Kesenjangan dan Eksploitasi dengan Drama

Kesenjangan dan Eksploitasi dengan Drama

2

​“Jika ada mobil Mercedes seharga 3 miliar menabrak tukang bakso yang sedang lewat, bisa dipastikan warga serta-merta akan menyalahkan si pengemudi mobil. Padahal siapa tahu mobil sudah berlari dalam kecepatan wajar dan dikendarai pada jalur yang benar? Mungkin saja tukang bakso mendorong gerobaknya dengan cara melawan arah dan tak lama sebelum berjualan dia menenggak bir oplosan?

Rakyat sudah puluhan tahun melihat orang miskin tertindas dan orang kaya menindas. Saat Soeharto memimpin, orang kaya memang identik dengan kuasa dan uang sementara yang miskin hanya bisa mengais dan tunduk. Di banyak hal, saat itu biasanya si miskin ada di posisi yang benar dan si kaya menjadi pihak yang salah. Si miskin mengikuti peraturan karena tak punya uang untuk menyogok agar peraturan bisa dilanggar. Orang kaya bisa bebas mengobrak-abrik tatanan karena harta mereka ada yang bisa dialokasikan untuk menyuap..”

Kutipan diatas adalah realita yang ditangkap penulis biografi Ahok : Politik Akal Sehat yang juga dosen, Meicky S. Panggabean dan ditulis di buku tersebut (hlm 234) yang terbit sejak Agustus 2016 oleh penerbit Noura Books (Mizan). Pas di tahun itu juga, saya membeli buku tersebut dari sebuah toko buku online. Entah kenapa saya membeli buku tersebut.

Oh ya, disini saya bersikap independen, ya. Saya juga membeli buku biografinya Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan beberapa bulan setelahnya. Tinggal bukunya Sandiaga Uno yang belum terbeli. Ehehe.

Entah kenapa pula, dari sebagian besar bacaan dalam buku tersebut, saya tertarik mengutip apa yang saya tulis di awal barusan. Mungkin karena itulah realita yang terjadi di kehidupan masyarakat. Yang juga ditangkap dalam beberapa sinetron dan FTV yang saya lihat.

Skenario umumnya kira-kira begini. Kita sebut si A. Si A entah kenapa saat menyebrangi jalan dia tak lihat kiri kanan (bisa karena sedih dan galau, bisa karena stres, atau karena yang lain). Muncul mobil yang berjalan di jalan tersebut dan muncul adegan kaget si A yang entah kenapa hanya membuka mulut dan tak berlari ke seberang jalan, seakan dia sengaja mau ditabrak (aslinya siapa sih yang mau ditabrak?). Ujung adegannya bisa macam-macam. Bisa saja ada dewa/dewi penolong yang mendorong si A dan berkorban dirinya sendiri atau si A ketabrak dengan berbagai kondisi, mulai dari tak sadar dan dibawa ke RS, atau sadar tapi marah-marah sama pengemudi mobil, yang kadang-kadang menimbulkan buih-buih cinta. Halah.

Selain karena jalan cerita tidak logis tadi, seperti kutipan tadi, kenapa pelaku penabrak selalu menaiki mobil? Mungkin 80-85% pelaku naik mobil, sisanya motor. Kalau yang naik motor, umumnya direncanakan oleh pihak yang jahat atau antagonis yang ingin mencelakakan si A dengan pekerjakan eksekutor aksi penabrakan.

Apakah ini karena faktor kesenjangan yang kian parah atau pola pikir kita yang membuat kesenjangan tersebut kian parah?

Kalau kita membawa data, rasio gini Indonesia (rasio kesenjangan masyarakat miskin dan kaya) pada 2016 berada di angka 0.40, dimana semakin dekat dengan angka 1, itu artinya kesenjangan yang lebar. Sementara jika makin dekat dengan angka 0, itu berarti sebaliknya. Data rasio gini Jakarta misalnya, pada Maret 2016 berada di angka 0.41. Angka gini terendah diraih Provinsi Bangka Belitung dengan 0.28.

Memang, kesenjangan di negeri ini tak bisa hilang dari waktu ke waktu. Meskipun memang menurut ibu saya, kesenjangan terlihat mulai tipis, sejak Jokowi dan Ahok membuat kartu-kartu “sakti” yang membantu meringankan biaya-biaya pendidikan, konsumsi dan kesehatan, dimana menurutnya jika dulu masyarakat miskin tak bisa masuk mal, kini mereka bisa mengitari mal dengan bekal kartu-kartu sakti ini. Kesenjangan yang menurutnya parah itu terjadi ketika masa Orde Baru, dimana anak-anak Soeharto dan kroni-kroninya semakin pede dengan kerajaan bisnisnya saat itu.

Kesenjangan, pada akhirnya mempengaruhi pola pikir masyarakat. Ada kesan bahwa karena status ekonomi, masyarakat tak berdaya untuk mewujudkan mimpinya. Kemudian mengatakan dirinya sudah tak berdaya lagi, padahal kemampuannya masih ada. Hal ini terkadang dimanfaatkan sebagai alibi untuk melakukan hal-hal yang buruk, mulai dari tindakan kriminal hingga bentuk pelanggaran hukum lainnya. Salah satunya seperti kutipan tadi.

Pola pikir semacam ini jugalah yang dipegang oleh beberapa pihak seperti akademisi dan LSM. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka membela yang miskin dan lemah. Ada pertanyaan yang tak terjawab, apakah selalu mereka yang miskin dan lemah ini benar? Memang, kebanyakan dari mereka memang statusnya benar dan ada tindakan otoriter dari pemerintah dalam beberapa kasus, seperti kasus petani Kendeng melawan industri semen. Namun, tak tertutup kemungkinan mereka ada salah kan?

Kita memang tak bisa lepas dari ideologi miskin lemah kaya menindas. Kita terjerat pada drama berbasiskan data dan fakta yang tak mampu membuat kesejahteraan dan daya tawar mereka menjadi lebih baik. Adanya aturan yang berlaku tak mereka gugat sebagai penyebab hal tersebut terjadi, sementara para birokrat sibuk dengan menegakkan aturan yang berlaku tersebut, seperti yang dilakukan Ahok dalam beberapa kebijakannya saat menjadi gubernur. Hal yang wajar ketika para birokrat menegakan aturan. Meskipun memang harus dilihat cara penegakannya seperti apa.

Kita pada akhirnya memang tak bisa menjadikan kemiskinan sebagai sesuatu hal yang membuat kita tak berdaya, mengemis-ngemis dan ingin selalu dibela tanpa melihat benar atau salah. Sudah terlalu banyak tipe eksploitasi atas nama politik, ekonomis dan kepentingan golongan tertentu yang tak memberdayakan masyarakat miskin semacam ini. Kita bisa temukan dalam berbagai media.

Paling dekat dengan kehidupan saya, eksploitasi terhadap kemiskinan sering dilakukan oleh televisi. Sebut saja Orang Pinggiran dan Mikrofon Pelunas Hutang, menjadi dua program televisi yang mengeksploitasi hal tersebut. Kemiskinan, dalam mata mereka adalah sebuah hal yang salah dan tak bikin bahagia. Masyarakat selalu dipaksa melihat drama-drama yang tidak perlu dan tak memberdayakan mereka yang miskin, meskipun tujuan program tersebut diarahkan kepada masyarakat menengah ke atas untuk mendorong solidaritas sosial, tapi tak tertutup kemungkinan masyarakat miskin ada yang menyaksikannya, sehingga ini tak akan pernah memberdayakan mereka.

Jualan drama, pada akhirnya membuat pola pikir bangsa ini tak jauh dari sensasi. Media massa sering lupa konteks dan malah menjual berita-berita yang tak pernah mengungkapkan fakta. Semua berbasiskan katanya si A, katanya si B dan katanya si C. Semisal dalam pembahasan terkait perselisihan transportasi online dan eksisting, kebanyakan media massa meletakkan perspektifnya pada transportasi online dengan segala keunggulan sehingga perlu dan layak dibela, padahal ada aturan yang mereka langgar. Transportasi eksisting seperti angkot dan taksi dijelek-jelekkan tanpa tahu masalah sesungguhnya, yang bukan hanya dialami transportasi eksisting namun juga oleh transportasi online.

Bagaimana mengubahnya? Tentu ini pekerjaan kita semua. Bukan hanya saya. Mulai mendasarkan diri pada pendidikan yang benar dengan basis akhlak dan akal sehat yang seimbang, literasi yang menyeluruh hingga meninjau aturan-aturan yang berlaku, menjadi sebagian diantaranya.

Perlu diingat, tulisan ini tak dibuat untuk sinis atau mencela kaum miskin. Namun, untuk membuat kita berpikir ulang kembali tentang kesenjangan, yang sesungguhnya telah menjadi skenarioNya dalam hidup manusia, untuk saling melengkapi dan menghormati satu sama lain.

Share.

About Author

Mendengarkan, mencatat dan menuliskannya buat kamu. Penulis di IniKritikGue, pekerja dan pengamat. Kontak saya : rinaldoaldo92@gmail.com.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage