Lahirnya Nurul Indra dan Afi Faradisa, Bukti Tjahaja Purnama Semakin Bersinar

Lahirnya Nurul Indra dan Afi Faradisa, Bukti Tjahaja Purnama Semakin Bersinar

25

Kita tahu bahwa Basuki sudah divonis dua tahun oleh hakim yang (katanya) mulia. Tentu kesedihan dari para pendukung Ahok benar-benar terasa, bahkan ada beberapa pendukungnya yang sampai sekarang masih menunggu di depan pengadilan dan berdemo. Banyak orang yang kehilangan kepercayaan kepada pengadilan dan keadilan di Indonesia, dan tidak legowo menerima putusan hakim yang dianggap sangat aneh.

Tidak lazim dengan kesalahan seperti ini, hakim memvonis Ahok dua kali lipat dari tuntutan jaksa. Hal yang dilakukan para hakim ini, membuat corengan hitam dari hukum yang berkeadilan di negeri ini. Kejadian ini membuat banyak pihak bahagia, khususnya para kaum intoleran yang menghendaki Ahok memang masuk penjara. Namun jauh lebih banyak orang yang justru menjadi simpatik dengan Ahok.

Setidaknya dua orang yang sekarang sedang booming dan terkenal dengan aksinya yang brilian dan elegan, siapa lagi kalau bukan Nurul Indra dan Afi Faradisa. Kedua perempuan Islam ini menjadi dua remaja yang mengerti betul mengenai apa itu toleransi. Semangat kebinekaan justru muncul dari orang yang berdomisili di luar Jakarta. Secercah harapan muncul dari kedua orang ini.

Kedua orang ini memiliki banyak sekali pengikut di sosial media. Nurul Indra yang dikenal dengan kekuatannya seorang diri dengan senjata tujuh lilin, dapat menyiksa ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Siksaan seorang perempuan dengan senjata tujuh lilin tersebut, membakar sumbu-sumbu pendek dari kaum intoleran dan ontaleran.

Bayangkan seberapa besar kekuatan wanita ini, dapat membumi hanguskan emosi para penduduk bumi datar. Mereka yang panas karena tujuh lilin Nurul Indra, bertindak seperti orang kesetanan. Banyak ancaman yang didapatkan oleh Nurul, mulai dari makian kafir di media sosial, sampai ada yang mengancam ingin mendatangi rumahnya, yang sampai sekarang tidak diketahui.

Apa yang dikerjakan oleh Nurul? Ia hanya memiliki lilin dan menunjukkan rasa simpatiknya kepada matinya hukum di Indonesia. Dengan vonis hakim kepada Ahok yang dianggap tidak masuk akal, Nurul melancarkan aksinya, seorang diri, tanpa takut. Fotonya kemudian viral di media sosial. Saya cukup yakin orang-orang waras di Indonesia masih mayoritas.

Aksi Nurul Indra ini patut diacungi jempol, karena dengan 7 lilin, bukan hanya membakar sumbu pendek, namun menguak seluruh borok-borok yang terjadi di dalam pemahaman agama setiap umat. Aksi-aksi balasanpun muncul.

Ratusan orang berusaha mencoba untuk menyaingi aksi bakar lilin, menjadi aksi bakar obor. Lantas siapa yang menang? Nurul tetap menang. Nurul Indra menang jumlah, ia seorang diri, dapat menggerakkan ratusan bahkan ribuan kaum sumbu pendek. Jadi siapa yang menang?

Tidak lama setelah viralnya foto Nurul bersama 7 lilinnya, ada lagi satu perempuan kelas XII SMA di Banyuwangi yang tidak kalah kekuatannya. Perempuan bernama Asa Firda Nihaya, juga memiliki rasa duka yang mendalam terhadap matinya hukum di Indonesia. Dengan tulisan yang menyatakan kesederhanaan dirinya, ia berhasil menyesah dan para umat Islam garis keras. Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Afi Nihaya Faradisa ini, menulis tentang keberagaman.

Mungkin ilustrasi ini dapat memberikan gambaran dengan jelas mengenai keberadaan kedua orang ini. Nurul menyiksa dan menghanguskan kulit para kaum bumi datar dengan lilin. Setelah itu Afi Faradisa menaburkan garam kepada kulit mereka yang terkelupas. Inilah yang terjadi. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh di Indonesia, yang lebih mencintai Pancasila, ketimbang ego mereka.

Mereka berdua adalah umat Islam yang benar-benar mencintai negaranya. Agama dan negara memang sulit untuk dipisahkan, namun kedua hal tersebut jangan sampai dicampur aduk. Mencampur aduk agama dan negara, membuat kita tidak berbeda dari para laskar yang membela (katanya) Islam.

Lucunya, kedua orang ini yakni Nurul dan Afi, sama sekali tidak menyinggung secara langsung para laskar bumi datar. Lantas apa yang membuat mereka kuat? Karakter merekalah yang menyiksa dan menghantam habis otak-otak para kaum bumi datar, itupun kalau ada.

Akun Facebook milik Afi Nihaya Faradisa menjadi viral karena statusnya yang inspiratif. Akun miliknya sempat tidak bisa diakses pada Rabu (17/5/2017) karena diblok oleh Facebook akibat banyak yang melaporkannya. Meskipun demikian, Facebook akhirnya kembali membuka akun itu atas permintaan dari para pembaca.

Melihat dari kejadian-kejadian Nurul Indra dan Afi Faradisa, setidaknya ada satu hal yang bisa dipelajari. Ketika satu orang benar dizolimi dan dipenjara, tubuh boleh terkurung, namun jiwa dan semangat justru semakin menyebar. Basuki yang sudah dipenjara, menyisakan Tjahaja Purnama yang justru semakin terang benderang, menginspirasi para warga Indonesia. Inilah sifat dari “cahaya” yang tidak pernah bisa dihalangi oleh apapun. Terima kasih Pak Ahok untuk inspirasi dan semangat yang sudah ditanamkan, dan sekarang mulai bermunculan.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut: https://seword.com/author/hans-sebastian/

WARISAN
Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”.
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Share.

About Author

Si awam yang mau berpikir sampai ke awan. Twitter dan Instagram @hysebastian Terbuka untuk diskusi via disqus maupun e-mail. hysebastian.seword@gmail.com. Kumpulan tulisan: https://seword.com/author/hans-sebastian/

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage