Lebih Baik Manakah, Meminta Atau Memberi Maaf?

Lebih Baik Manakah, Meminta Atau Memberi Maaf?

51

gambar: memekreatif

Salah satu kenangan terindah penulis semasa kuliah yang habis selama lima tahun adalah keluarnya kata-kata yang sungguh menyentuh hati, kata-kata itu keluar dari salah satu dosen ilmu fiqih pada jurusan yang penulis tempuh.

Kata-kata itu berbunyi “Kamu ini kok ndak ada bosannya selalu minta maaf” yang ketika kalimat itu jatuh dari telinga ke hati mengalami perubahan makna menjadi “Saya bosan mendengar permintaan maafmu”.

Beliau adalah salah satu dosen dari dua dosen yang setiap pituturnya tidak bisa penulis sanggah, apa lagi ngeyel seperti pada dosen-dosen yang lainnya. Seradikal apapun ilmu gerakan yang penulis dapatkan dari organisasi ekstra kampus, ternyata masih tidak bisa menyentuh naluri keadaban murid ke guru.

Melalui penyikapan beliau tentang kenakalan para mahasiswa-mahasiswanya, penulis seakan mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari mata kuliah khusus yang tidak ter-SKS-kan. Salah satunya adalah kalimat “kenangan” di atas.

Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya atau mungkin sampai sekarang, manakala penulis bertemu dengan hal baru dalam bentuk apapun, selalu penulis komunikasikan dengan salah seorang teman, yang memiliki keahlian pada rasa penasaran yang penulis dapatkan. Dalam perihal kalimat kenangan di atas, penulis menceritakan pada seorang teman yang masa-masa kecilnya sampai masa kuliahnya habis di Pesantren.

Teman penulis mengatakan kurang lebih begini “Memberi maaf itu lebih mulia daripada meminta maaf, sebab memberi maaf tak semudah meminta maaf”, tidak seperti biasanya ia tanpa mencantumkan dalil yang mendukung pendapatnya tersebut.

Mungkin saja dengan berangkat dari menyimak cerita yang penulis berikan, dia beranggapan dan berharap agar penulis tidak sering-sering meminta maaf karena sering berbuat kesalahan apalagi kesalahan yang sama. Yaa agar penulis tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang membuat harus sering meminta maaf.

Dalam sumber yang penulis dapatkan dari https://www.nu.or.id/post/read/79180/perihal-maaf-memaafkan tercatat bahwa melihat dalamnya makna meminta maaf dan memberi maaf -maaf butuh sikap kesatria dan kelapangan dada-, muncul sebuah pertanyaan. Adakah yang lebih tinggi tingkatannya dari pada maaf (Alafwu)?

Menurut pendapat dari salah satu seorang ulama ahli tafsir yang dimiliki Indonesia, Pak Habib Quraish Syihab mengatakan “Tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu adalah as-shafhu”.

Lebih jauh lagi, Pakar Tafsir Al-Qur’an itu menjelaskan, dari al-shafhu dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan.

Seseorang melakukan al-shafhu, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Persambungan Pada Gambar Artikel Ini

Sudah seharusnya dan menjadi maklum manakala seorang tokoh politik nasional sering-sering meminta maaf pada rakyatnya, jika persoalan itu menyangkut dengan kesalahannya terhadap rakyat. Terlebih bagi seorang Tifatul Sembiring yang pada periode Presiden kemarin, menjabat sebagai Menkominfo Republik Indonesia, yang sekarang menjadi wakil rakyat di Senayan.

Bukan persoalan yang menjadi pantas untuk diperpanjang lebarkan, atas persoalan ‘keseringan’ minta maaf yang dilakukan oleh beliau. Akan tetapi akan menjadi mengherankan manakala permintamaafan itu berangkat dari ketidaksadarannya akan perbuatan yang sungguh pada hari ini telah benar-benar menjadi musuh bersama seluruh bangsa Indonesia, yaitu sebuah persoalan yang di “panglimai” oleh Jonru. Produk Hoaks dan penyebaran hoaks.

Hoaks bisa masuk ke dalam pikiran orang tanpa pandang bulu, korban hoaks bukan hanya seorang yang berada dalam kasta terendah dalam konteks ilmu dan derajat politik di negeri ini saja. Dengan melihat Tifatul Sembiring yang menyebarkan gambar hoaks, kita bisa mengambil hikmah untuk lebih berhati-hati dan berusaha menjauhi sifat-sifat buruk semacam itu, yang kemudian mengharuskan untuk memiliki rasa kehati-hatian yang lebih untuk menanggapi segala sesuatu.

Jangan sampai apa yang ada dalam hati kita jika bermaksud meminta maaf, tanpa mengetahui apa-apa yang seharusnya diketahui dan disadari terlebih dahulu sebelum meminta maaf. Kita harus menyadari sebelum meminta maaf, selain jiwa kesatria dan kesadaran penuh atas kesalahan yang kita lakukan, kita juga harus berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengintropeksi diri dari sifat-sifat kelalaian yang kita miliki.

Apalagi bagi seorang politisi dan wakil rakyat di sana, lebih berhati-hatilah, sebab rakyat sudah cerdas dengan mampu membedakan mana kesalahan yang bermuatan politis, dan mana kesalahan yang murni karena sebab manusiawi.

Beruntunglah kuliah yang penulis tempuh selesai dengan “membanggakan”, waktu lima tahun kalau di buat kredit mobil pasti sudah lunas separuh, juga tidak lagi harus keseringan meminta maaf pada sang dosen, yaa meskipun tetap ke depan pasti minta maaf setahun sekali pas Idul Fitri. Begitu kira-kira.

Rahayu…

Pemantik:
http://nasional.kompas.com/read/2017/09/05/19503631/tifatul-sembiring-saya-bukan-penyebar-info-hoaks

Share.

About Author

Status: "Simpang Siur Di Manah-Manah" Motto hidup: "Tibak'e Orep Iku Gak Mung Mampir Ngombe Tok"

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage