Novel Bamukmin, Semacam Habib, Telah Lakukan Penistaan

Novel Bamukmin, Semacam Habib, Telah Lakukan Penistaan

43

Siapa yang tak kenal Novel Bamukmin? Ia adalah Sekjen Dewan Syuro DPD FPI DKI Jakarta. Kemarin menjadi saksi perdana dalam sidang Ahok. Sebagai saksi perdana, itu artinya, Novel Bamukmin bukan orang biasa. Ya memang, Novel adalah semacam Habib, katanya.

Sebagai saksi perdana, tentu kesaksian Novel ditunggu-tunggu oleh golongan berdaster putih garis cinkrang. Kesaksiannya diharapkan dapat memberi keyakinan ke publik bahwa Ahok memang menista agama Islam. Apalagi, Novel ini kan semacam Habib. Jadi, insyaallah barokah kesaksiannya.

Sayangnya. Kesaksian Novel yang diharapkan dapat menghajar Ahok harus pupus ditelan gaduh gelak tawa. Kesaksiannya bukannya memberi harapan bahwa Ahok selangkah lebih dekat ke penjara, malah jadi bahan tertawaan. Di jalan mereka sangat vokal, sedang di ruang sidang mereka menjadi kura-kura yang sesekali berlindung di balik kata “lupa” dan “tidak tahu”.

Setelah saya analisis apa yang Ahok katakan usai sidang, saya membuat sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini adalah kenyataan pahit yang harus saya sampaikan kepada khususon “semacam Habib” Novel Bamukmin juga ikhwan yang secingkrangan dengannnya. Bahwa Novel Bamukmin telah “menista” setidak-tidaknya tiga (3) hal. Menista? Ya. Bukankah kebenaran itu pahit akhi?

Pertama. Novel Bamukmin telah menista nasab “Habib”. Merekayasa nasab (keturunan) itu dosa besar. Mengaku-ngaku saya adalah keturunan nabi, padahal bukan, itu adalah penistaan yang luar biasa pada keturunan nabi. Jangankan mengaku sebagai keturunan nabi, mengaku sebagai keturunan Mario Teguh saja bisa panjang urusannya di dunia. Ya, kalau mengaku-ngaku keturunan nabi, dunia akhirat bisa panjang tuh urusannya. Haha..

Mengapa saya bisa menyimpulkan Novel Bamukmin itu bukan Habib? Itu bukan kesimpulan saya. Itu kesimpulan dari Rabithah  Alawiyah yang menyatakan bahwa Novel Bamukmin FPI bukan Habib. Jadi, sudah terang benderang penistaan yang telah Novel Bamukmin lakukan.

Kedua. Novel telah menista Pizza Hut. Perusahan tempat dulu ia pernah bekerja. Dalam BAPnya Novel menulis riwayat pekerjaannya dari tahun 1992 sampai 1995 bahwa ia bekerja di Fitsa Hats. Penistaan ini dapat mengganggu stabilitas omset di Pizza Hut. Sebab, ke-syari’ah-an yang hendak dimunculkan oleh Novel dengan mengganti Pizza Hut jadi Fitsa Hats, berpotensi membuat para pengunjung yang terindikasi kafir tidak mau lagi datang. Sebab, takut kalau-kalau nanti disweeping.

Saat ditanya mengapa Pizza Hut dirubah jadi Fitsa Hats, Novel tidak hanya bilang bahwa dia tidak perhatikan. Kata Ahok, “Mungkin dia malu karena kerja di Pizza Hut yang punya orang Amerika.” Bisa jadi Novel malu, sebab, Bib Rizieq kan telah kasih fatwa bahwa haram hukumnya bekerja di perusahaan yang bosnya kafir. Karena sudah terlanjur bekerja disana, akhirnya, Pizza Hut pun diislamkan dulu jadi Fitza Hats. Biar kesaksiannya nanti barokah. Haha..

Penistaan terakhir yang dilakukan Novel adalah penistaan iman orang-orang di Pulau Seribu. Ini juga fatal sebab iman adalah hak Allah untuk menilainya. Novel sungguh berani merebut hak prerogatif ini. Sudah ngaku-ngaku keturunan nabi, berani pulai menilai iman orang. Duhh..

Ahok sebelumnya menerangkan bahwa setelah ia pergi berkunjung ke Pulau Seribu, sorenya, banyak telpon masuk ke Novel dari Pulau Seribu yang mengatakan bahwa Ahok menista dan menodai agama. Atas pernyataan itu muncul pertanyaan, “Siapa yang telpon?” Jawab Novel, “Sudah saya hapus telpon dan smsnya.” Oleh karenanya, Ahok akan mengajukan ke kepolisian untuk meminta bukti dari provider taggal 27 September 2016 sore, ada berapa orang yang menelpon ke Jakarta dari Pulau Seribu ke nomor Novel Bamukmin.

Ahok mengatakan bahwa pelaporan dirinya itu atas kehendak umat Islam seluruh Indonesia. Lalu ditanya, “Orang di Pulau Seribu umat Islam Indonesia bukan?” Jawabnya, “Iya. Tapi kurang beriman. Ini beda Islamnya.”

Setelah Novel Bamukmin ngaku-ngaku jadi keturunan nabi, sekarang Novel ngaku-ngaku telah ditelpon oleh banyak orang di Pulau Seribu. Kalau memang benar orang Pulau Seribu menelponnya, tentu siapa yang menelpon dan apa bunyinya harus disimpan bahkan kalau perlu didatangi langsung kesana. Lalu, orang tersebut yang melapor sendiri. Karena kan mereka yang lihat langsung.

Sudah ngaku-ngaku segala macam, dan bawa-bawa orang Pulau Seribu. Novel berbuat tak tahu malu lagi dengan mencap umat Islam di Pulau seribu sebagai kurang beriman dan Islamnya beda. Di satu sisi ia mau mendapat dukungan warga Pulau Seribu, di sisi lain ia malah menghajar warga yang diakui telah mendukungnya. Novel.. Novel.. Ente kebanyakan makan Fitsa Hats yah? Yang isinya daging onta.

Jadi jelas ya! Novel Bamukmin telah melakukan tiga penistaan dalam pembacaan kesaksiannya. Ini prestasi yang luar biasa. Dalam sekali peristiwa Novel melakukan Hattrick. Mengalahkan seniornya, Bib Rizieq.

Saya rasa, begitulah kura-kura.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage