Liem Koen Hian, Anggota BPUPKI yang Dipuji Bung Karno

Liem Koen Hian, Anggota BPUPKI yang Dipuji Bung Karno

8

Bung Karno

Liem Koen Hian adalah tokoh Tionghoa yang dikenal pemberani, vokal dan keras tanpa kompromi. Jejak perjuangannya membekas kuat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia terpilih menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 bersama 3 tokoh Tionghoa lainnya. Tapi Liem Koen Hian sangat istimewa karena Presiden Soekarno sendiri sampai 4 kali menyebut nama Liem Koen Hian dalam pidato pada saat rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno bahkan sempat  berdialog dengan Lim Koen Hian dalam pidatonya dan memujinya karena menyetujui dasar kebangsaan!.

Sejarah mencatat, betapa Soekarno dalam pidatonya yang bertema ‘Pancasila’ sangat mengapresiasi tinggi sosok dan perjuangan Liem Koen Hian. Keanggotaan Liem Koen Hian dalam BPUPKI bersama 3 orang tokoh Tionghoa lainnya menjadi bukti historis perjuangan kaum Tionghoa sekaligus fakta beliau bersama teman-teman seperjuangannya menjadi sosok yang turut memperjuangkan berdiri dan tegaknya negara Indonesia.

Sebagai jurnalis dan tokoh pejuang sebelum kemerdekaan, pena maupun lidahnya dikenal sangat tajam baik terhadap penjajah maupun tokoh atau warga yang justru memihak kepada penjajah.  Liem Koen Hian pernah menegur Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang menurutnya lebih pro kepada Jepang seperti dilansir laman Budaya Tionghoa. Hubungan keduanya sempat memanas tapi akhirnya bisa berbaikan kembali.

Liem Koen Hian juga dikenal kerap menjewer pers Tionghoa yang dinilainya pro penjajah pada masanya.  Tindakan Liem Kok Hian menunjukkan prinsip dan pendiriannya yang teguh dan tidak mau berkompromi. Sosok dan kiprah Liem Koen Hian ini jelas mengingatkan kita pada seorang tokoh Tionghoa masa kini yang dikenal vokal, pemberani dan teguh tanpa kompromi.

Liem Koen Hian adalah tokoh yang pergerakan perjuangan yang menghadapi situasi yang kompleks pada masanya.  Di satu sisi dia menghadapi kelompok Tionghoa yang pro-penjajah entah Jepang atau Belanda karena pada zaman itu Belanda ikut memanjakan sebagian kelompok Tionghoa kendati Belanda juga bermuka dua terhadap kaum Tionghoa.

Di sisi lain Liem Kok Hian juga menghadapi kelompok yang tidak peduli dengan kebangsaan, karena mereka lebih mementingkan kemanusiaan. Tapi Liem Koen Hian tetap teguh berjuang dan mampu membaca tanda-tanda zaman sehingga jerih payahnya dalam berjuang terbayar dan menjadikannya saksi hidup berdirinya negara Indonesia yang menjadi cita-cita perjuanganya sejak belia.

Kiprah Liem Koen Hian sebagai seorang jurnalis membuatnya leluasa untuk menyampaikan visi kebangsaannya lewat tulisannya. Dengan visi tentang kewarganegaraan Indonesia itu, Liem mendirikan Partai Tionghoa Indonesia  yang mendukung gerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti dilansir Pemimpin Redaksi Majalah SINERGI INDONESIA.. Liem menamakan Partainya Tionghoa, karena pada zaman itu sama sekali tidak mengandung aroma eksklusivitas.

Hal yang lumrah dan wajar mengingat ada “Jong Java”, “Jong Soemateranenbond”, “Jong Ambon” atau “Jong Celebes” dsb  Di zaman kebangkitan nasional dulu, tidak ada orang alergi mendengar kata “Tionghoa”seperti setelah zaman berubah menjadi zaman Orde Baru.

Liem Koen Hian juga menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh nasional terkemuka pada masa sebelum kemerdekaan. Liem Koen Hian menjalin persahabatan dengan Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, AR Baswedan, Bung Sjahrir, Bung Amir Sjarifuddin, juga Dr Soetomo dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, yang menyebutnya “Orang Indonesia tanpa peci”.

Sayang sekali perjuangannya bagi kemerdekaan Indonesia tidak dihargai. Liem meninggal pada tahun 1952 dalam usia 56 tahun, tidak lama setelah ia keluar dari penjara. Dia dikhianati oleh negara yang dia perjuangkan untuk berdiri. Dia meninggal dalam kekecewaan tetapi hatinya sebenarnya tetap mencintai Indonesia.

Pemerintah sepatutnya menghargai jasa dari tokoh-tokoh seperti Koen Hian ini. Perjuangannya bukanlah perjuangan instan untuk mencari kedudukan atau mengincar posisi serta kenyamanan. Perjuangannya adalah perjuangan yang alot dan penuh tantangan baik dari penjajah, tokoh pejuang yang kerap menyindir perjuangannya bahkan tantangan dari kaumnya sendiri. Tapi Liem Koen Hian pantang mundur. Perjuangannya lahir dari ketulusan dan nurani yang sadar bahwa perjuangan bagi negara Indonesia adalah panggilan jiwa yang tidak bisa ditawar.

Baca juga :

Sajak :
        # Pancasila adalah Kiblat
        # Presidenku Kurus Tapi Jenius
        # Sajak Untuk BeTePe
        # Sajak buat Pak Basuki Tjahaya Purnama

Share.

About Author

Seorang guru, penggemar bakmi dan makanan rica-rica...

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage