Rencana Kolaborasi MUI DAN KPI: Sedikit Terlambat tetapi Perlu Didukung!

Rencana Kolaborasi MUI DAN KPI: Sedikit Terlambat tetapi Perlu Didukung!

1

Ilustrasi tayangan program ceramah televisi di salah satu tv nasional

Angin segar berembus bagi masyarakat yang selama ini was-was dengan isi ceramah yang disampaikan lewat media televisi. Situs BBC Indonesia merilis berita bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedang menyiapkan aturan khusus terkait penceramah agama dan televisi yang menyiarkannya. 

Menurut Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Choli Nafis, fakta bahwa siaran televisi merupakan saluran publik sehingga perlu digunakan dengan bijaksana menjadi alasan mengapa MUI akhirnya berkolaborasi dengan KPI. 

Seperti kita tahu, beberapa waktu terakhir ini materi ceramah yang disampaikan di televisi memicu kontroversi karena dianggap ngawur dan tidak cocok untuk disampaikan oleh seorang penceramah agama. Misalnya, soal pernyataan bahwa profesi dokter hewan dianggap tak sesuai ajaran agama Islam, juga mengenai ajaran adanya pesta seks di surga, dan wanita yang melahirkan secara caesar dianggap terkena gangguan dari jin. 

Pelatihan atau standarisasi menurut Pedoman Dakwah yang dikeluarkan oleh MUI bulan Juli lalu diberitakan akan menjadi syarat bagi para penceramah yang akan tampil di televisi. Intinya, dalam pembagian tugas nantinya, MUI akan berperan soal standarisasi penceramah dan konten isinya, sedangkan KPI berkaitan dengan peraturan terkait siaran stasiun televisi. Jika dinilai melanggar, maka KPI akan memberikan teguran hingga sanksi pencabutan siaran jika peringatan dari KPI diabaikan atau disepelekan.

****

Rencana ini patut disambut dengan baik, sekalipun menurut saya agak terlambat. Mengapa agak terlambat? Ingat, dalam satu kali siaran ada berapa banyak penonton yang menyaksikan (baik yang hadir di stasiun TV maupun dari rumah) dan meyakini bahwa pengajaran yang mereka terima itu benar—padahal pengajaran yang diterima ternyata keliru, bahkan ngawur dan (maaf) menyesatkan? 

Jika sudah meyakini ajaran itu benar (tetapi keliru), dengan jumlah pendengar yang tak dapat dperkirakan, berapa banyak kemungkinan orang yang akan menerima “terusan” dari pengajaran itu? Biarlah hal ini menjadi urusan para petinggi lembaga agama seperti MUI dan NU yang perlu berjuang meluruskan pengajaran keliru yang sudah terlanjur masuk ke dalam benak masyarakat—yang mungkin di antaranya adalah kerabat atau orang yang serumah dengan kita. Kita pun dapat berperan aktif dalam menyebarkan pengajaran yang benar dengan membagikan materi (berupa tulisan, gambar, maupun video) mengenai ajaran agama Islam yang benar.

Akan tetapi, sekalipun agak terlambat, rencana kolaborasi antara MUI dan KPI patut kita apresiasi dan kita dukung. Memang, faktanya tidak akan mudah karena mungkin ada berbagai kepentingan yang terlibat dalam setiap tayangan dakwah di televisi, tetapi tindakan preventif yang akan diupayakan oleh kedua lembaga tersebut perlu mendapat dukungan. Apalagi, kabarnya pemerintah juga mulai mengamati isi ceramah yang ada di masjid-masjid, juga di kampus-kampus guna menangkal ajaran radikal yang out of context dan dapat membahayakan masa depan berbangsa dan bernegara.

Berbicara soal ceramah agama menggunakan frekuensi publik, semoga pemerintah juga tidak lupa atau tidak mengabaikan pentingnya pengawasan terhadap siaran ceramah yang juga mengudara lewat radio. “Apa zaman sekarang masih banyak yang mendengarkan radio?” mungkin ada yang bertanya seperti itu. Jawabannya: MASIH BANYAK dan setiap hari saat memutar-mutar untuk mencari siaran radio yang pas, beberapa kali saya mendengarkan sekilas ada ceramah yang disampaikan lebih dari lima stasiun radio. Kapan waktunya? Mulai dari subuh hingga tengah malam dan subuh lagi, hampir pasti ada siaran radio yang berisi ceramah dari berbagai lokasi di seluruh Indonesia!

Akhirnya, mari berharap KPI dan MUI segera beraksi mewujudkan rencana yang sangat baik ini, karena mereka berkejaran dengan waktu. Jika standarisasi penceramah televisi sudah berjalan, saya percaya ke depan kita akan mendengar pengajaran yang benar-benar menyejukkan hati dan bermanfaat untuk membangun kerohanian para pendengarnya. Bukan tidak mungkin, pemirsa yang non-muslim pun bisa tertarik mendengar pengajaran yang dipaparkan oleh penceramah, sekaligus membuktikan bahwa Islam benar-benar menjadi rahmat bagi alam semesta ini. Seperti saya yang terkadang tanpa sengaja mendengar ceramah radio yang isinya cukup menggelitik dan mudah dipahami oleh penganut keyakinan lain, sekalipun yang ceramah itu seorang ustad atau kyai, lalu beberapa menit kemudian saya dengarkan dengan saksama layaknya mendengar khotbah radio dari pendeta.

Ngomong-omong, jika standarisasi ini sudah diterapkan dan berlangsung, apakah suatu saat pengkhotbah kristiani yang disiarkan di televisi dan radio juga akan distandarisasi, ya? Entahlah!

 

Salam Seword! 

Share.

About Author

Arek Suroboyo | Peternak HURUF | Fans MU era Class'92 - sekarang |

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage