Persamaan Aa Gym dengan Peserta Kirab Waisak di Borobudur

Persamaan Aa Gym dengan Peserta Kirab Waisak di Borobudur

140

Untuk memulai tulisan ini, aku haturkan kepada segenap umat Budha, selamat bersukacita dalam momen Waisak tahun ini. Ya, baru saja umat Budha telah merayakan hari yang sungguh sakral tersebut. Jika berbicara mengenai Waisak, tidak akan afdol bila tak membahas monumen termasyhur yang dipunyai bangsa Indonesia. Dialah Candi Borobudur. Candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini, tak pernah absen menjadi venue utama bagi saudara umat Budha, dalam menjalankan ritual Waisak.

Borobudur dikenal sebagai candi bercorak Budha. Maka tak heran, kalau Borobudur selalu menjadi pusatnya kegiatan ritual dalam agama Budha. Momen hari besar Waisak yang baru saja berlalu, juga dilaksanakan di komplek Candi Borobudur. Dan sudah jamak diketahui, bahwa ritual perayaan Waisak di sekitar Borobudur, telah menjelma menjadi atraksi yang memukau.

Prosesi ritual Waisak, memang eksklusif hanya dilakukan oleh umat beragama Budha. Namun segenap masyarakat lainnya yang tidak menjalani ritual Waisak, tetap bisa “menikmati” rangkaian acara Waisak itu. Ya, prosesi Waisak terdiri dari sejumlah ritual. Beberapa dari ritual tersebut dilakukan secara terbuka. Sehingga warga masyarakat dan wisatawan, dapat menyaksikan ritual-ritual ini secara langsung. Maka tak heran, prosesi Waisak telah menjadi agenda tahunan yang selalu ditunggu.

 

Kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

Pengalaman pertama, selalu menghadirkan sensasi yang menakjubkan. Ya, patut kuakui. Di tahun 2017 ini, aku beruntung memiliki kesempatan yang cukup longgar. Maka, aku tidak menunda-nunda lagi untuk datang ke Magelang. Apalagi kalau bukan untuk menjadi saksi, bagaimana prosesi Waisak yang dilaksanakan oleh umat Budha. Dengan membulatkan tekad, dan mengambil sejumlah uang dari tabungan, aku pergi ke Borobudur. Walaupun aku sudah pernah mengunjungi Borobudur sebelumnya, tetapi kesempatan yang kali ini kurasakan, tetaplah membuatku antusias! Karena kali ini aku ingin menyaksikan sejumlah ritual Waisak.

Borobudur…, I’m coming again…!!!

Sebelum berangkat ke Borobudur, aku selalu mencari-cari segala informasi yang diperlukan. Setelah membaca-baca mengenai prosesi Waisak yang hendak dilaksanakan oleh Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi), aku fokus ingin menyaksikan dua ritual. Dua ritual itu adalah: kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, dan penerbangan lampion di malam Waisak.

Aku sudah berada di sekitar komplek Candi Borobudur, pada hari Rabu siang, 10 Mei lalu. Aku sengaja tidak mengikuti prosesi yang berlangsung di Candi Mendut. Ya, ritual Waisak memang mulai diadakan di lokasi Candi Mendut. Komplek Candi Mendut yang posisinya sekitar 3 kilometer dari Borobudur ini, tidak sebesar komplek Borobudur. Sehingga pastilah Candi Mendut akan dipenuhi para pemuka dan segenap umat Budha yang sedang menjalankan ritual Waisak.

Aku pribadi tidak ingin mengganggu kekhusyukan ritual yang sedang dilaksanakan di Candi Mendut tersebut. Barulah ketika prosesi kirab yang dimulai dari Candi Mendut ke Borobudur, aku antusias untuk mengamatinya. Nah, kirab atau pawai inilah, salah satu atraksi yang bisa ditonton oleh masyarakat umum dengan lebih leluasa. Karena tentu saja, kirab ini diadakan di sepanjang jalan raya, yang menghubungkan Candi Mendut dan Borobudur.

Rabu, 10 Mei 2017 kemarin, langit di sekitar Borobudur amatlah cerah. Cerah dan terik tentunya. Namun cuaca yang menggelegar ini, sama sekali tidak menyurutkan animo masyarakat di sekitar komplek Borobudur, untuk menyaksikan pawai Waisak ini. Hal ini terbukti dari mulai berjubelnya warga, di pinggir jalan di sepanjang rute antara Candi Mendut dan Borobudur.

Aku sempat bercengkerama dengan seorang ibu-ibu, yang sudah stand by bersama anaknya. Aku mencoba membuka percakapan dengan basa-basi. Tak lama, si ibu pun bercerita lebih jauh. Dia yang merupakan salah satu warga yang tinggal di dekat komplek Borobudur, sangat antusias dengan kirab Waisak.

Menurut si ibu, kirab ini selalu diadakan setiap tahun. Meski si ibu mengenakan hijab, yang berarti menunjukkan agamanya apa, namun ia sama sekali tidak mempermasalahkan, bahwa kirab ini adalah bagian dari ritual hari besar agama yang tidak dianutnya.  

Bagi warga sekitar, kirab Waisak ini tentu menjadi salah satu atraksi yang menyenangkan. Menjadi hiburan gratis yang cuma ada setahun sekali. Dari antusiasme warga masyarakat yang benar-benar aku buktikan sendiri, menunjukkan bahwa momen Waisak telah menjadi “berkah”. Yang paling kentara, tentu saja karena melonjaknya wisatawan yang datang ke Borobudur. Dan para wisatawan ini, termasuk aku, sudah pasti akan meningkatkan pendapatan mereka. Setidaknya dari jasa penginapan, transportasi, dan warung makanan.

Kalau dari informasi resmi Walubi, kirab dari Candi Mendut dimulai pada pukul 15.00. Aku menunggu dengan excited, seperti apa pawai Waisak yang akan kusaksikan ini. Kirab yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sekitar jam 4 sore, dari jauh telah terlihat arak-arakan yang mengarah ke Borobudur. Karena prosesi ini adalah bagian dari ritual hari besar Waisak yang skalanya nasional, maka pengamanan dari aparat pun juga maksimal. Petugas kepolisian, mulai dari voorijder, mobil khusus, hingga pasukan anti huru-hara, mengawali kirab peserta Waisak, yang datang dari komplek Candi Mendut tersebut.

Marching band sebagai pembuka kirab Waisak 2017. Source: dokumentasi pribadi

Lambang negara Garuda Pancasila, diarak dalam kirab Waisak. Source: dokumentasi pribadi

Peserta pawai Waisak diawali oleh grup marching band. Kemudian terdapat lambang negara Garuda Pancasila, yang diikuti rombongan pembawa bendera sang saka Merah Putih. Selanjutnya, ada rombongan peserta yang mengenakan pakaian adat suku-suku yang ada di Indonesia.

Pasukan pembawa sang saka Merah Putih, dalam pawai Waisak. Source: dokumentasi pribadi

Peserta mengenakan pakaian adat. Source: dokumentasi pribadi

Tak cuma itu. Kirab juga diisi oleh rombongan orang yang membawa alat tani tradisional dan padi. Kemudian disambung oleh rombongan yang mengusung gebogan. Gebogan adalah susunan buah dan makanan, yang biasa diusung oleh masyarakat Bali. Tidak itu saja. Ada pula arak-arakan yang mengusung tumpeng yang berisi aneka bahan makanan dan buah-buahan.

Peserta kirab menunjukkan ciri khas petani di Indonesia. Source: dokumentasi pribadi

Sampai di momen ini, aku sungguh berdecak kagum dengan apa yang tersaji di depan mataku itu. Asli! Kirab ini tak ubahnya pawai yang biasa terjadi pada momen hari kemerdekaan alias Agustusan. Barangkali panitia Walubi ingin menghadirkan rangkaian pawai yang sangat “bercitarasa” Indonesia. Ya, amat relevan dengan kondisi sosial saat ini. Bahwa, betapa di hari-hari belakangan, situasi kebangsaan sedang mendapat cobaan yang bertubi-tubi. Spirit Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi nafas bangsa Indonesia, sedang terombang-ambing.

Kirab dilanjutkan dengan segala hal yang terkait dengan prosesi Waisak. Simbol-simbol dalam agama Budha, diusung berurutan. Ada simbol bunga teratai. Ada simbol roda cakra. Ada pula miniatur patung Budha. Satu yang menarik, tentu saja adalah Api Dhamma. Api yang diambil dari sumber api alam di Mrapen, yang khusus digunakan untuk ritual Waisak.

Pemuka agama Budha dalam kirab Waisak 2017. Source: dokumentasi pribadi

Pemuka dan umat Budha, bersama-sama menjalani ritual kirab Waisak. Source: dokumentasi pribadi

Setelah itu, rangkaian kirab diisi oleh segenap umat Budha. Termasuk para pemuka agama Budha, bhiksu dan bhiksuni (tolong koreksi kalau ada kesalahan). Mereka semua berjalan beriringan. Bahkan beberapa diantaranya turut menyenandungkan lagu-lagu yang bernafaskan religi.

 

Persamaan Aa Gym dengan Peserta Kirab Waisak

Dari peserta kirab kali ini, aku menangkap satu bagian yang amat menarik. Dari kaos yang mereka kenakan, mereka adalah rombongan Mahasiswa Buddhis. Poin yang membuat mereka menonjol adalah, mereka membawa sejumlah kantong plastik besar. Bisa ditebak, kantong-kantong plastik ini mereka gunakan untuk menampung sampah-sampah, yang barangkali disebabkan rombongan pawai Waisak yang ada di depan mereka. Hal ini wajar, mengingat rute yang harus dilalui oleh peserta kirab yang lumayan (3 km), dengan cuaca yang cukup terik. Kondisi ini menyebabkan banyak peserta kehausan dan berkeringat, yang akhirnya meninggalkan botol-botol sisa kemasan air dan tisu bekas di sepanjang jalan.

Rombongan Mahasiswa Buddhis yang memunguti sampah di sepanjang kirab Waisak. Source: dokumentasi pribadi

Rombongan Mahasiswa Buddhis yang memunguti sampah di sepanjang kirab Waisak. Source: dokumentasi pribadi

Tunggu, apa yang dilakukan oleh para mahasiswa Buddhis tersebut, langsung menggiring ingatanku pada sosok Aa Gym. Benar, da’i bernama asli Abdullah Gymnastiar ini sempat kembali populer dalam beberapa bulan belakangan. Terlepas dari sejumlah pernyataan dan sikapnya yang kadang dinilai kurang pas, tetapi ada sisi lain dari Aa Gym yang patut dihargai.

Aa Gym dan santrinya pada aksi demo 411. Source: detik.com

Apakah itu…? Masih ingatkah kamu dengan aksi demonstrasi pada 4 November 2016 di Jakarta? Aa Gym yang berasal dari Bandung itu, turut serta dalam aksi demo di ibukota. Bersama sejumlah santrinya di ponpes Daarut Tauhid, Aa Gym menunjukkan sisi lain dari aksi 411 tersebut.

Santri Daarut Tauhid mengumpulkan sampah pada aksi 411. Source: okutariani.com

Aksi itu adalah usaha Aa Gym untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di sepanjang rute demonstrasi. Aa Gym mengerahkan santri-santrinya, untuk memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan peserta demo lainnya. Dengan berbekal sapu lidi dan kantong-kantong plastik besar, Aa Gym dan timnya berusaha membersihkan sampah-sampah yang berserakan.

Santri Daarut Tauhid mengumpulkan sampah pada aksi 411. Source: dtpeduli.org

Apa yang ditunjukkan oleh Aa Gym tersebut, kembali aku dapati dalam ritual kirab hari raya Waisak di Borobudur barusan. Dari sini aku memperoleh insight. Bahwa urusan kebersihan yang kadang masih dipandang sebagai hal yang remeh-temeh, merupakan urusan yang penting. Faktor kebersihan adalah “kesan pertama” yang nampak secara fisik. Jika urusan kebersihan sudah diperhatikan, niscaya akan menghasilkan sesuatu yang (semoga) lebih baik.

Rombongan Mahasiswa Buddhis dalam kirab Waisak 2017. Source: dokumentasi pribadi

Baik itu Aa Gym dan segenap santrinya, maupun para mahasiswa Buddhis, mereka semua patut diapresiasi dengan adil. Keduanya mempunyai kepedulian terkait kebersihan. Ya, urusan kebersihan dan lingkungan memang tidak ada hubungannya dengan SARA. Urusan kebersihan adalah universal.

#waisak

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage