Logika Amien Rais yang Terus Membengkok

Logika Amien Rais yang Terus Membengkok

14

Amien Rais (http://nasional.republika.co.id/)

Gara-gara pengeroyokan dan pembacokan Hermansyah, pakar IT dari ITB yang kabarnya vokal terkait kasus dugaan pornografi (chat mesum) Habib Rizieq dan Firza Husein, Amien Rais (AR) kembali mengumbar kegusarannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia bilang,  “Ahli IT ITB dibacok, berdarah-darah. Semakin anarkis. Rakyat bisa marah kepada pemerintah. Jangan anggap enteng. Pak Harto yang jauh lebih kuat dari Jokowi saja, ketika rakyat marah, sudah selesai. Ini Bung Jokowi jauh lebih lemah dibandingkan Pak Harto, Bung Karno dan lainnya. Pak Jokowi jangan main api, dia itu Lurah Indonesia,” ungkapnya (Jppn, 10/07/2017).

Selain kasus Hermansyah, AR juga marah terhadap kasus Novel Baswedan. Ia sepertinya sangat gelisah makin maraknya main hakim sendiri dan kekerasan. Di pihak lain, polisi dinilainya lamban menangani. Ia sangat menyesalkan polisi yang hanya cekatan menangani para teroris, termasuk bom Bali, tetapi lambat dalam menangani kasus Novel.

Dari pernyataan itu, tampak bahwa rasa dongkolnya kepada Jokowi sudah sampai di ubun-ubun. Kekesalannya kepada Polri hanya sekedar perantara. Target akhirnya tetap Jokowi. Buktinya, kasus penganiayaan terhadap seseorang langsung dikait-kaitkan dengan kekuatan Jokowi yang dianggapnya jauh lebih lemah daripada Suharto, Soekarno. DItambah lagi dengan pernyataan  “Jokowi jangan main api, …”

Dengan menyebutkan Jokowi lebih lemah dibandingkan Suharto, AR mengirimkan beberapa pesan. Pertama, upaya melengserkannya Jokowi dari jabatan presiden tidaklah sulit. Suharto saja, yang powerfull di masa pemerintahannya bisa dilengserkan.

Kedua, ia memberi sinyal bahwa pengaruhnya dalam menggerakkan massa belum tertandingi. Ia bisa menggerakkan orang dari seluruh Indonesia untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Keyakinannya ini, tegas ia dikemukakan pada saat demo 4 November 2016. Waktu itu ia katakan jika Jokowi tidak segera mengadili Ahok, maka ia akan memimpin sendiri rakyat Indonesia keluar dari Indonesia.

Di balik pernyataan itu, ada pesan tersirat bahwa AR sebenarnya berkeinginan memimpin rakyat untuk melengserkan Jokowi dari jabatan presiden seperti dilakukan terhadap Suharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) apabila peringatannya tidak dilaksanakan oleh Jokowi.

Bukan main!!!

Di usianya yang makin sepuh, semangat AR ternyata masih menggebu-gebu seperti ABG. Ia masih membayangkan dirinya sangat kuat dan sangat berpengaruh. Didengarkan oleh seluruh rakyat Indonesia di luar kawan-kawannya di FPI dan barangkali juga HTI. Ia terus mengira bahwa rakyat Indonesia kini masih seperti tahun 1998 atau 2001, yang bisa ia arahkan dan belokkan ke mana pun ia mau. Apa iya?

Tentu saja semua setuju bahwa kasus penganiayaan terhadap Hermansyah dan Novel Baswedan perlu ditangani. Kekerasan demi kekerasan tidak boleh ditolerir. Tapi, menuduh Jokowi sebagai biang dari semua peristiwa itu jelas menyesatkan. Tak termakan logika ilmu pengetahuan mana pun, kecuali ilmu silat lidah.

AR tampaknya terus membiarkan logikanya bengkok. Kejahatan apa pun yang terjadi di dalam masyarakat selalu saja dianggapnya karena Jokowi. Persis jalan pikiran Ratna Sarumpaet yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia miskin disebabkan oleh Jokowi. Logika hitam-putih, jika-maka, dan linier.

AR tidak mau peduli logika umum, hal lumrah, normal, manusiawi, bahwa yang namanya pencurian, perampokan, perkosaan, narkoba, korupsi, fitnah memfitnah antar sesama, bisa terjadi di mana pun dan kapan pun tanpa ada keterkaitannya sama sekali dengan presiden mana pun di negara manapun.

Saya khawatir, suatu saat nanti, ia akan menyalahkan Jokowi gara-gara ia jatuh terpeleset di kamar mandinya yang licin atau saat berjalan kaki ke Mesjid. Atau ia menyalahkan Jokowi kalau ia melihat ada suami istri tetanganya yang bertengkar karena salah satu di antaranya berselingkuh.

Banyak anak muda yang kasihan melihat cara berpikir AR. Dalam komentar, diskusi, di FB atau media sosial lain, banyak yang menyesalkan pernyataan-pernyataan AR yang selalu provokatif. Mereka kecewa karena seorang profesor tega mengorbankan integritas keilmuan, logika akademik demi kepentingannya sendiri.

Contohnya adalah kasus pengeroyokan Hermansyah akibat bersenggolan mobil. Faktanya ada mobil bersenggolan. Pengendara dan penumpang mobil yang satu tidak terima, lalu mengeroyok Hermansyah. Ini tentu kasus penganiayaan biasa seperti yang kerap terjadi di berbagai tempat. Anehnya, AR malah membuat pernyataan provokasi. “Ahli IT ITB dibacok, berdarah-darah. Semakin anarkis. Rakyat bisa marah kepada pemerintah.” Lha, apa hubungannya dengan pemerintah, dengan Presiden Jokowi? Menyesatkan, bukan? AR tampaknya sangat berharap agar Jokowi dimusuhi oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan lebih bahagia lagi kalau Jokowi dilengserkan.

Inilah yang dikaburkan, disamarkan oleh AR. Dengan kelihaiannya berorasi, ia memaksa diri menghubung-hubungkan yang tak ada hubungannya agar tujuannya yang sesungguhnya tak kentara. Ia gagal sadar bahwa mengaitkan ujung jari kakinya yang bernanah karena luka dan lalai diobati, tapi menyalahkan Jokowi, sangat dipahami oleh rakyat sebagai upaya tipu-tipu murahan.

Sedikitpun tak dilintaskan di alam sadarnya bahwa pernyataan-pernyataan provokasi semacam itu berpotensi besar memupuk sikap kekerasan dan main hakim sendiri di dalam masyarakat. Ia tidak mau menyadarkan pikiran dan hatinya bahwa pernyataannya sebagai mantan pejabat tinggi negara, mantan dosen dengan jabatan fungsional akademik profesor, kerap dijadikan rujukan karena dianggap benar. Padahal, lebih banyak yang menyesatkan daripada yang mengarahkan ke jalan yang benar.

Apakah orang semacam ini layak disebut tokoh? Layak jadi panutan? Ah terserah anda!.

Salam Seword

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage