Jokowi, We The Fest, dan Pemahaman Pada Milennial

Jokowi, We The Fest, dan Pemahaman Pada Milennial

1

Setelah syok melihat Presiden Joko Widodo yang menyempatkan diri datang ke acara musik We The Fest di JIExpo Kemayoran, kekaguman saya padanya makin bertambah.

Kok bisa?

Pertama, ternyata salah satu alasan Jokowi adalah untuk mendekatkan diri pada generasi Milennials yang memang menjadi penonton mayoritas acara musik ini. Walau sepertinya generasi Y dan Z juga banyak hadir di We The Fest.

Bukan buat menyuruh mereka mencoblos Jokowi lagi di 2019 lho, melainkan untuk membantu Jokowi mencari tahu pandangan Milennials sehingga bisa membantunya dalam menentukan arah kebijakan. Selama dua jam Jokowi hadir. Selain melayani permintaan foto, menikmati musik, Ia juga bercakap-cakap dengan generasi muda yang ditemuinya. Bagi Jokowi jika industri kreatif kita, termasuk musik, bisa digarap lebih baik maka dapat berpotensi dibawa ke internasional sehingga kita tak cuma jadi penikmat melainkan juga sebagai ‘produsen’.

“Kita kan harus melihat kelompok-kelompok anak muda, generasi milenial. Supaya nanti kita bisa mengantisipasi kebijakan. Persiapan kebijakan seperti apa yang ke depannya harus kita lakukan. Kalau kita tidak tahu, mana bisa kita menyiapkan sebuah kebijakan, mengantisipasi sebuah kebijakan,”

“Kita bisa melihat di mana posisi kita. Positioning apa yang harus kita ambil. Itu penting karena tadi ada kan misalnya (band) kayak Shura, kita bisa bandingkan dengan The SIGIT. Perbandingan itu seperti apa, kemudian harus ngejarnya di mana,”

“Bila Kodaline dibandingkan dengan yang kita punya, mestinya diperbaiki di sebelah mana?”

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/08/11/saat-presiden-jokowi-tiba-tiba-belok-arah-nonton-we-fest-407203

“Saya kan selalu seperti itu. Mendengar apa, kendalanya apa, kesulitannya apa,”

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/08/12/00040431/hadir-di-we-the-fest-jokowi-ingin-mengamati-generasi-milenial

Saya tahu Jokowi cinta musik, tapi masih amazing dengan pengetahuannya tentang musisi-musisi masa kini. Biasanya orangtua cenderung senang bernostalgia dengan musik era mereka masih muda. Kalaupun tahu artis-artis baru umumnya ya yang skalanya nasional dan sangat umum penikmatnya macam Raisa, Afghan, dkk.

Dan harus diakui ide datang ke acara macam We The Fest ini brilian. Yang ditemui Jokowi adalah anak-anak muda yang mungkin kalau nggak di tempat seperti ini akan sulit berinteraksi dengannya. Memang Jokowi pernah mengundang beberapa youtuber dan influencer dari twitter untuk bersantap siang dengannya. Tapi efektivitasnya seperti apa dan apakah pertemuan itu betul-betul menyerap masukan yang bagus atau cuma sekedar dijadikan para influencer sebagai bragging dan konten “eh aku ketemu Pak Jokowi lho” kita tidak tahu. Mungkin undangan dari Youtuber memang efektif karena yang diundang termasuk dalam golongan yang subscribernya banyak serta mayoritas anak muda bahkan beberapa di antara mereka pernah diundang mengikuti kunjungan kerja Jokowi. Sementara yang dari twitter, entahlah.

Saya rasa cukup banyak lah insight yang didapat Jokowi dari kehadirannya malam ini. Terutama dari mereka yang turun langsung ke penyelenggaraan acara ini. Hal-hal yang mempersulit promotor musik mungkin menjadi salah satu concern Jokowi selain tentu saja bagaimana memajukan industri kreatif ini sendiri.

Dan satu hal yang menarik sekaligus menunjukkan betapa hebat dan cerdasnya pola komunikasi yang digunakan Jokowi. Ia tahu betul siapa yang dihadapinya. Bayangkan, sebelum ke We The Fest Jokowi menghadiri Silaturahmi Nasional II Pendukung Setia Jokowi di JIExpo juga. Ia kemudian masuk mobil dan mengganti batiknya dengan kaos lengan panjang sebelum memasuki acara. Dari formal menjadi lebih casual.

Kenapa hebat dan cerdas? Sekarang bayangkan kalau di acara silaturahmi nasional wajar Jokowi tampil formal. Sementara masak di acara anak muda yang penontonnya dandan hits dan trendy dengan model masa kini Pak Jokowi masih datang dengan berbatik? Nanti dikira ada pak lurah nyasar.

Dengan tampil casual Jokowi bisa lebih membaur dengan panitia maupun penonton. Kecanggungan yang ada bisa berkurang sehingga komunikasi yang terjalin bisa dilakukan dengan lebih gayeng.

Baca Juga:

“satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke).

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage