Buruknya Kepemimpinan Wasit Liga 1

Buruknya Kepemimpinan Wasit Liga 1

17

Liga 1, dengan sponsor Go-Jek dan Traveloka (sumber: ketemulagi.com)

Usai sanksi FIFA dicabut pada tahun 2016, sepakbola Indonesia kembali menggeliat. Kala itu turnamen jangka panjang bernama Indonesia Soccer Championship masih berlangsung dan saat itu berlangsung juga turnamen akbar se-Asia Tenggara Piala AFF. Sebagai buntut dari bersamaannya jadwal klub dan timnas, Timnas Indonesia hanya diberikan jatah dua pemain per klub untuk mengarungi turnamen dua tahunan tersebut. Dengan materi pemain seadanya, Timnas berhasil membanggakan seluruh masyarakat Indonesia meskipun gagal menjadi juara karena kalah dari Thailand dibabak final.

Setelah Piala AFF, para pemain kembali ke klub untuk bersiap menyongsong kompetisi tahun 2017 yang merupakan kompetisi resmi dimana juara dari kompetisi ini akan mewakili Indonesia di Liga Champions Asia ataupun Piala AFC. Kompetisi kali ini diberi nama Liga 1 setelah pada beberapa tahun terakhir bernama Liga Super Indonesia. Oleh karena Go-Jek dan Traveloka menjadi sponsor kompetisi, maka nama kompetisi bernama Go-Jek Traveloka Liga 1.

Untuk menghadapi Liga 1, sejumlah klub mulai mencari pemain yang dirasa bisa memperkuat skuad. Pada bulan Maret 2017, Persib Bandung secara mengejutkan mendatangkan pemain yang pernah menjadi bintang di Chelsea, Michael Essien. Kedatangan marquee player sekelas Essien membuat tim-tim lain mengikuti jejak Persib mendatangkan pemain yang pernah bermain di liga top Eropa. Madura United contohnya tim yang mengakusisi Pelita Bandung Raya pada tahun 2016 ini mendatangkan Peter Odemwingie, mantan pemain Timnas Nigeria yang pernah bermain untuk West Bromwich Albion dan Stoke City di Premier League. Begitu juga dengan Mitra Kukar dan Semen Padang yang masing-masing berhasil mendatangkan Mohammed Sissoko dan Didier Zokora.

Kedatangan pemain-pemain yang pernah bermain di liga terbaik dunia tersebut menambah semarak kompetisi Liga 1, kompetisi resmi setelah sejak April 2015 keberadaannya mati akibat sanksi FIFA kepada PSSI. Iklim sepakbola Indonesia pun kembali bergejolak setelah pada beberapa tahun terakhir hanya dihiasi oleh turnamen-turnamen saja.

Singkat cerita, Liga 1 resmi dimulai pada bulan April 2017. Dalam perjalanannya yang sudah berjalan selama tiga bulan terakhir ini, Liga 1 menghadapi berbagai masalah, salah satunya adalah kekecewaan masayrakat akan kualitas siaran yang buruk dan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat yang berada di pelosok yang menggunakan antena parabola sebagai sarana untuk menonton televisi. Hal tersebut membuat masyarakat yang kecewa menyuarakan boikot kepada stasiun televisi yang menyiarkan Liga 1. Dalam tulisan saya sebelumnya, sejak 2014 siaran Liga Indonesia selalu diacak oleh pemegang hak siar.

Baca: https://seword.com/sport/pengacakan-siaran-sepakbola-diskriminasi-bagi-masyarakat-pelosok/

Selain kualitas siaran, masalah lain yang dihadapi selama penyelenggaraan Liga 1 ini adalah masalah kepemimpinan wasit yang kerap memancing kontroversi dan emosi. Beberapa pihak merasa dirugikan dengan keputusan wasit yang dinilai berat sebelah dan kerap merugikan tim tamu dan menguntungkan tim tuan rumah.

Masalah wasit ini memang sudah menjadi masalah lama yang tak kunjung ditemukan solusi dari permasalahan tersebut. Salahnya keputusan yang kerap diambil wasit membuat pertandingan yang seharusnya berjalan seru menjadi memanas dan bahkan ada yang berakhir dengan kericuhan.

Pada 2013 misalnya pemain Persiwa Wamena, Pieter Rumaropen melakukan pemukulan kepada wasit yang memimpin jalannya pertandingan usai kecewa karena timnya dijatuhi hukuman penalti. Sebagai dampak dari pemukulan tersebut, Pieter disanksi larangan bermain seumur hidup meskipun akhirnya direvisi menjadi satu tahun larangan bermain saja karena alasan kemanusiaan.

Di Liga 1 kali ini sudah banyak yang mengeluhkan kepemimpinan wasit. Robert Rene Albert contohnya. Pelatih yang membawa Arema Indonesia juara pada tahun 2010 ini mengecam kepemimpinan wasit saat timnya PSM Makassar dikalahkan Persiram Raja Ampat (baca: PS TNI) dengan skor 2-1 pada tanggal 15 Mei 2017.

Baca: http://www.goal.com/id-ID/news/1387/nasional/2017/05/16/35546352/robert-rene-alberts-kecam-wasit

Kontroversi terakhir terjadi pada hari Minggu kemarin dimana Persib Bandung dikalahkan oleh Madura United dengan skor 1-3. Menjelang akhir babak pertama, ada sebuah keputusan kontroversial yang diambil wasit Kusni yang memimpin pertandingan tersebut dimana ia membatalkan gol yang dicetak oleh Raphael Maitimo dimana sang wasit beranggapan bahwa pemain naturalisasi tersebut sudah terlebih dahulu berada dalam posisi offside sebelum mencetak gol.

Detik-detik sebelum gol Maitimo yang dianulir, dalam posisi seperti itu, asisten wasit sudah mengangkat bendera. (sumber: facebook)

Persib seperti dikerjai wasit pada malam itu. Gol pertama Madura yang dicetak oleh Peter Odemwingie melalui tendangan penalti pun memancing kontroversi. Dimana saat itu terjadi perebutan bola antara Dedi Kusnandar dan Greg Nwokolo. Nampak Greg melayangkan sikutan kepada Dedi Kusnandar, Dado (sapaan akrab Dedi) pun terjatuh. Akan tetapi, Greg yang sebelumnya melayangkan sebuah sikutan kepada Dedi pun ikut juga terjatuh. Aksi tersebut mengingatkan kita kepada salah satu tim di Eropa yang bahkan tidak ada kontak dengan pemain lawan pun bisa terjatuh. Terjatuhnya Greg yang sudah menjadi WNI sejak 2011 itu membuat wasit memberikan tendangan penalti kepada Madura. Dan eksekusi penalti dari Peter Odemwingie membuat Madura unggul pada babak pertama.

Memasuki babak kedua, Persib lagi-lagi berhasil mencetak gol melalui bintang mereka, Michael Essien. Namun kembali gol tersebut dianulir. Video ini menjelaskan bagaimana gol eks Timnas Ghana ini dianulir.

Link: https://www.instagram.com/p/BWU6H29HHFV/?taken-by=zonapersib&hl=id

Selain itu, banyak juga gol-gol kontroversial yang tercipta dalam kompetisi musim ini seperti gol penalti dimenit-menit akhir, gol offside yang disahkan dan masih banyak lagi kontroversi-kontroversi yang membuat tim-tim lain tak hanya PSM dan Persib yakni Persija, Persiba, Semen Padang, Barito Putra, Persisam (baca: Bali United), dan Gresik United melayangkan protes kepada PSSI perihal kepemimpinan wasit.

Di Eropa yang menjadi kiblat sepakbola dunia, berbagai macam teknologi canggih telah diterapkan untuk meminimalisir kesalahan wasit seperti goal line technology dan video assistant referee. Dengan adanya teknologi tersebut, kontroversi seperti begitu dapat diminimalisir. Namun biaya teknologi yang tak murah tersebut menjadi penghambat untuk diterapkannya teknologi tersebut di Indonesia.

Masalah wasit memang sudah menjadi masalah klasik dan hingga kini belum ditemukan solusi dari permasalahannya. Memang wasit dan para asistennya hanyalah manusia biasa seperti kita penikmat tayangan sepakbola. Wasit juga kerap melakukan kesalahan karena statusnya yang hanya manusia biasa. Akan tetapi, kesalahan berulang yang dilakukan oleh sang pengadil tentunya mengganggu dan merusak keindahan dari suatu pertandingan.

Semoga wasit di Indonesia bisa memperbaiki performanya demi terciptanya Liga 1 yang berkualitas dan mampu sejajar dengan liga top di Asia.

Maju sepakbola Indonesia!

Share.

About Author

Hanyalah seorang mahasiswa yang mempunyai mimpi untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik lagi.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage