Jubah Dari Neraka

Jubah Dari Neraka

37

Beberapa teman heran mengenai pernyataan seorang pak Tua yang nampaknya tidak suka batik, dan bangga dengan jubahnya yang lebar itu, saya sebenarnya tidak heran sih, karena orang-orang semacam ini sudah sering saya jumpai, tidak saja di dunia nyata tapi di dunia online sangat banyak, sehingga secara spontan teman saya memberi mereka gelar “Sumbu Pendek”, kalau saya singkat menjadi “Sumpek”, karena cara berpikirnya yang menyebabkan pikirannya jadi sumpek, menyusahkan diri sendiri tapi merasa yang paling terbaik menggunakan pakaian. Dalam hal ini adalah jubah.

Maka kalau sudah merasa paling baik dengan pakaiannya, apakah tidak sama dengan kebanggaan iblis saat dia tidak mau tunduk dengan perintah Allah untuk sujud kepada Adam?, ini persoalan karena merasa lebih baik, padahal yang namanya makhluk atau yang diciptakan tetaplah tidak bisa merubah takdirnya menjadi pencipta, karena yang maha baik hanyalah Sang Pencipta, yang diciptakan posisi hakekatnya tetaplah yang di-ada-kan, maka ketika tidak patuh dengan Sang Pencipta berarti diam-diam ingin mengambil alih posisi Sang Pencipta, dan itu MUSTAHIL, tidak akan pernah sama sekali makhluk merubah menjadi Pencipta.

Maka persoalan pak Tua yang bangga dengan aksesoris yang dikenakannya, mungkin saja tak jauh beda dengan Iblis yang tak paham makna Singular dan Pluralitas, iblis itu menerima Singular tapi menolak pluralitas, terlalu pede dengan ibadah-ibadah yang dilakukannya selama ini, sehingga dengan gegabah menyimpulkan apa yang Allah hadirkan. Kesimpulan yang ditata iblis disebabkan besarnya rasa “Aku” dalam dirinya, padahal yang berhak “Aku” itu hanya Allah, selain Allah tidak bisa menyandingkan “Aku” ini seenaknya.

“Aku” yang sering kita ucapkan hanyalah kata pinjaman untuk dijadikan subjek, agar komunikasi antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya terjalin, atau antara “Aku” si Fulan dan “Aku” si Fulin bisa jelas perbedaannya. Tapi “Aku” sejati hanyalah ada pada Allah. Namun dari yang singular atau tunggal ini meng-ada-kan yang banyak, maka yang banyak ada dalam satu, dan yang satu dengan rahmatNya menciptakan yang banyak ini. maka jelas saja bahwa keragaman (pluralitas) adalah tanda adanya yang Maha Tunggal atau Maha Esa ini.

Sebagai makhluk yang sadar, melihat keragaman ini adalah sebuah anugerah yang luar biasa, sehingga dalam dirinya ada rasa penghormatan yang dalam atas keragaman itu, lalu diperlakukanlah dengan bijaksana setiap yang berbeda dengannya, yang berkulit putih tidak menafikan yang berkulit hitam, yang memilh agama Islam misalnya tidak menyingkirkan agama yang lain, yang lahir dari suku Betawi tidak menjelek-jelekkan suku Sunda, Bangsa Cina atau Kanton tidak memperlakukan bangsa lain dengan kejam, dan di dunia ini sangat banyak keanekaragaman yang tak bisa kita tolak, dan itu adalah hak dari Allah menciptakan semua ini. Tentu saja hanya Iblis yang menolak hal ini, karena merasa dirinya paling berhak bersama Tuhan, sementara Tuhan sendiri bukan hanya menciptakan iblis semata, ada banyak makhluk lain yang seharusnya si Iblis melek.

Dari uraian di atas, sudah bisa kita tarik sebuah kesimpulan (jangan keliru menyimpulkan ya J), bahwa dalam hal apapun itu sikap saling menghormati perbedaan adalah keniscayaan. Urusan jubah dan batik tidak semestinya disimpulkan dengan cara-cara yang digunakan iblis, bahkan sebagian masyarakat sudah banyak yang muak dengan jubah yang digunakan untuk kepentingan dunia atau kepentingan politik, ujaran-ujaran kebencian dengan menggunakan jubah sudah membuat kita geleng-geleng kepala, namun anehnya mereka sedikit pun tidak merasakan bahwa mereka sedang meneruskan tradisi Iblis, bahkan mungkin, saat menuliskan pernyataan-pernyataan itu di sosial media sambil bersiul-siul. Enak toh?, sehingga ia bangga kalau bisa memancing masyarakat bereaksi, atau merasa sedang berdakwah bahwa beginilah model islam yang sebenarnya, padahal yang ditampilkan bukan Islam versi Nabi tapi Islam versi Iblis, saya jadi ingat quote-quote dari gambar Kiyai Emha Ainun Najib yang teman-teman pernah kirimkan “Sudah tidak ada lagi setan bodoh yang menentang Tuhan dan Al-Qur’an, yang banyak sekarang itu adalah Setan yang berpenampilan Nabi dan bermulut Al-Qur’an.

Mmhhh… sungguh menohok quote itu, sehingga kejang-kejang sumbu pendek dibuatnya lalu berujar “Dari hadist mana pernyataan-pernyataan itu?” aroma tekstual masih membungkusnya, penyembahan teks ternyata membekukan akal sehat, padahal akal sehat ini sangat kita butuhkan agar mampu mengenali mana Madu dan mana Racun, kan bahaya kalau Racun dibungkus dengan Jubah mentereng. Atau dengan tegas kita bilang saja, dengan akal sehat kita bisa menganalisa mana setan yang memakai jubah dan mana Malaikat yang mengenakan jubah atau batik.

Jadi si Tungku Panci Bocor sudah gagal paham terhadap jubah dan batik, ia mencoba melakukan manuver agar jubah dan batik berantem, dengan harapan nilai jual batik menjadi anjlok, padahal keduanya ini tak perlu berantem dan tak menjadi ukuran seberapa islamnya seseorang, Islam tidak pernah mengajarkan orang-orang yang berjubah di arab sana agar menghina batik yang ada di Indonesia, malah Islam mengajarkan tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, sementara di Cina juga banyak karya-karya serupa batik, sebab peradaban Cina sudah begitu tinggi.

Maka apa yang dicuitkan si Tungku Panci Bocor adalah BID’AH MUROKKAB, sesuatu yang diada-adakan yang tidak ada di zaman nabi. Sumpek Toh?

Ah Sudahlah… mungkin ia lagi galau karena kalau ia pakai batik, perutnya yang buncit itu bisa terlihat jelas, dan lagian tidak bisa umpetin cemilan di dalam baju batik, sementara kalau pakai jubah yang lebar, selain mudah dicari karena rata-rata yang jual jubah sudah memperhitungkan para pelanggannnya adalah orang-orang dengan ukuran jumbo, juga bisa menutupi perut buncit itu, dan juga seperti Jubah yang dikenakan Dimas si Pengganda uang itu, bisa menyelipkan fulus dan bakpao setelah mengisi pengajian, asyik toh.

(Ops..maaf ya yang ukuran badannya kayak saya, bukan kalian yang saya maksud ya..:-)

Jadi, batik itu menurut saya adalah keragaman, dengan nilai seni yang begitu tinggi mengingatkan saya betapa hebatnya Sang Pencipta memasukkan akal kepada manusia agar bisa berkreasi dengan alam sekitarnya, menampilkan simbol-simbol sebagai bahasa universal yang memberi peluang jiwa mengukir setiap langkah-langkah awal kehidupan ini, dengan huruf hijaiyah “Ba” dan titik di bawahnya lalu bersanding nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka Dengan Nama-Nya itu…makhluk bisa “bergerak”.

Share.

About Author

Salto (salam Toleran)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage