Maaf Pak, Harga Diri Wanita Tidak Sebatas Selaput Dara!

Maaf Pak, Harga Diri Wanita Tidak Sebatas Selaput Dara!

21

sumber: www.medium.com

Indonesia sedang geger akibat salah satu pernyataan dari seorang hakim mengenai cara menekan angka perceraian. Uniknya, saran beliau adalah dengan melakukan tes keperawanan bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Nah loh!

Sebentar, sebelum melakukan ‘vonis’ langsung kepada narasumbernya, telah diklarifikasi bahwa tes keperawanan ini bukan merupakan tes wajib yang dilakukan oleh negara kepada setiap pasangan yang ingin menikah. Tapi lebih kepada pilihan yang fakultatif. Apa sudah cukup meredam makna sebelumnya? Atau mampu meredam emosi para pembaca? Atau malah membakarnya?

Tes keperawanan dirasa perlu untuk menguji apakah pernikahan itu murni atau tidak, sehingga dihasilkan rumah tangga yang suci dan tidak bernoda, katanya. Ah, lantas mereka yang tidak perawan lagi apakah pantas disebut tidak suci? Apakah tidak pantas untuk menikmati pernikahan? Apakah yang masih perawan memiliki jaminan akan mendapatkan kehidupan yang bahagia tanpa perceraian? Nanti dulu, Pak!

Perlu diketahui, ada beberapa penyebab seorang wanita kehilangan keperawanannya. Selain karena berhubungan intim, selaput dara yang rusak atau robek dapat terjadi karena kecelakaan, cedera, bersepeda, berkuda, melakukan peregangan yang berat, serta dapat terjadi karena penggunaan alat medis tertentu saat pemeriksaan organ intim. Ditambah lagi, selaput dara hanya merupakan selaput yang sangat tipis dan rentan rusak/ robek.

Ini saya belum berbicara mengenai perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual loh ya. Tentu akan menjadi tekanan berat bagi mereka. Karena kesalahan seolah-olah dilimpahkan kepada mereka, padahal mereka yang jadi korban. Sudah jatuh tertimpa tangga, beserta anak-anak tangganya pula.

Oiya, belum tentu juga mereka yang sudah pernah berhubungan intim lantas selaput daranya rusak/ robek loh, Pak. Silahkan cek di berbagai forum diskusi. Banyak yang mengatakan organ intimnya mengeluarkan darah setelah beberapa bulan pernikahan, bukan saat malam pertama atau pertama kali melakukan hubungan intim. Semua tergantung pribadi masing-masing, dimana ketebalan dan ketahanan selaput dara tiap wanita tentu berbeda. Ah, nanti saya dibilang menggurui hakim pula ini mah.

Mungkin tes keperawanan bukanlah salah satu cara yang efektif untuk meminimalisir tingginya angka perceraian. Saya malah justru lebih condong bagi pasangan untuk diberikan pelatihan khusus sebelum menikah. Pelatihan ini mencakup bagaimana kesiapan pasangan, pengenalan lebih dalam sifat-sifat pasangan, pengetahuan seksual, hukum dalam perkawinan, pencegahan KDRT, dan sebagainya. Jelas ini jauh lebih bermanfaat.

Dari sisi orang awam yang tidak begitu paham mengenai peradilan seperti beliau, saya rasa tidak ada sangkut-pautnya antara tingginya angka perceraian dengan perlu diadakannya tes keperawanan. Ah, rasanya memang tidak perlu mengerti tentang hukum untuk memahami itu.

Untuk seorang yang bergelar panjang harusnya mengerti bahwa diperlukan sebuah penelitian khusus untuk mendapatkan kesimpulan. Latar belakang, tinjauan pustaka, hasil penelitian, analisa, nah baru menemukan kesimpulan. Semua ini tentu akan lebih masuk akal apabila beliau mampu memaparkan angka presentase perceraian yang disebabkan oleh ketidakperawanan pasangan. Apalagi pernyataan ini sudah beredar luas, berkat media elektronik.

Apakah perlu mendapatkan pasangan yang benar-benar belum pernah melakukan hubungan intim? Rasanya mayoritas pun menginginkan itu. Sama-sama menjadi yang pertama tentu akan sangat menyenangkan. Tapi semua kembali ke pribadi masing-masing. Apabila ingin mengetahui apakah sudah pernah berhubungan intim sebelumnya, silahkan tanyakan sendiri kepada pasangan. Tidak perlu orang tua calon mempelai ikut-ikutan sibuk menanyakan hal ini. Percayalah, semua akan berdampak lebih besar jika calon mertua ikut campur kedalam urusan rumah tangga.

Jika ditelusur lebih jauh, selain tes keperawanan hakim ini juga mengusulkan beberapa hal seperti pada tautan berikut:
https://news.detik.com/berita/d-3636302/selain-tes-keperawanan-ini-5-usul-hakim-binsar-tekan-perceraian/2
Nah, saya malah lebih setuju dengan saran-saran lainnya dibandingkan yang satu tadi. Usul seperti menaikkan syarat usia calon pengantin (sebelumnya 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita), mewajibkan salah satu atau kedua pengantin sudah memiliki pekerjaan (paling tidak sudah memiliki penghasilan), dan memperberat syarat poligami jelas lebih ‘masuk akal’ dibandingkan tes keperawanan yang dinilai kontroversial dan sarat urusan gender.

Jika tes keperawanan (bagi wanita) dilakukan, apakah tes keperjakaan (bagi pria) juga perlu? Nah, makin repot lagi ini nanti urusannya. Jika tolak ukur keperawanan adalah selaput dara, lalu apa tolak ukur keperjakaan? Sudahlah, tidak perlu diperpanjang lagi. Urusan perjaka-perawan itu urusan sesama pasangan saja. Lagipula, bukankah esensi pernikahan itu adalah mau menerima segala kelebihan maupun kekurangan pasangan? Mau mendampingi saat suka maupun duka, saat untung maupun malang? Loh, kok malah saya yang jadi baper sendiri ya.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage