Pelajaran di Balik Terciduknya Mahasiswa Karbitan Pengumpat “Pelacur”

Pelajaran di Balik Terciduknya Mahasiswa Karbitan Pengumpat “Pelacur”

25

 

Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua. Tetaplah berpelukan dalam perbedaan, jangan lelah mencintai Indonesia. Jangan jadikan perbedaan sebagai bibit perpecahan tapi jadikan keberagaman sebagai modal kekuatan untuk kita, bahwa dengan Bhineka kita Tunggal Ika. Merdeka.

Jangan karena benci menjadikan kita tidak adil”

Pelacur, kata kurang ajar ini dialamatkan pemuda pentol korek pada ibu Negara, kata-kata ini pula yang mengantarkan seorang pemuda pada sebuah peristiwa hukum, kelakuannya tidak mencerminkan orang terpelajar. Menyedihkan sekali bangsa ini.

Jokowi PKI, Jokowi keturunan Cina, Jokowi anti Islam, Jokowi Otoriter, Jokowi mirip Orde Baru. Itulah hujatan para begundal yang gagal move on setelah Pilpres lalu, dibukanya keran demokrasi ternyata tidak menjadikan bangsa ini dewasa, tapi cenderung kebablasan. Satu hal jadi tanya retoris dalam benak saya, soal pentol korek yang dengan gagah menyebut Jokowi mirip Orde Baru. Saya pastikan, jika Jokowi seperti di alam fikiran mereka, berani taruhan saya, orang macam mereka akan berakhkr di dalam karung goni. Dengan kalian “ngebacot” tapi nyawa tidak melayang harusnya kalian sadar negara ini sudah jauh berbanah dalam proses penegakan pilar-pilar demokrasi, masih berani sebut rezim ini mirip Orde Baru?

Lau salahnya dimana?  Menurut saya, salahnya pada masyarakat yang memaknai kebebasan itu dalam artian “sebebas moyangnya” tanpa memperhatikan rambu dalam mengemukakan pendapat dan kritik dan tanpa memperhatikan hak orang lain.

Tersentak pastinya kita semua ketika ibu Negara yang sederhana dikatakan Pelac*r oleh mahasiswa karbitan itu. Ingin rasanya saya robek-robek mulut yang bersangkutan atau membiarkannya digilir kaum LGBT biar dia tahu rasa. Syukurlah Polisi sudah menggelandang yang bersangkutan dan “Terciduk”

Alasan Mahasiswa karbitan ini yaaa seperti kaum pentol korek kebanyakan, karena tidak suka dengan pemerintahan Jokowi. Seperti yang saya sebut di atas, mereka ini barisan gagal move on. Kerennya lagi Mahasiswa yang matang dipaksakan ini diberitakan rajin ke Masjid dan rajin menjadi Muazin, miris memang, bagaimana mungkin orang yang demikian bisa berlaku bar-bar seperti ini.

Bangsa ini memang sudah kelelahan, lembaga pendidikan sepertinya tidak mampu membendung lahirnya generasi pemecah kebhinekaan ini. Masjid juga seperti tidak berdaya membendung kebencian level akhir ini, tapi jika kita runut kebelakang memang salah juga Negara ini yang mempertontonkan dan membiarkan contoh-contoh radikal ketika pilkada DKI Jakarta lalu. Bagaimana tidak, Kata-kata Bunuh Ahok, Gantung Ahok, Matikan Ahok sepertinya di anggab wajar oleh pihak Kepolisian kita saat itu. Bahkan anak kecil ketika pawai obor nyanyiannya adalah “Bunuh Ahok” Jadi jangan salahkan juga kenapa bibit perpecahan itu semakin kian menganga, itu karena aparat keamanan abai sejak awal.

Sodara sebangsa dan setanah air, kekhawatiran saya akan hal ini pastinya juga jadi kekhawatiran kita semua. Tidak ada kata terlambat untuk kita kembali bangkit memerangi perangai perusak tatanan kebangsaan ini. Mari kita bergandeng tangan memerangi bibit kebencian yang bermula dari ketidakdewasaan demokrasi kita. Semoga aparat keamanan menjadikan ini pelajaran berharga bahwa sebelum membesar sedari awal hal ini sudah dicegah

Kesimpulan dan Penutup

Sehebat apapun aturan hukum yang mengatur sesuatu hal, tanpa dilandasi oleh niat untuk menegakkannya sesuai aturan hukum, saya pastikan semua akan sia-sia. Kurang apa coba UU mengatur lalu lintas di media sosial? nyatanya akun penebar kebencian makin banyak. Penerapan hukum juga terkesan pilah-pilah mungkin itu juga penyebabnha, semoga dengan banyaknya kaum pentol korek yang di dikandangkan aparat menjadi bahan renungan bagi kita semua, agar bijak dalam bermedia sosial.

Memang benci kadang membutakan mata nurani, semoga artikel ini mewaraskan.

Wasalam
Suara Honorer

Yolis Syalala

Share.

About Author

Kaca mata HONORER

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage