Inilah Cara FPI Merawat Kebhinekaan yang Dipertahankan Anies Baswedan

Inilah Cara FPI Merawat Kebhinekaan yang Dipertahankan Anies Baswedan

16

Anies Baswedan dan Ketua Tanfidzi DPD Front Pembela Islam DKI Jakarta, Abdul Majid (https://www.cnnindonesia.com)

Optimisme Anies Baswedan (Anies) terhadap Front Pembela Islam (FPI) masih terawat baik. Ia masih menempatkan FPI pada posisi sangat strategis dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Ada dua pokok bahasan Anies untuk melukiskan hal itu. Pertama, FPI harus hadir untuk perawat kebhinekaan, dan kedua FPI siap menghadirkan keadilan bagi Indonesia.

Kedua hal itu merupakan inti sambutan Anies pada acara Milad ke-19 FPI di Stadion Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, tanggal 19 Agustus 2017. Pertanyaannya, apa yang dimaksudkan Anies dengan “harus hadir” dan “siap menghadirkan” dalam kedua topik itu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita pahami lebih dahulu pengertian hadir. Hadir tidak sama dengan ada. Bedanya terletak pada unsur keaktifan subyek terhadap situasi sekitar atau yang melingkupinya. Seseorang yang ada pada satu situasi tertentu belum tentu hadir. Secara fisik bisa saja ada, tetapi apabila ia tidak terlibat atau melibatkan diri terhadap situasi tersebut, maka ia tidak hadir. Inilah yang  kerap disebut cuek, tidak peduli, apatis terhadap sekitarnya.

Lain halnya dengan hadir. Seseorang yang hadir, pasti sekaligus ada. Ia terlibat langsung dan aktif membangun situasi sekitar atau yang melingkupinya. Inilah yang biasa dipahami dengan istilah berpartisipasi. Untuk individu tertentu partisipasi ini bisa berbentuk penentu, pengambil keputusan, terhadap situasi itu.

Tampaknya itulah konteks yang dipakai Anies terhadap FPI dan masyarakat Indonesia. Anies menghendaki agar FPI tidak sekedar ada, tetapi harus hadir di Indonesia.

Memertahankan FPI

Itu artinya, FPI tidak boleh bernasib sama dengan HTI. FPI harus dipertahankan. Sikap ini mirip dengan sikap Mendagri, Gamawan Fauzi, di era Presiden SBY. Menjelang akhir masa jabatannya, Gamawan pernah menghimbau kepala daerah agar menjalin kerja sama dengan FPI dalam pembangunan daerah. Cuma, himbauan ini tak ada yang meresponsnya secara formal, entah secara informal.

Mengapa ide itu dimunculkan kembali? Tentu ada kaitannya dengan pandangan Anies terhadap sepak terjang FPI. Anies menilai bahwa apa yang dikerjakan FPI selama 19 tahun sejak berdiri sudah tepat. Hal ini bisa diketahui pada pernyataan Anies berikut ini.

“Dalam kesempatan ini, saya ingin menegaskan kepada semua apa yang pernah kita sampaikan saat halalbihalal FPI DKI, ke depan FPI harus terus membuktikan bahwa inilah salah satu penjaga kebinekaan Indonesia. Harus hadir bukan mengancam, harus hadir justru merawat kebinekaan,” kata Anies (detiknews).

Lebih lanjut ia mengatakan, “Ini adalah komitmen yang sudah saya katakan berkali-kali. Mari kita tunjukkan ke mata dunia bahwa 19 tahun perjalanan kemarin dan tahun-tahun ke depan menjadi tahun-tahun di mana masyarakat Indonesia merasakan kehadiran FPI sebagai penjaga kebinekaan,” tegasnya (detiknews).

Sikap Gubernur DKI terpilih itu, tentu saja membuat masyarakat terkaget-kaget, bahkan mungkin ada yang merinding. Pasalnya, sejak ia didirikan pada tahun 1998, FPI hampir selalu tampil sebagai polisi moral, jaksa sekaligus hakim iman, bahkan menjadikan dirinya polisi-jaksa-hakim dunia dan akhirat yang mengadili sendiri siapa saja yang dinilainya tidak sejalan dengan ideologinya.

Benar bahwa FPI memiliki kegiatan positif, beramal, menjadi relawan untuk menolong masyarakat di beberapa lokasi bencana alam. Namun, hal positif itu menjadi kehilangan arti karena terus ditindih oleh kekerasan demi kekerasan yang dilakukannya terhadap sesama warga negara.

Sebutlah misalnya pembakaran rumah ibadah, mengobrak-abrik warung makan di bulan Ramadhan atau warung penjual miras, memaki-maki atau menganiaya orang yang tak sepaham dengan mereka. Juga demo yang terus berulang setiap tahun dengan berbagai tuntutan kepada banyak pihak sejak berdiri, justru membuat FPI menjadi momok yang sangat menakutkan di republik ini.

Perhatikanlah misalnya tuntutannya agar MPR mencabut Pancasila sebagai asas tunggal, atau mengembalikan Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta, atau tuntutan pemberlakuan syariat Islam di Indonesia yang mereka gaungkan sejak 1998. Singkatnya, misi dan tuntutannya selama 19 tahun hadir nyaris selalu berwujud demo dan praktek kekerasan setiap tahun. Kalau mau data lengkap dan rinci silakan baca daftar aksi FPI di berbagai daerah di Indonesia yang tersebar di berbagai media atau di wikipedia.

Inikah yang dimaksudkan Anies merawat kebhinekaan? Ini pulakah yang dia harapkan perlu dirasakan bangsa Indonesia ke depan untuk ditunjukkan di mata dunia?

Posisi Anies terhadap FPI

Seraya menunggu jawaban Anies, marilah kita lihat pokok bahasan kedua. Dikatakannya, salah satu cara yang harus dilakukan untuk menjaga kebinekaan adalah menghadirkan keadilan.

Menurut Anies, keadilan tersebut merupakan fondasi persatuan. Oleh sebab itu harus dihadirkan oleh FPI. Pasalnya, selama ini negara kita terlalu fokus pada persatuan tanpa disertai keadilan. Inilah yang menyebabkan timbulnya konflik. Bukan cuma di negara kita, tetapi di berbagai negara di dunia, jelas Anies.

Pertanyaannya bagaimana cara FPI menghadirkan keadilan tersebut? Kekuatan dan kekuasaan apa yang dimilikinya serta apa dasar hukumnya? Apakah FPI memiliki sumber daya manusia yang melebihi apa yang dimiliki oleh partai-partai politik maupun Organisasi keagamaan formal seperti NU, Muhammadiyah, KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia), WALUBI (Perwakilan Umat Budha di Indonesia), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), dan lainnya?

Rasanya sulit menyejajarkan para tokoh FPI dengan tokoh-tokoh politik nasionalis maupun tokoh dalam organisasi formal keagamaan tersebut. Sebab apa yang kerap dipertontonkan oleh para pemimpin FPI lebih banyak yang sifatnya menghasut dan menyebar permusuhan, kebencian, ketimbang memupuk persaudaraan, persatuan sesama anak bangsa. Di situlah letak kekuatan dan kekuasaan FPI. Dasar hukumnya, tidak ada dalam hukum positip, tetapi buatannya sendiri sesuka hatinya.

Mau tidak mau, publik menjadi was-was terhadap Anies. Yang muncul dalam benak publik justru segala rupa kekerasan yang dilakukan FPI selama 19 tahun.

Jika itu yang dimaksudkan Anies sebagai upaya FPI menghadirkan keadilan, bangsa kita perlu bersiap-siap pasang kuda-kuda. Rentetan kejadian mengerikan, yang justru dianggap cara menghadirkan keadilan oleh Anies bisa saja muncul di berbagai tempat secara bersahut-sahutan. Ini pun bisa lebih keras dari sebelumnya, karena gerakan mereka ke depan tidak dilakukan sendirian. Mereka melakukannya bersama Anies, yang notabene adalah Gubernur DKI periode 2017-2022. Hal ini tampak dari penegasan Anies dalam sambutannya.

Coba perhatian lagi pernyataan Anies yang disebutkan di depan. Bunyinya: “Ini adalah komitmen yang sudah saya katakan berkali-kali. Mari kita tunjukkan ke mata dunia…”. Kedua frase ini menunjukkan siapa diri Anies yang sesungguhnya. Ia bukan pejabat negara sebagaimana biasanya yang menjaga jarak dengan Ormas. Anies adalah pejabat negara yang sekaligus merupakan orang dalam FPI.

Posisi Anies tersebut diakui oleh Ketua Tanfidzi DPD FPI DKI Jakarta, Abdul Majid. Majid mengatakan FPI bakal terus mendukung Anies Baswedan selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Alasannya, karakter Anies yang mengutamakan kedamaian cocok dengan FPI, sehingga tidak ada alasan untuk tidak didukung (CNN Indonesia, 19/08/2017).

Tentu pembaca bertanya, apa masalahnya? Bukankah karakter kedamaian itu baik? Ya, bagi FPI, tetapi tidak bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebab, karakter kedamaian yang dianggap cocok oleh FPI adalah karakter yang mendukung ideologi mereka untuk menyingkirkan Pancasila, menghidupkan kembali Piagam Jakarta, dan menerapkan syariat Islam di Indonesia. Sudah jelas apa belum?

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage