Monopoli Surga Dalam Selembar Sertifikat, Benarkah Pilih Gubernur Seiman Langsung Diganjar Surga ?

Monopoli Surga Dalam Selembar Sertifikat, Benarkah Pilih Gubernur Seiman Langsung Diganjar Surga ?

101

“Tuhanku, jika ibadahku semata dambakan surga yang Kau janjikan jauhkanlah surga itu dariku, jangan biarkan kuhirup semerbak wangi bunga Firdaus, jangan biarkan kucium harum kesturi angin surgawi, jauhkan dan jauhkan surga itu dariku.

Tuhanku, jika sembah sujudku karena takut semata bara dan nyala api neraka, biarkan bara api-Mu melalap jasadku, membakar hangus seluruh tubuhku. Biarkan tulang-belulang menjadi arang, biarkan daging garing berkeping-keping, biarkan neraka itu menghancurkan seluruh tubuhku”

(Rabi’ah Al-Adawiyah)

Ganjaran surga akhir-akhir ini diobral sedemikian murahnya. Begitu pula sebaliknya, ancaman neraka menjadi alat yang ampuh untuk menakut-nakuti seseorang. Surga dan neraka menjadi tema yang paling sering dibahas, terutama dalam Pilgub DKI Jakarta yang baru saja selesai.

Hanya karena beda pilihan politik, beda aspirasi dan beda calon gubernur, timbulah ancaman dan ganjaran seperti ini. Masyarakat bawah ditakut-takuti sekaligus diiming-imingi, jika memilih gubernur yang beda agamanya maka akan dihukumi Tuhan dengan neraka-Nya. Sebaliknya jika mendukung gubernur yang se-iman, sama keyakinannya, maka Tuhan pula yang akan mengganjar amalan kita dengan surga.

Yang lebih lucu adalah kehadiran sertifikat-sertifikat semacam ini. Seakan-akan si pemegang sertifikat memiliki keyakinan bahwa dirinya sudah layak diganjar surga karena dalam Pilgub kemarin dia sudah memilih calon gubernur dan wakil gubernur yang seiman. Betapa murahnya harga sebuah surga, dan kita sebagai manusia sudah bisa menentukan siapa-siapa saja yang bakalan masuk dalam surga keridhaan-Nya.

Persepsi surga yang sifatnya fisik, berupa kenikmatan duniawi yang di sini serba diharamkan namun dihalalkan di alam sana adalah sebuah penggambaran surga yang dangkal. Persis pemahaman calon teroris yang berniat meledakkan dirinya karena Ia sudah dicekoki ajaran atau doktrin bakalan mendapatkan 72 bidadari di surga nanti.

Persepsi surga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi surga yang dipahami kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Ke-Mahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual hewani.

Surga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di surga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan surga adalah surga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Abu Yazid al-Bisthami ketika berada dalam puncak kegembiraan, dia berbisik, “Apakah itu surga? Surga hanyalah mainan dan kesukaan anak-anak. Aku hanya mencari Dzat Allah. Bagiku surga bukanlah kenikmatan yang sejati. Dzatnya menjadi sumber kebahagiaanku, ketentraman yang menjadi tujuanku.”

Mengenai ucapan Abu Yazid yang agung ini, Ibnu Arabi pernah ditanya seseorang. Jawabnya, “Tidak masalah. Rasulullah pernah berkata dalam do’anya, “Wahai Tuhan kami…! Aku mohon kepada-Mu kelezatan melihat DzatMu. Aku rindu ingin bertemu dengan-Mu”.

Apakah peribadatan-peribadan kita di dunia ini melulu untuk mendapatkan ganjaran surga atau ke-ridhaan Ilahi ? Imam Ja’far al Shadiq pernah mengelompokkan tiga tipologi ritus peribadatan hamba kepada Allah. Kesatu, kaum yang menyembah Allah karena takut. Yang demikian itu adalah ibadat hamba sahaya. Kedua, kaum yang menyembah Allah hanya untuk mengharapkan imbalan. Yang demikian itu adalah ibadatnya para pedagang. Dan yang ketiga adalah kaum yang menyembah Allah dengan cinta. Maka itu adalah ibadat mereka yang merdeka. Itulah ibadat paling utama (dalam Dahlan, 2003: 28).

Ketinggian derajat surga yang dipersepsikan kaum sufi memang tidak dipahami oleh awam yang masih terpukau dengan gambaran-gambaran surga layaknya kenikmatan duniawi, yakni berkisar, masalah makanan, harta dan kenikmatan seksual.

Sekarang surga menjadi sedemikian murah bahkan terkesan diobral. Hadir pula dalam sebentuk sertifikat penghargaan yang seolah menjadi legitimasi bahwa pilihan seseorang kemarin dalam ajang Pilgub bisa mengantarkannya pada surga Tuhan. Apakah kita sudah menjadi Tuhan, sehingga bisa memberikan ganjaran surga dan menhukumi seseorang dengan neraka ?

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”

(QS. As-Sajdah :17)

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage