Islam Makin Hadir Sebagai Pembawa Rahmatan Lil ‘Alamin

Islam Makin Hadir Sebagai Pembawa Rahmatan Lil ‘Alamin

17

Sebagai agama mayoritas di Nusantara, kehadiran agama Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta tentu sangat diharapkan dengan penuh semangat. Artinya jangan sampai kehadiran agama mayoritas malah menjadi sumber bagi datangnya rasa cemas dan serba was-was. Cemas dan was-was karena kehadirannya menimbulkan rasa takut akibat acungan aneka ukuran fentung.

Untunglah, di tengah maraknya gerakan radikalisme dan gaya beragama intoleran yang melanda agama besar di Nusantara, masih ada konsistensi jiwa agama Islam sebagai rahmatin lil ‘alamin. Itulah yang tengah dan terus dikerjakan oleh ormas keagamaan terbesar negeri ini. Nahdatul Ulama alias NU.

Adalah Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang dengan itikad baiknya turut bertanggung jawab dalam rangka menampilkan citra Islam sebagai agama rahmat. Diajaklah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk melatih dai dan ustaz di Jakarta. Djarot ingin para dai dan ustaz di Jakarta menyampaikan pesan persatuan serta perdamaian sebagai inti ajaran Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin.

“Kami sengaja kerja sama dengan PBNU untuk bisa mendidik para dai kami, para ustaz kami, supaya benar-benar menjadikan tempat-tempat ibadah, dakwah itu yang benar, yang sesuai dengan Islam yang rahmatan lil alamin, yang membawa rahmat, Islam yang toleran,” ujar Djarot, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (8/9/2017) sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Djarot menyampaikan, kegiatan ini dilakukan karena dirinya tidak ingin aksi radikalisme dan intoleran terjadi di Jakarta atau di wilayah lain di Indonesia.

Ada kesadaran mendalam yang dihayati Gubernur Djarot bahwa peran umat Islam dalam mewujudkan Indonesia yang berperadaban dan berkemajuan sungguh sangat signifikan. Islam harus tetap konsisten menjadi agama pembawa damai. Karena itu, umat Islam di Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya tidak boleh lengah. Jangan sampai gerakan radikalisme dalam Islam merusak citra Islam sebagai agama rahmat.

Aksi terorisme yang identik dengan Islam radikal, dijawab Gubernur Djarot dan PBNU dengan pelatihan para dai dan ustaz yang siap menebarkan ajaran Islam yang penuh rahmat. Radikalisme tidak boleh menghancurkan Islam, maka harus dilawan dengan cara elegan. Peningkatan peran dan kapasitas para dai dan ustaz ditempuh sebagai jalan.

Mengingat, peran para dai dan ustaz sangat diharapkan mampu memberi edukasi bagi umat Islam. Islam di Indonesia adalah Islam yang ramah dan bukan pemarah. Islam di Indonesia adalah penjaga persatuan menjadi bangsa, pemaklum kesatuan sebagai negara, dan pengawal puspa ragam sebagai rahmat untuk Indonesia tercinta.

Dalam keterangannya kepada Kompas.com, Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengatakan ada sekitar 1.000 orang yang ikut pelatihan ceramah tersebut.

“Agar dai dan khatib itu betul-betul paham misi Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang moderat, toleran, membangun, bukan merusak, bukan mencaci maki, bukan adu domba, bukan fitnah,” kata Said dalam kesempatan yang sama.

Selain melatih para dai dan ustaz, kerja sama juga dilakukan untuk melaksanakan program aktualisasi nilai-nilai agama di Masjid Raya KH Hasyim Ashari dan Jakarta Islamic Center.

Semoga dengan cara peningkatan kapasitas para ustaz dan dai seperti dikerjakan Pemprov DKI, syiar Islam yang rahmatin lil ‘alamin makin syur di hati. Banyak orang jadi paham sejatinya Islam sebagai agama penuh berkah.

Salut dengan kejeniusan Gubernur Djarot memberi solusi atas maraknya gerakan intoleransi. Para dai dan ustaz diajak untuk memperhatikan gerakan intoleransi yang makin marak. Sebuah pendekatan yang sangat manusiawi ditempuh Gubernur Djarot bersama PBNU.

Dengan cara ini, Gubernur Djarot dan PBNU terus mengobarban optimisme. Gerakan radikal tetap bisa ditangkal hingga tak bisa lagi tertawa terpingkal. Gerakan intoleransi tetap bisa diantisipasi dan ditangani melalui penanganan yang hati-hati.

Berkat kapasitas dai dan ustaz yang meningkat semoga umat tambah semangat mendengarkan tausiyah yang barokah. Tausiyah yang dijauhkan dari ujaran kebencian dan anjuran berbuat nakal dan radikal tanda orang hilang akal.

Sebaliknya, tausiyah dan ceramah yang makin menunjukkan Islam yang ramah, jauh dari amarah dan tindakan-tindakan parah dan payah. Insya Allah, dengan begitu, agama Islam selalu menjadi mayoritas, karena banyak ulama yang tangkas dan umat yang tak terbatas cerdas. Terima kasih Pak Djarot dan PBNU, jayalah negeriku.

Referensi:

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/09/09/06551431/pbnu-latih-penceramah-di-jakarta-agar-sampaikan-pesan-persatuan

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage