(Pelajaran Rohani) Anak kucing…..

(Pelajaran Rohani) Anak kucing…..

12

Tulisan ini adalah judul pertama (masih ada 6 judul) dari buku yang tidak jadi saya masukan ke penerbit karena satu lain hal. Disusun 7 tahun yang lalu.

Suatu kali saya melihat ada seekor anak kucing berada di depan kos saya yang keadaannya tidak cukup baik karena, ada sebagian  koreng ditubuhnya, dia sendirian dan mengalami ketakutan yang sangat luar biasa.

Mengapa tidak?? Setiap kali ada orang yang lewat didepannya dengan tujuan ke toilet (kamar saya ada di samping toilet), hanya untuk sekedar lewat tanpa ada rasa mengganggu maka dia langsung memberikan tanda-tanda perlawanan dengan membuka mulutnya dengan lebar seraya akan menggigit orang- orang yang lewat tadi.

Pernah juga saya mendengar ada seorang teman yang tidak ada keperluan di kamar mandi tapi sengaja mengganggu anak kucing ini dengan menghentak- hentakkan kakinya untuk melihat respon marah dari anak kucing yang seakan mengganggu keselamatan nyawanya.

Saya mendengarnya dengan jelas dari kamar dan tidak berbuat  apa- apa, dan tidak lama kemudian teman saya ini meninggalkan si anak kucing karena suatu alasan (kelelahan atau ada urusan lain). Jadinya teman- teman terus dan terus mengganggu anak kucing yang kecil dan sendirian ini hanya untuk sekedar melihat respon marahnya yang sebenarnya tidak menakutkan untuk orang sebesar mereka dibanding anak kucing yang sangat kecil ini.

Dan pada suatu kesempatan lain saya mendengar suara anak kucing ini, berbeda dari biasanya. Bukan suara perlawanan karena diganggu seperti biasanya tetapi ada dua suara kucing yang seakan akan sahut- menyahut. Dengan tak berpikir panjang saya langsung membuka pintu dan melihat ternyata si anak kucing ini sedang berada di sisi induknya yang baru pulang mencari makan sepertinya.

Kemudian si anak kucing pun menyusu dari dada induknya dan mendapatkan perlindungan/ dan keamanan dari setiap bahaya apapun yang mengganggunya. Dia tidak perduli dengan semua keadaan, yang penting saya berada di dekat induk dan mengalami suplai kehidupan dari susu induknya, kemudian mendapat perlindungan keamanan. Saya sungguh senang melihat keadaan yang sederhana ini.

Kemudian ada pertanyaan yang cukup terngiang- ngiang di benak saya. Pertanyaan itu adalah: Apa yang harus saya lakukan untuk seekor anak kucing yang masih menyusui ini?

Kemudian pada suatu hari yang berbeda saya memberi sedikit nasi putih kepada anak kucing ini  karena saya merasa iba. Eh,,, ternyata respon yang saya dapatkan adalah sebuah perlawanan total dari anak kucing ini. Saya sungguh merasa heran melihat bagaimana marahnya anak kucing ini terhadap saya.

Padahal saya bermaksud baik. Kemudian saya tidak melupakan tujuan baik saya untuk memperhatikan anak kucing ini dengan meninggalkan sedikit nasi putih ini didepannya. (walau sebenarnya saya tahu dia sungguh tidak berminat memakannya, karena makanannya adalah susu dari ibunya atau semacam daging sisa- sisa makanan yang ada di kos). Tidak apalah… saya berkata dalam hati saya.

Kemudian saya merenung, dan mendapatkan beberapa poin yang sungguh berarti (bisa jadi bagi kehidupan saudara juga).

Poin pertama Kita hanya akan mendapat ketenangan bila kita berada didekat pribadi yang “menjadikan” kita.

Anak kucing itu hanya mendapat ketenangan bila sudah berada didekat induknya. Bagaimana dengan kita? Apa yang menjadi sumber ketenangan kita? Kepada siapa kita pergi saat mengalami kecemasan? Apa yang menjadi sumber penghiburan kita? Kapan terakir kalinya anda mengalami ketakutan yang luar biasa seperti anak kucing tadi?

Ada beberapa orang yang mencari ketenangan dengan menghibur diri di mall, ada juga yang mendapat ketenangan dengan mengkonsumsi narkoba, ada juga yang berpikir mendapat ketenangan dengan ikut geng motor yang suka balap-balapan, ada juga yang mendapatkan ketenangan dengan hanya berdiam diri dan memanjakan diri seakan mengasihani diri sendiri dan tidak perduli dengan orang lain, keluarga, masa depan, ada juga yang mendapatkan kesenangan dengan menghabiskan waktu berjam- jam di internet, ada juga yang mendapatkan ketenangan dengan mabuk- mabukan. Ini lah potret keadaan anak muda zaman sekarang….

Coba kita mencari jawaban dari pertanyaan ini,,, sebenarnya Siapa yang menjadikan kita???
Siapa yang menghendaki kita berada di dunia ini?
Siapa yang punya rencana besar dalam hidup kita sehinggga kita masih hidup sampai sekarang???

Ada suatu tulisan yang sangat indah…

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Ternyata yang menjadikan kita adalah Allah, Dia jugalah yang menjadikan semesta, Dia Pribadi yang sama juga yang menciptakan pohon- pohon dan rerumputan serta menjadikan kita.

Bahkan yang menenun kita dalam kandungan ibu kita, ya Allah. Suatu benang yang tidak ada artinya kemudian ditenun setiap hari selam 9 bulan 10 hari dan pada akhirnya terciptalah kehidupan seperti yang kita alami seperti sekarang.

Berarti hanya pada Tuhan Allahlah kita ini mendapatkan ketenangan yang sejati. Si anak kucing mendapat ketenangan dari induknya, kita mendapat ketenangan dari INDUK ASLI kita yaitu Tuhan Allah. BIla kita mencari ketenangan kepada induk kita didunia (ayah, ibu) bisa saja. Tapi banyak kasus yang menunjukan banyak kepahitan yang dialami anak-anak disebabkan orang tua. Ketenangan itu hanya berasal ada pada INDUK dari induk kita, INDUK itu adalah Tuhan Allah yang menjadikan kita.

Ayo kita mulai berkomitmen mencari ketenangan ya  kepada Tuhan kita. Okay.

Poin kedua adalah bagaimana tersenyumnya saya saat melihat anak kucing itu yang marah- marah dan mau menyerang saat saya mau menolong dia. Bukankah seperti itu “senyumNya Allah”. Saat kita diberi pertolongan karena banyaknya kesulitan, diberi pertolongan karena ditinggal orang terdekat kita, diberi pertolongan saat tidak ada satupun yang memperhatikan kita, diberi penghiburan saat kita mengalami kesedihan……. ternyata respon kita adalah marah- marah kepada Tuhan, bahkan mau memberi serangan kepada Tuhan.

Bukankah Allah tersenyum melihat keanehan kita seperti anak kucing itu mau menyerang saya yang mau menolong?

Ratapan 3:22  Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

Banyak keadaan kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita mendapat banyak pertolongan dari Allah, karena sifat yang tak berkesudahan tadi menyebabkan kita menjadi sasaran empuk dari berkatNYA.

Kita seharusnya belajar peka dengan setiap kebaikan yang datang kepada kita…. Kita seharusnya berdoa untuk diberikan terang dalam kegelapan hati dan pikiran dari segala kemarahan kita, dari segala kegeraman kita, dari segala keegoisan kita. Jangan- jangan pada saat kita marah-marah itulah Tuhan sedang menolong kita. Ingat anak kucing tadi yang marah saat saya beri makanan.

Ingat terakir kalinya saudara mendapat kemarahan yang sangat besar. Disitulah berkat dan pertolongan yang tiada bandingannya sedang datang kepada kita. Keadaan yang seakan menyulitkan kita dipakai untuk membuat kita semakin indah dimataNya. Dalam keadaan sulit itu sering kali ada berkat yang disusulkan kepada kita.

Yakobus 1:2  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Seharusnya kita berbahagia dengan semua pencobaan. Bagi seorang pendaki gunung pasti akan setuju saat dikatakan mendapat kesenangan yang luar biasa saat berada di puncak gunung. Mengapa tidak?? Karena sekian lama berjalan di jalan yang menanjak bahkan membutuhkan hitungan jam. Dimulai dari tempat yang datar sampai ketempat meruncing dan terjal dan akhirnya sampai pada puncak. Kegembiraan yang tak tertuliskan, karena hati yang menikmatinya…

Sekian lama seorang pendaki gunung menahan penderitaan dan menikmati kenikmatan yaitu berada diatas puncak yang tidak semua orang bisa mengalaminya. Semakin tinggi dan sulit gunungnya didaki maka semakin berbedalah keadaan kita dari sebelumnya. Semakin banyak pencobaan dan kita bisa melaluinya maka kita sedah berada pada level iman yang berbeda dari sebelumnya.

Belajarlah tersenyum, saat Allah memberi pertolongan kepada kita, (bukan berontak seperti anak kucing itu).

Salam kasih.
Apriadi Rizal Simangunsong

Share.

About Author

Anak kampung yang sedang belajar tentang hayat/hidup dan kehidupan, belum lulus lulus.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage