Problem Zaman Millenium: Transportasi Konvensional VS Online

Problem Zaman Millenium: Transportasi Konvensional VS Online

0

Entah bagaimana dengan kota-kota lainnya. Namun untuk beberapa waktu belakangan, kota Malang serasa ketiban sampur. Dua hari ini, kota Malang seolah ‘lumpuh’. Lumpuh transportasi publiknya. Sopir angkutan kota yang terdiri dari mikrolet (angkot) dan taksi berargo, ramai-ramai melakukan aksi unjuk rasa. Tuntutannya cuma satu. Berharap pemerintah kota (pemkot) segera ‘menertibkan’ moda transportasi berbasis teknologi alias online.

Pengguna gawai masa kini. Source: linimasa.com

Teknologi memang sengaja dicari dan diciptakan, semata-mata untuk memudahkan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Apabila berbicara mengenai teknologi informasi, duuhh…, bagiku yang anak zaman 90-an, sangat merasakan bagaimana perubahan yang terjadi di dalam dunia teknologi informasi amatlah cepat. Begitu drastis. Dan tentu saja semakin terasa simpel dan memudahkan.

Aku masih ingat. Masa kecilku, foto presiden yang terpampang di dinding kelas masihlah Pak Harto. Plus wakil presiden Pak Try Sutrisno. Kala itu, dunia sekelilingku masih akrab dengan telepon umum, telepon kartu, dan surat berprangko. Termasuk kartu pos, dan telegram. Kata yang tersebut terakhir ini, bahkan telah bertransformasi dan memiliki makna yang jauh berbeda di masa kini. Sekarang, orang lebih mafhum jika ‘telegram’ adalah sejenis aplikasi perpesanan yang bisa digunakan di smartphone.

Padahal, 20 tahun yang lalu, telegram adalah salah satu produk dari PT. Telkom. Layanan jasa surat yang supercepat. Melebihi kecepatan yang dipunyai oleh PT. Pos. Lantaran kecepatan inilah, maka harga sebuah telegram sudah pasti jauh lebih mahal ketimbang surat berprangko konvensional.

Di akhir abad 20 itu, teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang. Dengan munculnya pager dan telepon seluler (ponsel), maka orang bisa dengan mudah bertukar kabar dan informasi dengan seseorang lainnya yang terhalang oleh jarak ribuan kilometer. Orang tak lagi terpaku dengan pesawat telepon yang bisanya cuma stay di tempat. Dengan membawa sebuah ponsel, seseorang tak lagi terhalang untuk bisa berkomunikasi dengan cepat.

Memasuki abad 21, teknologi ponsel semakin ‘pintar’ saja. Oleh sebab itu muncullah smartphone. Ponsel yang bukan sembarang ponsel. Ponsel yang tak sekadar untuk ber-halo ria, atau berkirim pesan singkat melalui sms. Tetapi ponsel telah bertransformasi menjadi ‘sahabat’ terdekat dari seorang manusia. Segala macam aplikasi tercipta dan tersedia. Dan bisa diunduh dan dipergunakan secara cuma-cuma, bagi para pemakai smartphone.

Teknologi informasi dan komunikasi yang mutakhir memang tidak dapat ditolak. Aneh rasanya, kalau harus menolak mempergunakan segala kemudahan yang telah tersedia. Ya, beraneka macam aplikasi telah tersedia, untuk membantu kita semua dalam berbagai keperluan.

Salah satu yang mutakhir tersebut, ya tentu saja adalah aplikasi transportasi berbasis online. Hanya bermodal sebuah smartphone, kita bisa mengunduh aplikasi penyedia transportasi online. Dengan pencet beberapa tombol, moda transportasi yang kita butuhkan dapat tersedia dengan cepat. Mau mobil, bisa. Mau sepeda motor aja, silakan.

Semua tersedia, sesuai dengan pilihan dan kebutuhan kita masing-masing.

Kukira, semua sudah begitu familiar dengan Gojek, GrabBike, Uber, atau merek-merek lainnya. Mereka adalah contoh aplikasi transportasi berbasis online. Kehadiran layanan transportasi ini, tentu disambut dengan sukacita oleh masyarakat. Sederhananya, masyarakat mempunyai satu alternatif lagi, sebagai pilihan dalam bertransportasi.

Di kehidupan yang serba mobile ini, transportasi adalah satu hal yang amat penting. Proses perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lainnya, sudah pasti membutuhkan yang namanya moda transportasi. Khususnya di kota-kota besar, transportasi publik adalah satu komponen yang wajib mendapatkan perhatian utama. Mengingat jumlah penduduk yang mendiami suatu kota, dengan segala mobilitas yang menyertai para penduduk kota tersebut.

Sebagai konsumen, setiap orang pasti memiliki kebutuhan berdasarkan preferensinya masing-masing. Ada yang merasa nyaman dengan transportasi publik yang telah tersedia itu. Ada pula yang kurang sreg. Nah…, para konsumen yang kurang sreg inilah, yang melatarbelakangi lahirnya jasa semacam Gojek dan Uber tersebut. Bagaimana terdapat sebuah moda transportasi yang lebih private. Lebih cepat. Lebih praktis dijangkau. Dan harapannya lebih nyaman untuk dirasakan.

Bagaimana tidak nyaman…? Hanya dengan memencet beberapa tombol, kita sudah bisa memesan layanan Gojek. Tak berapa lama, mas-mas Gojek itu sudah nyamperin di depan rumah, atau dimana pun titik kita berada. Lalu tanpa ba bi bu lagi, mas Gojek sudah membonceng kita, dan siap mengantarkan sampai ke tujuan yang diinginkan. Harga jasanya pun cukup terjangkau.

Namun tidak serta-merta moda transportasi berbasis online ini akan adem ayem saja tanpa hambatan. Namanya saja teknologi. Sudah pasti bakal ada yang pro, banyak juga yang memutuskan untuk kontra. Memutuskan untuk menolak eksistensi dari teknologi yang bersangkutan. Nah, kalau berbicara mengenai aplikasi transportasi online, sudah pasti ada pihak yang merasa ‘dirugikan’. Siapa lagi kalau bukan pihak transportasi publik yang berbentuk konvensional.

Keberadaan para pelaku transportasi online, rupanya dipandang sebagai ‘ancaman’ bagi sebagian besar pelaku transportasi konvensional. Ya ini wajar saja. Karena mereka berdua, baik itu pelaku transportasi konvensional maupun online, sama-sama bermain di pasar yang sama. Memperebutkan kue yang sama.

 

Kota Malang Lumpuh Akibat Unjuk Rasa Sopir Angkot

Ya, seperti yang sudah aku sampaikan di mukadimah tulisan ini. Dua hari ini, Senin dan Selasa barusan. 6 dan 7 Maret. Terdapat unjuk rasa besar-besaran, yang dilancarkan oleh para sopir angkot dan taksi konvensional yang ada di kota Malang. Mobil-mobil angkot yang berwarna biru ini, nyaris semuanya berhenti beroperasi. Mereka memarkir mikrolet (sebutan angkot di Malang) –nya di sekitar Balai Kota dan gedung DPRD. Bahkan sampai juga ke area alun-alun, dekat Masjid Jamik. Meminta pemkot untuk segera ‘menertibkan’ moda transportasi online yang berkeliaran di jalanan kota Malang.

Mikrolet-mikrolet milik para sopir yang berunjuk rasa di dekat Alun-alun Merdeka, kota Malang. Source: dokumentasi pribadi

Aksi demonstrasi yang terjadi di awal pekan ini, bukanlah yang pertama. Lebih tepatnya sudah memasuki pekan ketiga. Diawali pada Senin, 20 Februari yang lalu. Kemudian berlanjut di hari Senin juga, 27 Februari. Meskipun untuk aksi di tanggal 27 Februari ini, skalanya mengecil lantaran pemkot telah mengadakan mediasi untuk mencari win win solution.

Tetapi mediasi yang mempertemukan pihak transportasi konvensional dengan pengusaha transportasi online itu, hanya menghasilkan keputusan yang bersifat sementara. Yah…, cuma bertahan selama seminggu! Kemarin, 6 Maret, para sopir mikrolet kembali menyampaikan aspirasinya. Aksi ini masih berlanjut hingga hari Selasa, 7 Maret.

Imbasnya, transportasi umum di kota Malang menjadi lumpuh! Nyaris tidak ada mikrolet yang mengangkut penumpang di jalanan. Begitu juga dengan Gojek dan taksi Uber. Para pelaku transportasi online ini tentu saja tidak berani beroperasi. Takut terkena sweeping.

Tulisan ini muncul, lantaran kegelisahanku sebagai warga kota Malang. Bagaimana tidak…? Karena tidak ada mikrolet yang beroperasi, sungguh berimbas langsung kepada kepentingan masyarakat banyak. Yang paling kasihan sudah pasti anak sekolah. Pun para pekerja, yang kebetulan belum memiliki kendaraan pribadi. Para buruh dan karyawan yang masih mengandalkan transportasi umum untuk bermobilisasi.

Sejak kelas 1 SMP hingga kuliah semester 2, hidupku tergantung kepada mikrolet. Sungguh…! Sehari-hari, aku berakrab-akrab ria dengan mikrolet. Sarana transportasi umum yang bisa membawaku ke berbagai tujuan yang ada di kota Malang. Kotaku tercinta lahir dan batin.

Berbagai cerita sudah pernah aku lalui bersama mikrolet. Mulai dari terlambat masuk sekolah karena mikroletnya kelamaan ngetem. Uang kembalian yang kurang dari pak sopir. Pernah juga, aku membayar dengan uang yang kurang. Ada sopir yang galak, dan kemudian membentakku. Ada pula yang slow mellow…, membiarkanku pergi walaupun ongkos yang kuberikan tak sesuai. Huahahhaaaa…, cerita-cerita ini hanya bisa didapatkan oleh mereka-mereka yang akrab dengan transportasi umum. Dimana pun kotanya 🙂

Karena itulah. Aku sedikit banyak bisa merasakan. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh bapak-bapak sopir mikrolet dan taksi argo tersebut. Munculnya ojek online, baik itu motor maupun mobil, pelan-pelan telah menggerus pendapatan yang bisa mereka hasilkan dari nyetir mikrolet dan taksi.

Tetapi mau bagaimana lagi…? Jujur, aku bukanlah pengguna aktif ojek online. Namun sebagai manusia millenium, rasanya tidak akan bisa untuk menolak keberadaan transportasi online. Moda transportasi baru yang timbul lantaran kemajuan teknologi. Alat transportasinya tetap sama, yakni sepeda motor dan mobil. Namun cara untuk mendapatkannya, sungguh jauh berbeda ketimbang cara-cara konvensional.

Jika model konvensional, terbatasi dengan trayek atau jalur yang dilalui oleh mikrolet atau angkot yang bersangkutan. Pengguna mikrolet tidak mempunyai banyak pilihan, selain mengikuti trayek yang telah disediakan. Berbanding terbalik dengan transportasi online. Mas-mas Gojek atau Uber, bisa dipanggil sampai di depan rumah. Atau minta dijemput di suatu titik tertentu. Suka-suka pokoknya. Ditambah anti lama, karena penumpang yang diantarkan cuma kita seorang.

Aku sebagai konsumen yang kadangkala masih menggunakan jasa mikrolet, ayolah. Tolonglah Bapak-bapak sopir mikrolet, jangan lama-lama demonya. Anda sekalian berdemo, yo nggak dapet duwit, to…? Mending mikroletnya dijalankan. Biar duitnya lancar lagi. Biar anak-anak sekolah nggak kleleran di tepi-tepi jalan, karena nggak ada mikrolet yang jalan. Kasihan.

Sekarang, bola panas ada di pemkot. Bagaimana memandang ‘pertikaian’ yang melibatkan sopir konvensional dan sopir online ini. Momen ini juga bisa menjadi saat yang tepat buat pihak transportasi konvensional. Untuk memperbaiki pelayanan. Termasuk etika dan kebiasaan yang sudah terlanjur melekat bagi konsumen. Pelayanan memuaskan yang disediakan oleh transportasi online, harusnya bisa menjadi cambuk bagi pelaku transportasi konvensional, untuk bisa memberikan pelayanan yang serupa. Minimal ketertiban terkait ongkos konsumen, dan etika di jalan raya.

Kemajuan teknologi sepertinya tidak akan bisa dilawan. Bisa sih, dihindari. Tetapi cara ini tidak akan bertahan lama. Dengan berjalannya waktu, kemajuan teknologi akan menggiring terjadinya perubahan di mindset dan habit seseorang. Cara yang paling mujarab untuk ‘melawannya’ adalah, dengan berusaha untuk beradaptasi.

 

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage