Ramadan, Bolehkah Donor Darah?

Ramadan, Bolehkah Donor Darah?

7

Saat Ramadan, PMI kerap kekurangan stok darah.

Di setiap momen Ramadan, yang kerap dilupakan adalah aktivitas donor darah. Di luar Ramadan, memang banyak sekali pendonor yang aktif datang menyumbangkan darahnya ke unit transfusi darah. Namun, saat Ramadan tiba, seolah-olah aktivitas donor pun terhenti sementara dan lebih memilih mendonorkan darahnya di luar bulan Ramadan. Kondisi itulah yang membuat Palang Merah Indonesia (PMI) di berbagai daerah selalu kesulitan mencari stok darah saat Ramadan tiba.

Tak sedikit yang beranggapan donor saat puasa hanya akan membuat tubuh semakin lemah dan bisa berpengaruh terhadap ibadah puasa yang dijalani. Padahal, hal tersebut tetap tergantung pada kesiapan pendonor, misalnya dengan makan sahur atau berbuka yang cukup.

Patut diingat, sakit tidak mengenal Ramadan atau tidak. Bila tiba waktunya datang sakit, ya sakit saja. Sebab sakit tidak mengenal waktu dan jadwal yang tepat. Coba cek, Ramadan bukan berarti aktivitas di rumah sakit atau Puskesmas menurun. Selama Ramadan, masih banyak saudara, kerabat, teman yang tetap memerlukan bantuan dan pertolongan, di antaranya memerlukan dukungan transfusi darah.

Untuk membuktikan, buka saja berita soal donor darah saat Ramadan seperti saat ini. Tak sedikit berita yang menyebutkan pasien kesulitan mendapatkan transfusi darah.

Beberapa hari lalu misalnya, kawan saya yang harus menjalani pengobatan atas sakit kankernya, memerlukan dukungan transfusi darah. Karena stok di PMI Samarinda sedang tipis, maka pesan berantai pun disebar. Beruntung, dalam waktu cepat ada beberapa pendonor yang bersedia menyumbangkan darahnya.

Bubuhan Donor Darah Samarinda (BDDS), komunitas para pendonor darah di kota ini juga tak kalah berperan aktif mencarikan anggotanya untuk segera mendonorkan darahnya sesuai golongan yang dibutuhkan.

Memang yang selalu menjadi perdebatan adalah, bolehkah mendonorkan darah saat puasa Ramadan? Dalam buku Bimbingan Islam untuk Hidup Muslim terbitan Maghfirah Pustaka halaman 152 disebutkan, donor darah tidak membatalkan puasa. Hal itu dianalogikan dengan bekam yang sama-sama mengeluarkan darah, dan pernah dilakukan Rasulullah saat puasa.

Hal ini juga diperkuat dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia pada 2000 yang juga memberikan penjelasan bahwa donor darah tidak membatalkan puasa. Hal utama terkait hukum donor darah saat menjalankan puasa yang dimuat Fatwa MUI adalah, umat Islam wajib membantu sesama yang membutuhkan, termasuk mendonorkan darah. Selain itu, menganjurkan umat Islam melakukan donor darah karena merupakan bentuk tindakan peduli sesama dan menyehatkan. Selanjutnya, donor darah saat puasa tidak membatalkan puasa, melainkan menambah amal saleh.

Kecuali saat proses donor darah membuat pendonor harus makan dan minum, maka donor darah tersebut tidak dibenarkan.

Meski demikian, hal utama yang perlu diperhatikan adalah kesehatan yang pendonor. Jika memang tidak memungkinkan melakukan donor saat puasa, maka sebaiknya lakukan aktivitas donor pada malam hari, setelah berbuka puasa. Sebab, untuk bisa donor tetap harus cukup makan dan minum saat sahur dan berbuka, serta memiliki waktu istirahat yang cukup.

Dari sisi kesehatan, banyak manfaat yang bisa didapatkan melalui donor. Di antaranya menjadikan kandungan zat besi di dalam tubuh lebih seimbang.  Keseimbangan zat besi ini sangat dibutuhkan untuk mencegah penyakit kanker.

Di samping itu, hasil penelitian dari University of California menyebutkan, mereka yang rutin menyumbangkan darah akan kehilangan bobot tubuh sesuai yang diinginkan. Sebab setiap 500 ml darah yang disumbangkan setara dengan membakar 650 kalori.

Yang tidak kalah pentingnya dari manfaat donor darah ini adalah, produksi darah baru yang terjadi usai donor, akan membuat kulit menjadi lebih sehat dan segar. Tak heran jika wajah pendonor akan terlihat awet muda dan selalu terlihat segar, karena usai donor, pendonor juga akan merasa lebih rileks dan nyaman.

Namun hal yang paling utama adalah, ketika mendonorkan darah orang lain, maka ikut membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Benar bahwa urusan usia atau umur ada di tangan Allah. Namun, manusia tetap wajib ikhtiar atau berusaha. Melalui donor darah, pendonor sudah ikut membantu dalam proses ikhtiar agar pasien yang membutuhkan tetap memiliki harapan untuk hidup lebih lama.

Penulis, rutin melakukan donor darah, meski saat Ramadan.

Untuk itu, bagi saya pribadi, momen Ramadan seperti saat ini adalah selalu menyempatkan diri untuk melakukan donor darah. Beruntung dalam beberapa tahun terakhir, jadwal donor selalu bertepatan saat Ramadan. Jika pun khawatir melakukan donor saat siang hari, maka tinggal datang ke PMI selepas salat maghrib dan usai berbuka puasa.

Bukankah berbagi saat Ramadan tidak hanya sekadar memberikan makanan berbuka puasa, sedekah, atau derma kepada anak yatim piatu? Mendonorkan sebagian darah untuk membantu pasien yang sangat membutuhkan tentu juga akan tercatat sebagai amal ibadah oleh Allah Yang Maha Agung.

Demikianlah kenyataannya. (*)

#ArtiRamadhan

Sumber:

http://donordarah.info/hukum-donor-darah-saat-menjalankan-ibadah-puasa/

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/07/26/mqjica-mui-donor-darah-tidak-batalkan-puasa

Share.

About Author

Hobi menulis, menyukai dunia teknologi pikiran.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage