Karena ‘Fulus’ Semua Rencana Jadi Mulus

Karena ‘Fulus’ Semua Rencana Jadi Mulus

0

Banyak yang bilang, uang adalah segalanya. Kalau kita pikir-pikir sejenak pernyataan itu, sekilas memang seperti benar, tetapi tak sepenuhnya benar. Ya, kita akui bahwa uang memang kebutuhan utama dalam hidup seseorang, tanpa uang bisa jadi ia akan kesulitan menjalani hidup ini. Tanpa uang, ia akan kelaparan, bahkan bisa mati.

Tetapi, yang mesti kita sadari, bahwa uang hanya bersifat materi. Ia merupakan alat untuk menghidupi diri seseorang yang sifatnya sesaat, seperti dunia yang fana ini. Alat pembayaran itu hanya berlaku di dunia. Ia tak akan mampu menembus ranah yang sifatnya non-materi (akhirat). Karena, materi tak akan mampu menembus diding akhirat, sebab materi bersifat terbatas, sementara akhirat tak terbatas, bahkan ia abadi.

Terkait dengan uang, atau yang biasa disebut fulus oleh sebagian orang, memang selalu menjadi topik pembicaraan sepanjang hari, bahkan sepanjang kehidupan dunia ini. Ambil contoh, betapa banyak seorang pekerja, baik  yang sudah berumah-tangga maupun yang belum, selalu membicarakan uang terkait dengan biaya hidupnya di dunia. Bahkan, boleh jadi, yang ada di otaknya hanya uang, uang dan uang. Tapi, bukan berarti kita dilarang mencari uang. Carilah uang sesuknya.

Mengingat pentingnya uang dalam kehidupan manusia, itu dimanfaatkan sebagian orang untuk niatan-niatan tertentu dan kepentingan-kepentingan tertentu dalam rangka mendongkrak eksistensinya. Siapa yang jadi korban? Korbannya adalah mereka yang tingkat keekonomiannya selalu berada pada tingkatan yang paling rendah; yang untuk makan saja sulitnya minta ampun; yang tak punya rumah, tidur di emperen jalan dan sebagainya.

Merekalah yang jadi korban atas keserakahan seseorang akan kekuasaan. Selain kekuasaan, sebagian orang memanfaatkan uang untuk mendanai orang-orang yang fakir harta dan ilmu agama untuk memecahbelah umat manusia, terlebih umat Islam. Mereka yang jadi korban bagai boneka yang alat penggeraknya berupa uang. Mereka mau berbuat apa saja, seperti menyesatkan orang, bahkan kalau ada perintah untuk membeunuh, mereka pun bersedia melakukan perbuatan tak manusiawi itu.

Makanya, tak heran bila akhir-akhir ini, kita melihat sebagian orang yang dulunya jauh dari agama tiba-tiba menjadi ‘sok alim’; yang dulunya berpakaian secara urakan layaknya anak jalalan, kini mengubah pakaiannya dengan gamis putih yang panjangnya di atas mata kaki, lalu jenggot ditumbuhkan hingga panjang, dan seolah menjadi orang paling alim sendiri, sampai-sampai dengan pede-nya berani menyalahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan orang lain, tanpa menyadari bahwa ilmu agama yang ia miliki masih cetek. Semua itu murni karena uang.

Karena kurangnya ilmu, ia mau dibodoh-bodohi, apalagi dengan kucuran uang yang selalu mengalir untuknya, mana mungkin orang yang fakir ilmu dan harta mau menolaknya, apalagi hidupnya bakal dijamin oleh sang majikan. Tentu, itu akan membuatnya kian semangat, kian gigih menciptakan fitnah-fitnah di tengah masyarakat. Orang-orang seperti itu tak akan pernah memikirkan akibat dari pebuatannya itu, yang terpenting, ialah ia dapat uang, bisa makan enak, bisa tinggal di rumah mewah, punya mobil mewah dan sebagainya.

Gara-gara uang, yang sebelumnya haram di matanya menjadi halal; yang sebelumnya merupakan larangan baginya, tanpa takut ia terjang saja tanpa memikirkan bahwa ada azab-Nya yang pedih di balik itu. Uang itu ibarat pelumas, ia akan melicinkan sesuatu yang tadinya susah untuk bergerak. Makanya, boleh kita katakan bahwa karena fulus semua rencana jadi mulus.

Ranah uang hanya di dunia. Semantara di akhirat, Allah tak akan bertanya “Berapa uangmu”, yang Allah tanya ialah soal amalan kita di dunia. Uang memang segalanya bila kita nisbahkan di dunia, tapi tidak untuk di akhirat. Maka, daripada kita mau dibayar dengan uang dengan syarat kita harus menciptakn kekacauan di tengah masyarakat, itu sama saja kita mengantarkan diri kita sendiri  ke jurang neraka dengan segenap apinya yang menjilat-jilat itu. Mengerikan.

 

 

 

Share.

About Author

Lebih suka belanja buku ketimbang pakaian

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage