Ketika Habib Rizieq Shihab Melambungkan Dirinya di atas Langit Indonesia

Ketika Habib Rizieq Shihab Melambungkan Dirinya di atas Langit Indonesia

1

Habib Rizieq (Foto: Hasan Al Habshy-detikcom)

Upaya Rizieq Shihab untuk terus memengaruhi opini publik tentang dirinya makin menjadi-jadi. Ia terus mengonstruksi konsep dirinya sebagai pribadi di atas semua orang. Dia meninggikan dirinya menjadi ulama tertinggi di antara semua ulama yang ada di Indonesia. Memersonifikasi dirinya sebagai simbol seluruh ulama. Apa saja yang dilakukannya, dia anggap identik dengan tindakan seluruh ulama.

Atas dasar pandangan itu, Rizieq menilai dirinya tidak sekedar pribadi, tapi identik dengan lembaga. Ia bahkan menyetarakan dirinya dengan Negara RI. Inilah yang membuatnya berani meminta rekonsiliasi dengan Pemerintahan Jokowi-Kalla. Bagi dia itulah yang pas.

Dengan pandangan diri seperti itu, ia lantas berpikir bahwa kasus-kasus yang membelit dirinya tidak layak ditangani polisi. Itu bukan levelnya. Bagi dia, kasusnya hanya bisa diselesaikan pada tingkat negara yang diwakili oleh pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla dalam bentuk rekonsiliasi. Bagi dia, hal tersebut mirip dengan penyelesaian masalah antar dua kepala negara yang sebelumnya konflik, tetapi masalah antara mereka harus diselesaikan menurut versinya sendiri.

Bagi dia, rekonsiliasi itu harus dipenuhi. Apabila tetap ditolak oleh pemerintah RI, sementara para ulama terus-menerus dikriminalisasi, para aktivis terus-menerus diberangus yaitu kebebasannya, hak asasi manusianya, dan rakyat jelata terus dipersulit, dan Islam juga terus dimarginalkan, maka tidak ada kata lain yang harus kita lakukan kecuali lawan. Jadi sekarang pilihannya ada di hadapan pemerintah, rekonsiliasi atau revolusi, tegasnya lewat rekaman suara seperti diberitakan detik.com (detik.com, 18/06/17).

Wah serem ya? Apakah Rizieq mau menjadi Presiden Republik Indonesia atau Republik GNPF MUI ataukah mau membentuk negara baru di atas bumi Indonesia dengan model pemerintahan dan segala aturan hukumnya sesuka hatinya? Sampai sekarang belum jelas.

Penggagas dan Para Pendukung Rekonsiliasi

Ide rekonsiliasi itu memang bukan murni dari Rizieq. Itu, ide Yusril Ihza Mahendra. Namun, Rizieq melihat bahwa ide Yusril itu bagus. “Ini adalah salah satu usulan yang brilian. Karena pada dasarnya GNPF MUI jauh dari sebelum digelarnya aksi bela Islam 1, 2, 3, dan seterusnya itu telah mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk kita duduk dialog, untuk kita duduk musyawarah terhadap berbagai macam persoalan bangsa,” kata Rizieq dalam rekaman suara itu (detik.com, 18/06/2017).

Dia sendiri mengaku sudah menyampaikan usul itu kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, tapi ditolak. Oleh sebab itu, ia meminta Yusril dan kawan-kawannya untuk merumuskan format yang dapat diterima oleh Pemerintah RI.

Tampaknya inilah yang dipersiapkan oleh rekan-rekannya yang silih berganti menemuinya di tempat persembunyiannya di Arab. Di antaranya Ketua Fraksi PKS di DPR, Jazuli Juwaini yang menemui Rizieq bersama Sekretaris Fraksi PKS sekaligus Anggota Komisi I DPR Sukamta, dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, Wakil Ketua Umum PAN sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR Ahmad Hanafi Rais, serta mantan Ketua Umum PAN Amien Rais (tirto.id).

Dari berita media diketahui bahwa dalam pertemuan tersebut, mereka membahas banyak hal tentang Indonesia. Mereka bicara bagaimana menjaga NKRI, menjaga kesatuan dan persatuan Bangsa, bicara Islam yang rahmatan lil lamin.

Dengan Amien Rais juga begitu. Rizieq dan Amien membahas sejumlah isu nasional seperti permasalahan politik tanah air yang semakin kacau, anggapan mereka tentang tindak kriminalisasi dan intimidasi kepada ulama. Mereka juga membahas masalah kriminalisasi tokoh politik nasional, ujar Penasihat hukum Rizieq Shihab Sugito Atmo Pawiro kepada juru pewarta (tirto.id).

Ini artinya Rizieq dan kawan-kawannya sudah memiliki konsep matang tentang format rekonsiliasi. Hanya saja, bagaimana konsep rekonsiliasi itu, apa yang dikonsiliasikan, belum jelas. Rupanya konsep tersebut masih dibungkus rapat-rapat di hati masing-masing. Inilah yang dipertanyakan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ketika dihubungi wartawan.

JK bilang bisa saja ada rekonsiliasi, walaupun kasus hukum harus tetap berjalan. Namun, apa yang dimaksudkan Rizieq dengan rekonsiliasi, detailnya bagaimana, masih kabur. Ini perlu kajian, tegas JK kepada Jawa Pos (Jawapos.com, 04/07/2017)

Kapolda dan Menkopolhukam beda dengan JK

Hal yang berbeda diperlihatkan oleh Menkopohukam Wiranto, Wiranto dan Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan. Kepada Merdeka.com Wiranto tegas menolak permintaan rekonsiliasi Imam besar FPI Habib Rizieq karena dianggapnya tidak tepat. Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan juga begitu. Iriawan malahan mempertanyakan kapasitas Rizieq sampai berani meminta rekonsiliasi. Bagi Iriawan, Rizieq bukan merupakan perwakilan lembaga yang memiliki pengaruh dalam sistem pemerintahan.

“Coba, rekonsiliasi itu apa? Mana bisa (rekonsiliasi dengan pemerintah). Siapa dia?” tegas Iriawan di Polda Metro Jaya, Rabu (21/6) malam (merdeka.com, 22/06/2017).

Iriawan juga mempertanyakan cara rekonsiliasi yang diinginkan Rizieq. Dia malah menyindir balik tersangka kasus chat mesum itu. “Caranya bagaimana. Enggak bisalah. Jadi jangan meng’emas’kan diri,” sambungnya.

Kendati Menkopolhukam dan Kapolda Metro Jaya menolak, Rizieq tak peduli. Konstruksi konsep dirinya malahan dia ubah. Tidak lagi setara dengan Pemerintah RI seperti dikhayalkannya sebelumnya. Belakangan ia malahan mengonsepkan dirinya lebih tinggi. Dari sini Rizieq kemudian membalik ide rekonsiliasi. Seolah-olah bukan lagi permintaannya, tetapi permintaan Pemerintah RI kepada dirinya.

Buktinya, ia tidak lagi bicara respons pemerintah seperti sebelumnya. Rizieq justru mulai mengonstruksi Pemerintah RI sebagai penista agama, penyebaran paham komunisme, marxisme, leninisme dan liberalisme serta paham sesat lainnya. Atas dasar itu, dengan membusungkan dada Rizieq memberikan syarat rekonsiliasi yang dimauinya.

Dia katakan, tidak akan ada rekonsiliasi dengan pemerintah RI tanpa stop penistaan terhadap agama apapun. Tidak ada rekonsiliasi tanpa stop penyebaran paham komunisme, marxisme, leninisme dan liberalisme serta paham sesat lainnya.

Di sinilah kehebatan Rizieq. Ia terus berupaya mengubah pandangan publik terhadap dirinya. Di saat ia membangun citra buruk terhadap pemerintah, ia berharap agar penistaan Pancasila dan Presiden RI pertama, Soekarno, yang dilakukannya, chating berkonten pornografi yang dilakukannya dengan Firza Husein, hujatannya terhadap ulama lewat ceramah-ceramahnya di youtube, bisa dilupakan orang.

Fadli Zon Termakan Cara Berpikir Rizieq

Kalau tak mau berpikir, orang yang membaca argumen Rizieq tentu saja bisa langsung jatuh hati. Malahan bisa bilang bahwa Rizieq sangat peduli kepada rakyat Indonesia, NKRI. Yusril, PKS, Amien Rais dan Putranya Ahmad Hanafi dan kawan-kawan kental mereka dianggap lebih negarawan, lebih tahu kepentingan rakyat daripada Jokowi.

Dengan topik pembicaraan mereka tentang berbagai hal, publik bahkan bisa bilang posisi Rizieq lebih bernilai daripada lembaga DPR RI karena kepedulianya terhadap Indonesia melebihi kebiasaan anggota DPR RI yang lebih banyak bikin ribut ketimbang membahas apa yang dibahas Rizieq bersama kawan-kawannya. Nah, DPR RI kena, bukan?

Wakill Ketua DPR RI, Fadli Zon adalah salah satu yang termakan cara berpikir itu. Bagi Fadli, kasus chat Whatsapp berkonten pornografi antara Rizieq Shihab dan Firza Husein adalah hal sepele yang dibesar-besarkan. Fadli menduga, bahwa diangkatnya kasus itu di permukaan tak lebih dari upaya menarget Rizieq agar bisa dijebloskan ke penjara. “Kok kasus seperti ini dianggap seperti kasus luar biasa. Apalagi cuma chat yang berada di ruang privat. Tidak di publik. Kan seharusnya tidak begitu,” kata Fadli di kantor DPP Perindo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 30/5/2017 (Kompas.com).

Dari sini tampak bahwa Fadli Zon sedang memberi penghargaan tinggi bagi kepentingan syahwat Rizieq ketimbang kepentingan moral dan hukum. Ia lupa atau pura-pura lupa bahwa pengumbaran nafsu birahi di ruang privat yang telah terpertontonkan kepada publik lewat media, sama jorok dan buruknya kalau hal itu dilakukan Rizieq dan Firza Husein di pinggir jalan yang dapat disaksikan oleh setiap orang yang lewat. Dan lebih dia lupa lagi bahwa pembicaraan mereka di tempat persembunyian Rizieq di Arab tidak bisa disetarakan dengan pemahasan masalah-masalah negara sebagaimana dilakukan pemerintah atau DPR di dalam acara resmi.

Sehebat apa pun yang mereka bicarakan, sama halnya pembicaraan para sahabat yang tengah kongkow-kongkow dan menikmati kopi kesukaan mereka di warung kopi. Mungkin saja sekedar mengisi waktu, dan kalau hak itu serius boleh jadi sekedar membahas “bisnis” mereka sendiri. Tak lebih!

Salam Seword

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage