Menyikapi Lagi Kasus Penistaan Agama: Belajar dari Agama Budha

Menyikapi Lagi Kasus Penistaan Agama: Belajar dari Agama Budha

17

Baru saja menemukan tulisan menarik dari laman Facebook. Judulnya “Ketika Agama Buddha Dihina, Apa Tindakan Umat Buddha?” by Ajahn Brahm.

Dijelaskan kalau tulisan tersebut dikutip dari jawaban Ajahn Brahm mengenai pertanyaan seorang wartawan:

“Apa yang Ajahn Bram lakukan bila seseorang memasukkan Kitab Suci Agama Buddha dalam toilet?”
Beliau menjawab: “Saya akan panggil tukang untuk membersihkan toilet dan mengangkat kitab suci itu. Supaya toilet tidak buntu.”
Wartawan itu tertawa dan mengatakan ini baru jawaban yang masuk akal.
Selanjutnya beliau mengatakan: “Saya menjelaskan, seseorang mungkin bisa meledakkan banyak patung Buddha, membakar Vihara atau membunuh Bhiksu dan Bhiksuni, mereka mungkin menghancurkan semuanya, tetapi saya tidak akan pernah membiarkan mereka menghancurkan Ajaran Buddha.
Kalian bisa saja membuang Kitab Suci ke dalam toilet, tetapi saya tidak akan membiarkan kalian membuang pengampunan, kedamaian, dan welas asih ke dalam toilet.
Buku bukanlah Agama, demikian juga dengan patung, bangunan dan para pemuka agama. Ini semua hanyalah “kontainer”.
Apa yang telah buku ajarkan kepada kita? Patung itu merepresentasikan apa?
Kualitas apa yang seharusnya diwujudkan para pemuka agama? Inilah yang disebut dengan “isi”
Ketika kita dapat mengetahui perbedaan antara “kontainer” dan “isi”, maka kita akan mampu mempertahankan “isi” meskipun kontainernya telah dihancurkan.
Kita dapat mencetak lebih banyak buku, membangun lebih banyak Vihara dan patung-patung, bahkan melatih lebih banyak Bhiksu dan Bhiksuni, tetapi ketika kita kehilangan cinta kasih dan rasa hormat kepada sesama dan diri kita sendiri dan menggantinya dengan kebencian, maka keseluruhan agama itu telah jatuh ke dalam toilet.”

***

Sangat mengagumkan. Dua kata untuk jawab dan uraian Ajahn Brahm. Rasionalitas yang khas bagi orang yang budinya telah tercerahkan. Tandanya jelas, orang yang cerah budinya tidak mau mencari kesalahan orang yang memasukkan Kitab Suci ke dalam toilet.

Alih-alih menyalahkan pelaku, dia justru memanggil tukang untuk membersihkan toilet dan mengangkat Kitab Suci itu. Dalam konteks ini bukan Kitab Sucinya yang harus diselamatkan, tetapi supaya toilet tidak buntu. Waw… hanya orang yang hatinya sudah lepas bebas dari segala kelekatan tak teratur bisa mengamalkan inti dari ajaran agama.

Sangat berbeda dengan cara menyikapi kebanyakan orang yang lebih mengarus-utamakan kebencian dan ketersinggungan dalam mengamalkan agamanya. Memang tidak berarti banyak ketika mengerjakan ritual agama namun tiada kemampuan menggapai yang spiritual. Orang demikian kehilangan kedalaman dalam beragama yang berarti juga kehilangan kedamaian dalam hati.

Boleh saja orang rajin puasa, hafal isi Kitab Suci, memakai asesoris lengkap identitas suatu agama. Tetapi, apa artinya ketika generator jiwanya tetap kebencian dengan tanda suka mengkafir-kafirkan apa saja. Motor tak berhijab pun bisa-bisa dikafirkan. Sayangnya punya motor berhijab saja buatan kafir.

Beragama membutuhkan kedalaman berpikir supaya tidak kehilangan rasionalitas. Ini pun bukan sembarang berpikir. Tidak ada artinya ketika dalam pikiran hanya dijejali hafalan-hafalan teks masa lalu yang kehilangan relevansi. Padahal gerak zaman itu maju bukannya mundur. Hanya suatu keanehan ketika sementara orang suka mendewakan masa lalu dalam mengamalkan agama. Kalau sudah seperti ini ada phobia terhadap masa depan.

Kedalaman berpikir adalah pencerahan. Itulah budi yang diterangi oleh cahaya Ilahi sehingga dalam berpikir dan bertindak bisa tepat. Ketepatan ini nampak pada sumbangannya untuk kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk masa depan dan perdamaian dunia. Jadilah, budi yang diterangi itu tidak lain adalah hikmat dan kebijaksanaan. Hikmat yang membuat orang tidak kehilangan kedamaian, pengampunan dan cinta kasih.

Apa yang diajarkan Ajahn Brahm memperlihatkan kebijaksanaan sekaligus ketepatan dalam pikiran dan tindakan. Agama akan tetap berguna bila tidak meninggalkan hikmat. Sebab itulah yang membuat agama tetap nikmat dan lezat untuk dihayati nilai-nilainya. Inilah contohnya:

“Kalian bisa saja membuang Kitab Suci ke dalam toilet, tetapi saya tidak akan membiarkan kalian membuang pengampunan, kedamaian, dan welas asih ke dalam toilet.”

Lagi pula, buku bukanlah Agama. Sama halnya dengan patung, bangunan dan para pemuka agama. Ini semua hanyalah “kontainer”. Luar biasa daya kata-kata ini. Apalagi ketika hati terus dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun orang pada pencerahan.

Ketika memberi jawab pada pertanyaan tersebut maka orang akan bertemu dengan ‘isi’ dari agama. Jadilah orang mendapatkan kemampuan membedakan ‘kontainer’ dan ‘isi’. Kemampuan ini penting karena menjadi kunci untuk tetap mampu mempertahankan isi meskipun kontainernya telah dihancurkan.

Andai saja para pemuka agama dan ulama di negeri ini memiliki kedalaman berpikir seperti itu pasti tidak mau suatu agama dipolitisasi dengan aksi berbiaya mahal hingga habis milyaran. Apa arti aksi yang tidak membawa damai sekalipun berlabel damai. Apa arti aksi yang memobilisasi kebencian sehingga menyingkirkan kedamaian dalam hati.

Sangat disayangkan bila keseluruhan agama itu jatuh ke dalam toilet, gara-gara kebencian yang menguasai hati orang-orang yang mengaku beragama. Bersyukurnya hidup dalam alam kebhinnekaan sehingga bisa belajar dari agama lain tentang kedalaman berpikir, hikmat dan kebijaksanaan.

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage