediasi antara organda, perwakilan pengemudi transportasi konvensional, dan paguyuban pelaku transportasi online. Namun mediasi itu tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan. Sehingga aksi unjuk rasa kembali dilancarkan pada Senin, 6 Maret 2017 kemarin.

Aksi pemogokan masal ini seolah mencapai klimaksnya. Jika biasanya aksi mogok hanya berlangsung satu hari, namun aksi yang dimulai pada 6 Maret ini berlanjut ke hari-hari berikutnya. Bisa dibayangkan, betapa lumpuhnya transportasi publik yang ada di kota Malang. Hal ini diperparah dengan mandegnya transportasi online. Karena para pelaku transportasi online ikut berhenti beroperasi. Takut terkena sweeping dari para sopir mikrolet. Tetapi alhamdulillah. Aksi pemogokan ini berakhir pada Kamis, 9 Maret kemarin. Ada kesepakatan yang telah terjadi antarpelaku moda transportasi umum yang ada di kota Malang.

Sebagai warga, tentu aku turut merasakan polemik yang terjadi antarpelaku transportasi publik tersebut. Namun ada beberapa hal, yang berhasil aku amati. Perihal lumpuhnya transportasi umum yang ada di kota Malang ini. Diantaranya adalah:

 

  1. Jalan-jalan di kota Malang berkurang kemacetannya

Ya, karena mikrolet-mikrolet tidak beroperasi, menyebabkan penurunan volume kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Di linimasa twitter, kubaca beberapa reaksi dari sesama warga kota Malang. Mereka merasakan perubahan, kala melalui jalanan kota Malang. Terasa lebih lempeng, karena tidak ada mikrolet yang nyetem sembarangan di pinggir-pinggir jalan.

  1. Orangtua yang lebih peduli kepada anaknya yang bersekolah

Tidak tersedianya mikrolet, membuat para orangtua harus turun tangan sendiri mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Ya, ini jadi semacam imbas positif dari aksi mogok mikrolet. Harapannya, hubungan antara orangtua dan anak akan kembali dekat. Lantaran anak diantar jemput oleh orangtuanya masing-masing.

  1. Munculnya aksi solidaritas sesama warga kota Malang

Aksi solidaritas ini diantaranya dilakukan oleh komunitas Aremania. Aremania tidak hanya jago dalam memenuhi tribun stadion kala klub Arema bertanding. Tetapi melalui #nebengmalang yang mengudara melalui medsos, aksi ini terasa begitu nyata. Jadi, selama mikrolet mogok beroperasi, ada banyak warga yang dengan ikhlas memberikan tumpangan kepada warga lainnya. Tentunya tumpangan ini sesuai dengan rute yang dilalui oleh masing-masing nebengers yang menyediakan tumpangan.

Aremania. Source: ongisnade.co.id

  1. Munculnya beberapa pedagang kaki lima baru

PKL baru yang kutemukan ini sebenarnya tidak banyak. Cuma beberapa. Mereka adalah sebagian kecil dari para sopir mikrolet yang tidak beroperasi. Bagi mereka mungkin menjadi dilema. Kalau tetap mengangkut penumpang, mereka bisa dicap tidak tepa selira dengan sopir lainnya yang sedang melancarkan aksi mogok. Namun kalau tidak mengangkut penumpang, darimana penghasilan didapat…? Akhirnya ada diantara mereka yang “menyulap” mobil mikroletnya menjadi warung-warung PKL di pinggir jalan. Bersama istri, mereka menjual nasi pecel dan masakan lainnya untuk tetap membuat dapur “mengepul”.

  1. Munculnya ojek oportunis dengan tarif luar biasa

Kalau yang ini tidak pantas untuk ditiru. Mandegnya mikrolet dan taksi konvensional, dipandang sebagai peluang emas bagi sejumlah orang. Mereka mengambil kesempatan untuk menjadi ojek gelap, dengan harga yang nauzubillah. Sungguh pantas jika menyebut mereka oportunis. Karena memanfaatkan kondisi terjepit yang dialami banyak warga. Fakta ini kutemukan dari cuitan-cuitan sesama warga kota Malang di linimasa medsos.

 

Kecuali ojek yang kulabeli sebagai oportunis, hal-hal yang aku sampaikan diatas seakan menjadi hikmah yang muncul, ditengah keriuhan aksi mogok transportasi konvensional. Hikmah-hikmah yang nyata dirasakan oleh segenap warga kota Malang. Betapa mogoknya mikrolet sanggup merekatkan hubungan antara orangtua dan anak-anaknya. Termasuk mengasah sifat solider yang dimiliki oleh warga kota, terhadap warga lainnya. Bahwa meskipun kehidupan sudah amat modern, tetapi nilai-nilai seperti solider dan tepa selira haruslah tetap dijunjung. Nilai-nilai warisan nenek moyang yang begitu luhur.

Momen aksi mogok kemarin, harusnya bisa menjadi saat yang tepat buat pihak transportasi konvensional. Momen untuk introspeksi, dan memperbaiki pelayanan. Termasuk etika dan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat di benak konsumen. Pelayanan memuaskan yang disediakan oleh transportasi online, seyogianya bisa menjadi cambuk bagi pelaku transportasi konvensional, untuk bisa memberikan pelayanan yang serupa. Minimal ketertiban terkait ongkos konsumen, dan etika di jalan raya.

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage