“Penyakit” Kronis Amien Rais Makin Parah

“Penyakit” Kronis Amien Rais Makin Parah

13

Amien Rais dan Habib Rizieq Shihab (www.mwordnews.info)

Penyakit kronis kebencian Amien Rais (AR) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya makin parah. Makin kronis. Hampir tiga tahun penyakit itu sudah melanda dan menggerogoti dirinya seiring dengan jabatan Jokowi sebagai presiden RI. Mulai dari pikiran, menjalar ke seluruh jaringan tubuh, dan kini merasuk ke sum-sum tulangnya. Tampaknya tidak bisa diobati lagi. Mengancam jiwanya.

Awal penyakit itu sebenarnya sederhana. Berawal dari kedongkolannya pada dirinya sendiri karena salah memainkan strategi untuk menjadi presiden pada Pemilu 1999, setelah BJ. Habibie. Mau tahu? Kisah singkatnya kurang lebih seperti berikut.

Saat nama AR tengah melambung tinggi dalam perpolitikan nasional usai melengserkan Suharto dari jabatan presiden 1998, gerakan “Poros Tengah” yang dipeloporinya (beberapa partai Islam yang berkolaborasi dengan Golkar) sepakat mencalonkannya menjadi Presiden RI, tapi ia tolak.

Mengapa ia tolak? Sebagai orang Jawa, AR berpikir tidak elok kalau langsung menerima usul itu tanpa dibumbui sedikit basa-basi. Selain dirinya bisa dianggap terlalu menonjolkan ambisi pribadi (padahal memang begitu), hubungannya dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sahabat kentalnya dalam perjuangan melawan kekuasaan Orde Baru yang sewenang-wenang masih mesra. Untuk itu, AR bilang, “Jangan saya. Gus Dur saja.” Harapannya dalam hati, Gus Dur juga berbasa-basi menolak. Kalau hal itu dilakukan Gus Dur, maka AR menilai ia bisa tampil mulus dengan dukungan penuh dari banyak pihak.

Harapan AR ternyata meleset. Gus Dur yang sangat gelisah melihat negerinya di tangan Suharto tidak mau berbasa-basi. Beliau menanggapinya sangat serius. Gus Dur paham betul bahwa tawaran itu tidak datang dua kali. Tidak seperti tawaran duduk di barisan depan saat seminar. Dengan sigap dan yakin pun beliau menyatakan bersedia dicalonkan, lalu terpilih, dan menjadi Presiden RI keempat.

AR senang? Bahagia? Tentu saja tidak. Hatinya jelas hancur, tercabik-cabik. Ia dongkol pada dirinya sendiri, dan, terlebih kepada Gus Dur. Sejak saat itu AR mulai membiakkan dalam hatinya bibit perselisihan dengan Gus Dur. Sepanjang pemerintahan Gus Dur, AR terus menampilkan diri sebagai musuh. Terus menggelorakan perseteruan. Tidak lagi merasa malu sebagai ketua MPR RI untuk turun ke jalan memimpin demonstrasi pelengseran Gus Dur, sampai diberhentikan sebagai presiden RI pada sidang umum MPR, 21 Juli 2001.

Untuk sementara, hati AR agak lega. Balas dendamnya kepada Gus Dur tercapai.

Gagal di Pilpres 2004

Apakah AR tenang? Ternyata tidak. Ambisi yang ada dalam dirinya tidak bisa ia jinakkan. Bak singa kelaparan. Ia terus mengaum sehingga hidup AR tidak bisa tenang. Tidak bisa tidur. Oleh sebab itu, pada Pilpres 2004, AR memutuskan maju turut bertarung merebut jabatan impiannya itu menghadapi empat pasangan lainnya (Hamzah Haz-Agum Gumelar, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Wiranto-Salahuddin Wahid dan Soesilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla).

AR mengira popularitasnya masih tinggi. Namanya masih harum. Dia mengira rakyat masih mengidolakannya seperti pada tahun 1998. Oleh sebab itu, dalam setiap ia berkampanye kata-kata dan penampilannya seolah memberi pesan kepada publik bahwa dirinyalah presiden.

Nyatanya? Perkiraan AR meleset lagi. Ia tidak dipilih. Gagal lagi menjadi presiden RI.

Hidup AR pun terus berubah. Yang dulu ceria menjadi sering murung. Hatinya merana. Hasil perhitungan akhir pada Pilpres itu hanya menunjukkan angka 17.392.931 atau 14,658% rakyat yang memilih dirinya dan Siswono. Persentase ini lebih rendah dari capaian pasangan Agus-Sylvi pada Pilgub DKI putaran pertama sebesar 17,02% dari seluruh suara.

Pilpres itu kemudian dimenangkan oleh pasangan SBY-JK dengan suara lebih 60% mengalahkan pasangan Megawati Sukarno Putri dengan suara lebih 39% pada putaran kedua (Suara Merdeka, 5/10/2004).

Dalam tulisannya pada kabarindonesia.com, Tony Mardianto berpendapat bahwa gerakan AR sejak tahun 1999-2004 menunjukkan ambisi yang luar biasa untuk menjadi Presiden RI. Bagi rakyat, ambisinya yang luar biasa itu dianggap melenceng dari tujuan reformasi. Inilah yang menyadarkan para mahasiswa dan masyarakat pada umumnya tentang siapa Amien Rais yang sebenarnya. Mahasiswa merasa diperalat, rakyat merasa dikhianati. Perpaduan kekecewaan terhadap Amien Rais terwujud dalam bentuk tidak diberikannya dukungan oleh masyarakat dan mahasiswa pada Pilpres 2004.

Gagal Memresidenkan Prabowo

Pada pilpres 2009 dan 2014, popularitas AR terus merosot. Sudah tidak ada lagi partai atau kelompok masyarakat yang meliriknya, walau hanya seperempat ekor mata sekalipun. Sebagian besar anggota masyarakat Indonesia, setidaknya yang sering mengemukakan analisis dan pengamatannya di berbagai media, makin paham sifat inkonsistensi dan tidak tulusnya perjuangan AR untuk kepentingan bangsa dan negara.

Publik tahu, bahwa perjuangan AR ternyata sangat lokal dan partikular. Melulu dan berpusat pada kepentingan dirinya, keinginannya, atau kelompoknya sendiri. Prabowo Subianto yang dikritiknya habis-habisan atas kasus-kasus orang hilang pada masa pemerintahan Presiden Suharto, tiba-tiba dia jagokan pada Pilpres 2014 yang berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Saking bersemangatnya mendukung Prabowo-Hatta Rajasa dengan gagah berani ia mengumumkan kepada publik bahwa Jokowi mustahil menang. Andaikata Jokowi menang, maka AR bernazar akan berjalan kaki dari Jogja-Jakarta pulang pergi.

Bagi dia saat itu, tidak mungkin ada orang yang bisa memimpin Indonesia selain Prabowo. Hanyalah Prabowo yang mampu mengangkat Indonesia dari keterpurukan (tentu saja yang dia maksud adalah keterpurukan setelah SBY memimpin Indonesia selama 10 tahun).

“Mudah-mudahan hati kita dijauhkan dari penyakit munafik, mudahan-mudahan perbuatan kita dijauhkan dari perbuatan ria dan pamer, mudah-mudah lisan kita dijauhkan dari kata bohong, mudah-mudahan mata-mata kita bukan mata-mata pengkhianat,” kata Amien di acara Rakernas PAN, di DPP PAN, Jalan TB Simatupang, Jakarta (Merdeka.com, 30/5/2014).

Bagi dia, ada empat pokok keunggulan yang dimiliki Prabowo sebagai modal andalan untuk menjadi presiden. Pertama, mampu menghalau tekanan asing.

Kedua, Prabowo mirip dengan Presiden Indonesia pertama Soekarno. “Saya bukan tukang membaca wajah manusia, tapi Pak Prabowo dari samping seperti Bung Karno, dari depan seperti Bung Karno. Pidato luar biasa seperti Bung Karno,” kata Amien di Rumah Polonia I/29, Jl Cipinang Cempedak.

Ketiga, ganteng dan kaya. Kalau sudah kaya sudah pasti presiden yang demikian tidak akan korupsi, tegas AR.

Keempat, tidak galak. Ia mengaku sudah mengenal Prabowo sejak lama. Keduanya pernah bersama-sama ke Iran bertemu menteri-menteri Rafsanjani, ketemu presiden Muamar Khadafi di Lybia. Selama 10 hari bersama Prabowo di situ, satu hotel, dia mengenal betul sifat dan kepribadian Prabowo sebagai sosok yang agamis, tidak arogan, tidak kementus dan kemaki. “Kalau ada yang bilang Prabowo galak itu tidak benar, saya bisa buat testimoni,” ungkapnya (Merdeka.com, 30/5/2014).

Kriterianya, masuk akalkah? Bukankah ribuan atau bahkan jutaan orang bisa didapatkan dengan kriteria seperti itu? Tapi baiklah, mari kita ikuti jalan pikirannya dulu.

Setelah AR pontang-panting sampai mulutnya berbusa-busa bicara kehebatan Prabowo, hasil pemilihan presiden berbicara sebaliknya. Kendati fitnah sistematis lewat media sosial dan tabloid Obor Rakyat dipakai untuk menghantam Jokowi, pasangan Jokowi-JK, yang dijuluki “Jokowi-JK adalah kita” itu ternyata keluar sebagai pemenang. Prabowo dikaparkan oleh rakyat. Amien Rais pun kejang-kejang. Gugatan di MK ternyata tidak menolong. Sia-sia. Ini bukti berikutnya bahwa rakyat sudah sangat paham siapa AR. Prediksinya terhadap Prabowo, Jokowi, dan dirinya sendiri meleset 100%.

Ingkar melaksanakan Nazar

Apakah nazarnya dilaksanakan? Ternyata tidak. Giman, 38 tahun, warga Malang, Jawa Timur,  yang juga bernazar berjalan kaki ke Jakarta apabila Jokowi menang terpaksa kecewa. Soalnya, ketika Giman mampir di Yogyakarta hendak mengajak AR berjalan kaki bersama ke Jakarta tanggal 21 September 2014, mantan Ketua MPR itu tidak ada di rumahnya di Pandan Sari, Condongcatur, Depok, Sleman (Tempo, 29/9/2014).

Yang terjadi, penyakit kronis kebencian yang menggerogoti dirinya, pikirannya, semangatnya, dan seluruh hidupnya memuncak. Semua rasa dongkol karena kegagalannya ditumpahkan ke Jokowi. Apa saja yang dilakukan Jokowi selalu dan terus dianggapnya salah. Semua kejahatan yang terjadi dalam masyarakat selalu dipersepsikannya sebagai pekerjaan Jokowi. Ia bahkan menggambarkan Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi sudah hancur berantakan tak karuan.

Bermacam-macam istilah dia pakai untuk mengekspresikan penyakitnya itu kepada Jokowi. Ia bilang banyak program Jokowi yang tidak simpatik bagi umat Islam, tidak mendukung ekonomi umat, Jokowi membiarkan kriminalisasi para ulama, jago blusukan tapi menghindar ketika para tokoh GNPF MUI menemuinya di istana saat demo 411, jokowi membiarkan penjajahan asing blok Mahakam-Freeport Mcmoran, jokowi melindungi penista agama Islam.

Dari semua itu, kasus Ahok tampak sangat istimewa bagi AR. Kasus itu seolah memberi dia energi untuk meraih mimpinya menjadi presiden. Saat orasi pada demo 4 November 2016, dengan lantang AR bilang “jika Jokowi tidak segera mengadili Ahok, maka saya akan memimpin sendiri rakyat Indonesia keluar dari Indonesia (bataranews.com).

Ha ha ha bagaimana logikanya itu profesor? Rakyat Indonesia keluar dari Indonesia? Mau membentuk negara Indonesia di luar Indonesia untuk menjadi Presiden ya? Di mana? Di laut apa di udara profesor? Rakyat Indonesia yang mana yang profesor maksud?

Ahhh saya makin pusing. Pusing. Pusing menyaksikan penyakit profesor yang satu ini. Rasanya saya butuh minuman penyegar. Ada jus tomat?

Share.

About Author

Warga negara Republik Indonesia yang terus berusaha belajar untuk bisa memaknai hidup dengan berbagi ide kepada publik.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage