Ketika Mutiara Baswedan Mulai Terkena Serangan Kaum Sumbu Pendek

Ketika Mutiara Baswedan Mulai Terkena Serangan Kaum Sumbu Pendek

291

Siapa yang tidak kenal dengan Anies Baswedan? Gubernur DKI Jakarta terpilih untuk periode tahun 2017-2022. Nama yang sebenarnya cukup kontroversial, karena beliau merupakan mantan Mendikbud pemerintahan Presiden Jokowi yang terkena reshuffle hanya sekitar dua bulan sebelum tiba-tiba namanya dipasangkan dengan Sandiaga Uno sebagai paslon Cagub dan Cawagub Pilkada Jakarta. Saat itu Anies mengalahkan banyak nama kandidat Cagub lainnya yang bahkan sudah ‘mempromosikan’ dirinya berbulan-bulan sebelum masa pendaftaran kandidat Pilkada DKI Jakarta.

Dari pecatan Menteri ke Cagub Jakarta, dari kubu pro Jokowi ke kubu pro Prabowo. Dari berbagai sepak terjang Anies yang menghebohkan tersebut, nama Mutiara Annisa Baswedan yang tadinya adem ayem, kini mulai hangat dibicarakan masyarakat, terutama pengguna berbagai media sosial. Wajah Mutiara yang cantik dengan senyuman yang khas dihiasi lesung pipit, dan rambut ikal alami, menjadikan Mutiara ‘the new celebrity‘ di tengah masyarakat.

Pada hari Selasa, 16 Mei 2017 di akun instagram milik Anies Baswedan (@aniesbaswedan), tampak sosok Mutiara di salah satu postingannya:

Lengkap dengan caption yang berbunyi:

“Tia konsultasi pribadi sebelum berangkat kuliah”

Sebuah foto candid yang nampak sederhana, tapi menyimpan berjuta makna. Entah mengapa, melihat foto tersebut, pikiran saya sontak teringat pada sosok Anies Baswedan yang sempat saya kagumi dulu. Masa-masa ketika Anies menjadi Juru bicara paslon Jokowi JK di Pilpres 2014. Masa-masa ketika senyum di bibirnya masih nampak hangat, ringan, dan tulus. Masa-masa dimana Anies masih berada di ‘jalan kebenaran’, sehingga aura yang dipancarkan olehnya selalu menyejukkan dan menentramkan… Itu dulu.

Sekarang segalanya telah berubah. Semenjak Anies bergabung ke kubu Gerindra dan PKS. Tampaknya Anies tidak kuat juga melawan arus fanatik radikalisme yang menyengat kuat dari mereka, sehingga Ia pun terperosok ke dalamnya.

Lalu apa hubungannya semua itu dengan foto Anies bersama anaknya, Mutiara Baswedan? Sekilas tidak ada sesuatu yang terlampau istimewa dari foto tersebut, tapi mari kita perhatikan kolom komentar dari netizen yang menanggapi foto tersebut. Sebagian memberi tanggapan yang positif, terutama tentang hubungan akrab antara ayah dan anaknya. Tapi ada cukup banyak komentar berbau hujatan dan nyinyiran yang menanggapi foto tersebut. Berikut beberapa contohnya:

Kafir ga berhijab”

“Iyaa nih ko ga berhijab”

“Semoga mb Mutiara segera menutup auratnya ya pak..InsyaaAllah”

“udah kuliah udah balig.. udah saatnya muslim mengajari ank dr dini.. krn itu wajib.. hijab bukan simbol wanita soleha.. hijab itu bukan takaran sempurna akhlaq dan imanya.. tp krn hijab itu wajib bgi yg merasa muslim.. itu aja.. bukan cm bang anis.. tp utk semua muslim … piss cm ingetin… *gerakan hijab dr dini*”

“Semoga bisa segera berhijab. Termasuk tanggungjawab bapak loh, anak gadisx mesti menutup aurat. Afwan pak”

Sepertinya kini Anies dan keluarga, mulai merasakan bagaimana pahitnya hidup bersama dengan massa intoleran, bahkan terhadap saudaranya sendiri, sesama Muslim. Dan itu tidak enak.

Intinya, ada dua ‘keberatan’ netizen terhadap Mutiara, yaitu:

  1. Mutiara tidak berhijab. Yang diartikan sebagai kurang Islami, karena tidak memenuhi kewajiban seorang wanita Muslim untuk menutup auratnya dengan hijab.
  2. Menyalahkan Anies, selaku ayah dari Mutiara, yang dianggap gagal mendidik anak perempuan nya menjadi wanita muslim sejati, hanya karena Mutiara tidak berhijab.

Anies yang pada dasarnya termasuk golongan Islam moderat, bukan Islam radikal, dengan fanatisme berlebihan terhadap ajaran agama. Kini mulai merasakan pahitnya pil yang diramunya sendiri beserta tim pemenangan dirinya saat Pilkada DKI Jakarta yang baru lalu. Semua pembiaran terhadap doktrin radikal yang dilancarkan golongan Islam garis keras untuk memenangkan dirinya dan Sandi, kini mulai berbalik menyerang bukan hanya diri Anies pribadi, tapi juga anggota keluarganya. Ironis.

Contohnya, ketika Anies yang sebenarnya belum menunaikan rukun Islam ke lima, yaitu naik Haji, entah bagaimana namanya dapat dicantumkan sebagai ‘H. Anies’ pada poster promosi ‘Gerakan Subuh Berjamaah Memenangkan Gubernur Muslim Baru’ berlokasi di Lubang Buaya saat masa kampanye putaran kedua Pilkada Jakarta. Ya mungkin saja salah nulis, atau mungkin juga kode keras untuk Anies, atau bisa juga yang membuat poster tersebut, memang dengan sadar melakukan pembohogan publik, demi ‘menjual’ gelar Haji kepada masyarakat. Apapun alasannya, tidak semestinya gelar Haji dicantumkan di depan nama siapapun yang belum berhak. Karena tindakan tersebut sesungguhnya merupakan penistaan kepada ajaran agama Islam, penistaan terhadap gelar Haji itu sendiri, dan juga penistaan terhadap Haji-haji lain yang memang sudah menunaikan ibadah Haji.

Kini Mutiara, anaknya tercinta, mulai dihujat di medsos hanya karena belum mengenakan hijab. Padahal menurut saya, pilihan untuk berhijab sebaiknya lahir dari dalam dirinya sendiri. Bukan karena sekedar ikut-ikutan, disuruh oleh orang lain, apalagi karena mengikuti tekanan massa.

Semoga Anies dan keluarga dapat diberikan kekuatan oleh-Nya. Karena tantangan hari-hari ke depan sepertinya akan semakin sulit. Dan semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Tolerance doesn’t mean tolerating intolerance… 

Share.

About Author

Emak-emak kurang kerjaan yang sok sibuk, hehe...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage