Waisak Dan Maknanya Bagi Kejayaan Nusantara

Waisak Dan Maknanya Bagi Kejayaan Nusantara

0

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jasmerah)”

Soekarno, Pidato terakhir pada HUT RI, 17 Agustus 1966

Sumber foto : Okezone Lifestyle

Pada Kamis 11 Mei 2017 kemarin, Umat Buddha Indonesia merayakan Hari Raya Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Rangkaian prosesi acara ini dimulai sebelumnya dengan pengambilan air suci yang diambil dari Umbul Jumprit Temanggung untuk disemayamkan di Candi Mendut pada Senin 8 Mei 2017 lalu. Pada keesokan harinya, dilakukan ritual pengambilan api abadi dari Mrapen, Grobogan untuk disemayamkan di Candi Mendut, untuk kemudian akan diteruskan ke Candi Borobudur sebagai media ritual.

Pada Rabu Pagi 10 Mei 2017 dilakukan Ritual “Pindapata” saat dimana para Biksu dan Biksuni berjalan berkeliling di jalanan kota Magelang. “Paritta,” mantra dan doa-doa pujian berkumandang menyertai perjalanan itu. Di sepanjang jalan yang dilalui, umat Buddha akan memberikan persembahan yang akan dibawa oleh para Biksu dan Biksuni ini. Pada sore harinya, para Biksu melakukan ritual berjalan kaki sejauh 3,5 kilometer dari Candi Mendut ke Candi Borobudur untuk membawa air suci dan api abadi yang sebelumnya telah disemayamkan di Candi Mendut.

Berbagai perlengkapan puja bakti Waisak seperti relik Buddha dan kitab Tripitaka turut dibawa. Malam harinya, sebanyak 1.999 buah lampion diterbangkan dari Taman Aksobhya di Komplek Candi Borobudur. Pelepasan lampion ini menjadi simbol suci untuk melepaskan energi negatif seperti amarah, dengki, nafsu keserakahan dan kejahatan lainnya yang ada di dalam diri manusia. Peringatan Hari Tri Suci Waisak di Candi Borobudur ini ditutup dengan ritual Pradaksina oleh para Biksu dan umat dengan mengelilingi candi sebanyak tiga kali searah jarum jam sambil menyanyikan lagu puji-pujian bagi Guru Agung Sang Buddha.

***

Beberapa tahun terakhir ini Peringatan Hari Tri Suci Waisak mendapat perhatian besar dari Pemerintah dan masyarakat, dan memang sudah seharusnya begitu. Ribuan tahun yang lalu Waisak menjadi momen sangat penting bagi Pemerintah dan penduduk negeri ini. Ketika itu pada masa kejayaan Kemaharajaan Buddha, Sriwijaya menjadi puncak kejayaan negeri yang sekarang bernama Indonesia ini. Ketika itu wilayah kekuasaannya meliputi Kamboja, Thailand, Vietnam, Brunei dan semenanjung Malaysia.

Melihat ribuan tahun ke belakang akan membuat kita kagum akan kehebatan nenek moyang kita ketika itu. Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India,  Tiongkok dan Arab, dengan menguasai selat Malaka, selat Sunda dan selat Karimata, berikut kota-kota pelabuhannya. Sriwijaya adalah kerajaan maritim dengan angkatan laut yang sangat besar dan kuat sehingga mampu menguasai wilayah Asia Tenggara bahkan hingga ke Madagaskar yang jaraknya mencapai 8.000 kilometer dari Sriwijaya.

Selain kerajaan maritim dan perdagangan, Sriwijaya juga adalah negara agraris dengan hasil bumi yang melimpah. Semuanya itu membuat Sriwijaya menjadi kaya raya, kuat dan berkuasa. Tidak hanya itu saja, Sriwijaya kemudian menjadi salah satu pusat pengembangan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara, dengan menjalin kerja sama dengan Universitas Nalanda, India. I-tsing (seorang peneliti dari Tiongkok ) mencatat bahwa ada lebih dari 1000 orang pendeta yang belajar Buddhis di Sriwijaya, ketika dia berkunjung kesana.

***

Peringatan Hari Tri Suci Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur ini memang sangat tepat, bukan saja dari segi upacara keagamaan, tetapi juga makna sejarah bagi putra-putri anak negeri ini agar mereka tahu dan bisa menghormati kejayaan nenek moyang mereka, sebagai salah satu dari tiga Kemaharajaan Buddha terbesar di dunia ketika itu. Candi Borobudur yang dibangun sekitar tahun 750 masehi ini adalah candi terbesar di dunia, dan termasuk kedalam tujuh keajaiban dunia. Candi Borobudur adalah salah satu bukti sejarah kejayaan dan kebesaran Buddha Indonesia dimasa lalu.

Mengapa korelasi Waisak dan Candi Borobudur ini sangat penting?

Mayoritas penduduk di negeri ini menganggap agama Buddha adalah agama baru yang dibawa oleh pendatang dari negeri Tiongkok generasi terakhir yang masuk pada abad XIX. Umumnya pendatang ini bekerja sebagai kuli di perkebunan, tambang, tukang maupun pedagang kecil. Sebagai pendatang dan minoritas, bukan hanya rasnya saja yang mendapat diskriminasi, melainkan agamanya juga. Buktinya dapat kita lihat pada beberapa kasus pengrusakan dan pembakaran Vihara yang terjadi di negeri ini selama 50 tahun terakhir ini.

Para pelaku umumnya dibiarkan saja. Kalaupun ada yang dihukum, vonis yang dijatuhkan oleh hakim biasanya tak lebih dari setengah vonis hukuman yang dijatuhkan kepada maling ayam!! Mengapa vonis hakim begitu rendah?

Pertama, karena hakimnya takut kepada tekanan massa. Dalam kasus-kasus pengrusakan, penjarahan dan pembakaran Vihara, biasanya pelakunya berjamaah dengan jumlah sampai ratusan orang, padahal yang dihukum tak sampai sepuluh orang. Tekanan dari massa (turut melakukan pengrusakan) yang duduk menatap majelis hakim di ruang persidangan plus ribuan lagi yang bergerombolan menginvasi seluruh halaman pengadilan, tentu saja akan membuat majelis hakim tertekan.

Kedua, hakim yang bukan beragama Buddha ini membuat stigma, agama Buddha ini adalah agama baru yang dibawa oleh pendatang minoritas. Ketika terjadi konflik kepentingan diantara mayoritas dan minoritas, maka seperti biasanya, kaum minoritas dipaksa untuk mengalah demi tercapainya “keharmonisan” dalam struktur masyarakat yang beradab. Itulah yang terjadi selama ini.

Apapun itu, majelis hakim, para pemimpin dan sebagian dari rakyat negeri ini telah melupakan dan menistakan sejarah! Semangat Revolusi kemerdekaan 1945 dan Soempah Pemuda 1928 berhasil justru dengan menghilangkan sekat minoritas dan mayoritas diantara masyarakat! Sumpah Palapa dari Patih Gajah Mada, catatan prasasti abad VII, Candi Borobudur beserta ratusan candi-candi yang bertebaran di seluruh bumi Nusantara ini adalah bukti sejarah bahwa agama Buddha, bersama dengan agama Hindu telah lama eksis dan menjadi pionir di bumi pertiwi ini.

Sejarah jangan dibelokkan apalagi dihilangkan! Agama Buddha tidak pernah pergi dari negeri ini. Semangat Buddha bahkan menjadi inspirasi yang mampu mempersatukan dan memakmurkan rakyat negeri ini pada masa kejayaan Sriwijaya selama tujuh abad, yang mustahil dapat kita ulangi lagi. Ketika semangat Buddha disingkirkan, dilecehkan dan diminoritaskan, dimulai sejak abad XV hingga saat sekarang ini, negeri ini perlahan tapi pasti, kemudian menuju kegelapan. Nafsu angkara murka kemudian merajalela terbalut oleh kemunafikan agama.

Tepatlah seperti yang dikatakan oleh pendiri negara ini pada pidato kenegaraannya yang terakhir pada 17 Agustus 1966, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!” Sejarah kebesaran negeri ini dimulai dengan semangat Buddha yang membentuk kemaharajaan Sriwijaya pada abad VII. Semoga Hari Tri Suci Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur ini memberi semangat, pencerahan dan kedamaian bagi masyarakat Indonesia dalam rangka mengisi kemerdekaan negeri ini…

Salam Seword

Reinhard F Hutabarat

Share.

About Author

Saya seorang penulis yang suka menulis apa saja, Fiksi maupun Non-fiksi

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage