Tangisan Hamidah Saleh Saat Menghadiri Sidang Ahok yang Kelima

Tangisan Hamidah Saleh Saat Menghadiri Sidang Ahok yang Kelima

164

Dalam sidang ke-5 dugaan kasus penistaaan agama yang dilakukan oleh Ahok, sidang dilakukan pada hari ini tanggal 10 Januari 2017, dalam sidang kali ini ada 10 warga Kepulauan Seribu yang hadir.

10 warga pulau Panggang, Kepulauan Seribu ini sengaja datang dari kemarin hanya untuk menunjukkan kepada warga daratan yang otaknya masih konslet dengan posting provokatornya Buni Yani. Huff… kalau saya kepikiran ini saya jadi kesal lagi dengan ulah dosen yang harusnya mendidik, tapi kok malah jadi provokator. Ehh diangkat jadi Pahlawan Islam Sosmed pula… Edan memang, mungkin hanya terjadi di Indonesia, sumpah ini aneh, edan dan sangat lucu kalau tidak ingin dibilang malu-maluin.

Ok lah, kembali ke gadget, Salah satu dari 10 yang hadir, Hamidah Saleh bahkan sampai menangis melihat fitnahan yang dituduhkan kepada Ahok saat diwawancara oleh media, ini pernyataannya yang diucapkan sambil meneteskan air mata,

Ini fitnah dan saya datang ke sini ikut menyaksikan sidang bukan karena ingin hura-hura. Tetapi kasihan dengan Pak Ahok yang difitnah habis-habisan. Padahal dia sudah berbuat baik pada kita, khususnya warga Kepulauan Seribu

Aneh tidak? Saat yang mendengar langsung malah mengganggap tuduhan kepada Ahok ini sebagai fitnah, tapi yang tidak mendengarkan secara langsung malah ribut-ribut tidak jelas, lebih anehnya lagi ribut-ributnya pun terjadi beberapa hari setelah Ahok balik dari Kepulauan Seribu, setelah dosen provokator itu memposting ulang potongan video Ahok, dan dibumbuin dengan kata-kata yang provokasi yang isinya banyak titik-titiknya karena hasil editan.

Saya rasa warga Kepulauan Seribulah yang paling tahu makna kedatangan Ahok ke Kepulauan Seribu -TKPnya kasus penistaan agama-, yang tidak lain karena ingin meningkatkan ekonomi warga Kepulauan Seribu lewat pembudidayaan ikan kerapu, Ahok juga menawarkan bisnis yang jelas Pro rakyat sana, 80% untuk warga dan 20% untuk nanti digunakan sebagai koperasi kalau ada yang sudah berhasil.

Saat warga Kepulauan Seribu ini melihat orang yang sudah berniat baik kepada mereka, eh malah difitnah sedemikian rupa, lewat demo dan segala macam hanya untuk membuat Ahok jadi tersangka, jadi tidak aneh ketika Hamidah Saleh selaku warga Kepulauan Seribu menangis karena melihat ketidak-adilan yang diterima oleh Ahok, ketidak-adilan yang benar-benar keji harus diterima oleh Ahok.

Sebagai Pakar Perasaan, saya ingin mengibaratkan seperti ini, misalnya suatu hari ada orang yang melihat keluarga kamu susah, terus orang itu merencanakan suatu usaha buat kamu, dengan niat yang baik ingin melihat kamu lepas dari kesusahan, tapi setelah seminggu orang itu malah difitnah sebagian orang yang bahkan tidak kenal kamu bahwa dia telah melecehkan kamu dan keluarga kamu. Marah tidak kamu sama orang yang telah menfitnah orang yang sudah menolong kamu? Sedih tidak kamu melihat orang yang sudah menolong kamu harus difitnah dengan keji? Mungkin hanya orang yang syarafnya keputus atau tidak waras yang tidak merasa marah dan sakit hati ketika melihat orang yang sudah menolongnya difitnah dengan keji.

Jadi saya rasa, itulah alasan kenapa Hamidah Saleh ini sampai menangis saat ditanya media, ada rasa terima kasih yang mendalam kepada Ahok, dan merasakan ada suatu ketidak-adilan yang diterima oleh Ahok yang telah mengusahakan yang terbaik bagi dia dan warga lainnya di Kepulauan Seribu, merasakan ketidak-adilan tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Ahok biar bisa cepat dalam menyelesaikan fitnahan ini, ada sikap emosional yang tak tertahankan di sini ketika melihat orang yang baik di fitnah sedekimian rupa.

Kasus Ahok yang Dipolitisasi

Dari sini saya rasa kita yang waras pasti dapat menilai, bahwa memang ada sesuatu dalam kasus ini, kasus ini sedemikian dipolitisasi oleh beberapa pihak yang memang merasa terancam dengan keberadaan Ahok, logika sederhananya yang mendengarkan saja tidak merasakan penistaan, kok malah yang tidak mendengarkan yang kebakaran jenggot, mungkin jenggotnya kepanjangan makanya lebih mudah kebakar.

Jadi kalau dibilang ini murni bela Agama atau karena penistaan, saya kok sangat tidak yakin ya, karena begini, pihak-pihak yang menuduh Ahok menistakan bukan sekarang ini mempermasalahkan Ahok, mereka bahkan sudah mempermasalahkan Ahok dan sempat mendemo Ahok sejak Ahok mau dilantik jadi Gubernur setelah Jokowi naik jadi Presiden, yang sampai ta* kuda pun dilempar ke Balai Kota.

Ibaratnya sudah benci duluan bahkan sebelum ada kasus penistaan agama, apakah kamu yakin mereka lapor itu tanpa ada campuran dari kebencian yang sudah tertanam dalam diri mereka dan murni karena penistaan agama? Please deh.. saya masih waras untuk menjawab “saya tidak yakin”, bagaimana dengan pembaca seword.com yang lain?

Kalau sudah begini, keknya sulit buat saya untuk mempercayai apa yang mereka lakukan murni karena penistaan agama tanpa dipolitisasi, dan sebagai orang yang waras jelas saya lebih memilih mempercayai orang yang mendengarnya secara langsung, karena merekalah yang mengerti tujuan, konteks, dan cara pemaparan dari yang disampaikan oleh Ahok, dibandingkan kepada orang-orang yang memang sudah mempermasalahkan Ahok sebelum kasus ini bergulir.

Kalau dibilang warga Kepulauan Seribu orang awam dan tidak beriman, saya rasa minimal mereka belum pernah benci Ahok hingga melemparkan ta* kuda, atau menyebarkan kebencian untuk membunuh Ahok, yah minimal lebih netral dan adil dalam menilai karena belum bercampur kebencian kepada Ahok.

 

Ouu ya, untuk berita lengkap soal tangisan Hamidah Saleh bisa klik di sini : ‘Enggak ada penistaan agama, kalau ada sudah habis oleh orang pulau’

 

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini

Sebagai orang yang mendengarkan langsung, yang tahu makna dan tujuan dari apa yang disampaikan Ahok, merasakan tujuan serta niat baik dari Ahok kepada mereka, serta merasakan ketidakadilan yang diterima oleh Ahok bahkan sampai ditangisi, saya rasa memang ada yang salah dari kasus yang dijalankan oleh Ahok, memang ada ketidak-adilan di sana.

Sekian
Syalom dan Salam Persatuan

Baca Artikel Saya Yang Lain Di Seword.com:

[Analisa Netral] Cewek Seksi VS Mata Keranjang, Siapa yang Salah?

Pak Ahok, Saya Itu Bingung tapi Salut dengan Bapak (Bagian 2)

Loe Belum Gaul Kalau Belum ke Fitsa Hats Afung (Apung)

Tim Ahok Harus Mewaspadai Lawannya yang Main Kasar (Takut Jagoannya Kalah)

Tarif Administrasi Kendaraan Naik, Kok Tanggung Cuma Segitu Naiknya?

Agus Kepilih, Agus Bisa Jaga Keamanan Jakarta, Agus Mau Jadi Hansip atau Gubernur Sih?

Klik avatar saya untuk membaca tulisan saya yang lain lagi.

Share.

About Author

Simple saja, Pribadi yang berharap Indonesia semakin kreatif, berbudaya, dan bersatu dalam perbedaan. Follow : Twitter : @HangatTeh , Facebook : https://www.facebook.com/profile.php?id=100011025433317

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage