Hak Siar yang Berkualitas, Sepakbola itu Ternyata Tidak Sederhana

Hak Siar yang Berkualitas, Sepakbola itu Ternyata Tidak Sederhana

15

Perkembangan sepakbola Indonesia sejak kisruh antara Pengurus PSSI dan Kemenpora tahun 2015 lalu, telah berjalan sebagaimana mestinya. Mulai dari kerja pengurus PSSI, penjalanan program kerja dan pembinaan di daerah serta penguatan program dalam soal kelengkapan fasilitas dan sarana. Begitu pula dengan program uji tanding dan persiapan timnas berbagai kelompok umur dalam partisipasinya di berbagai ajang turnamen sepakbola internasional.

Hal lainnya adalah, mulai berjalannya Liga Nasional. 15 April 2017 kemarin, pluit kick off sudah ditiup sebagai tanda liga 1 dimulai, kali ini liga 1 disponsori oleh “Gojek” dan “Traveloka” sehingga bernama “Liga 1 Gojek Traveloka.” Hal ini menambah gegap gempita masyarakat penggila bola Indonesia diberbagai daerah sampai ke pelosok desa.

Diatas kertas, seluruh pengurusan administrasi dan lain sebagainya dalam pelaksanaan liga 1 Indonesia, telah memenuhi kelengkapannya. Bukan saja liga 1, tetapi juga liga 2, liga yang berada dibawah liga 1, turut ditayangkan di televisi untuk dapat disaksikan langsung oleh masyarakat Indonesia,.

Hal ini bukan main-main dan tidak dapat disepelekan. Karena ini juga menjadi sangat penting bagi penggemar sepakbola nasional yang menjadi pendukung klub sepakbola, tapi masih berjuang di liga 2 untuk nantinya mendapatkan tiket berlaga di liga 1. Perjuangan tersebut lebih berat tentunya. Karena nantinya hanya juara liga 2 dan runner-upnya yang dapat “naik kelas” nantinya, disamping akan adanya pertandingan “hidup mati” lainnya bagi peringkat 3-5 mendapat kesempatan lolos juga ke liga 1 mendampingi juara liga 2. Biasanya aturannya seperti itu. Dan mengenai level ini, tidak sedikit pendukung klub sepakbola yang masih berada di liga 2.

Di sisi lain, penayangan siaran langsung pertandingan untuk liga 1 dan liga 2 ini juga memberikan transparasi kepada publik tentang perjuangan klub dalam mencapai ranking terbaik di ajang liga nasional. Ini juga menjadi penting bagi para pemain, pelatih, official sampai wasit, hakim garis dan sebagainya. Karena mereka bukan saja akan diuji kemampuannya pada liga, tetapi juga mendapat penilaian langsung dari publik se-Indonesia.

Selama rangkaian kerja yang ada pada pelaksanaan liga dapat dijalankan dengan baik, dan sesuai aturan, bukan tidak mungkin, akan banyak tercipta sumber daya manusia dalam bidang sepakbola yang dapat diandalkan dikemudian hari. Demikian juga dengan kualitas dari liga itu sendiri, akan mengalami pematangan yang sesungguhnya.

Tapi apakah semua hal diatas baru dijalankan? Apakah (yang terutama) sejak di pemerintahan Jokowi kompetisi baru bisa dijalankan semua secara baik dan benar?

Tentu saja tidak, karena memang sudah sejak dulu,  berbagai program kerja sepakbola nasioal memang mempunyai cita-cita dan keinginan yang sama. Memang sudah sejak dulu.

Yang berbeda adalah, saat ini, PSSI bersama-sama dengan pemerintah pusat, yang terutama dalam hal ini Kemenpora, dapat bahu membahu sesuai dengan kapasitas masing-masing membawa sepakbola Indonesia menuju yang terbaik. Sehingga akhirnya nanti, Indonesia mempunyai liga yang berkualitas dan pemain-pemain yang ditempa pada liga tersebut, dapat menunjukkan taringnya ditingkat internasional selaku komponen timnas.

Itulah cita-cita yang diharapkan, kurang lebihnya seperti itu, walaupun tidak mudah dan harus penuh dengan kesabaran, tetapi yang juga jauh lebih penting adalah sebuah kerjasama yang dilandasi oleh komitmen yang sama serta konsistensi juga etos kerja yang profesional. Tanpa ada kepentingan-kepentingan lain yang “hinggap” atau “terselip” dalam pelaksanaan kerja dan program tersebut.

Semua itu tentu saja untuk nama Indonesia di kancah internasional dan untuk rakyat Indonesia yang menjadi penggemar sepakbola ditanah air. Bukan untuk siapa-siapa diluar itu.

Pelaksanaan Liga 1 dan Liga 2 sepakbola Indonesia ditanah air yang sudah berjalan sejak April ini, telah berjalan sesuai rencana dan tidak menemui kendala yang berarti, walaupun pelaksanaannya sempat molor dari jadwal yang ditetapkan semula, akhirnya Liga pun dapat berjalan dan dimulailah kompetisi ini. Klub-klub mulai mencari kemenangan demi kemenangan.

Tetapi bagaimana dengan masyarakat Indonesia penggila bola tentang pelaksanaan dua liga tersebut sampai saat ini?

Dalam olahraga memanglah menjadi hal penting bila bicara soal pengelolaan, pengorganisasian, sampai pembinaan dan perjuangannya dalam merebut prestasi. Itu tidak dapat dipungkiri, tetapi dalam bidang olahraga sepakbola, satu hal mutlak yang tidak boleh dilupakan adalah “pemain keduabelas” dari sebuah kesebelasan. Yaitu penggemar atau penonton.

Tidak ada hal yang lebih dirindukan selain menyaksikan klub kesayangannya bermain pada liga yang tengah bergulir. Jadwal pertandingan pasti akan ditunggu-tunggu, segala aktifitas yang ada sedapat mungkin akan diselesaikan atau ditunda demi bisa menyaksikan klubnya bertanding, pada hari yang telah ditentukan. Kalau bisa memang lebih bagus datang ke stadion untuk menyaksikannya secara langsung. Kalau tidak tentu menontonnya lewat televisi saja. Itu yang lumrah terjadi selama ini.

Dan itulah tujuan utama dari liga sepakbola digulirkan. Agar mendapatkan penonton yang lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Tapi sampai sejauh mana, tontonan di televisi ini dapat memuaskan rakyat Indonesia penggila bola diseluruh tanah air, dari kota sampai pelosok desa?

Begitu Liga 1 dan 2 digulirkan, muncul berbagai keluhan masyarakat yang mengemuka lewat tagar (#)”Boikot TVOne” di media sosial. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram dan lain sebagainya. Keluhan ini muncul justru sejak hari pertama liga digulirkan setelah  pertandingan perdana antara Barito Putra melawan Mitra Kukar dan Persib melawan Arema.

Dua laga pembuka Gojek Traveloka Liga 1 yang disiarkan langsung di stasiun televisi tvOne  ternyata tidak memuaskan pecinta sepakbola tanah air. Masyarakat kecewa karena kualitas tayangan tvOne tidak baik. Kekecewaan juga bertambah karena masyarakat yang berada di pelosok tidak bisa menikmati siaran sepakbola itu melalui parabola karena diacak. Tagar “Boikot TVONe” yang mengemuka di media sosial dirasakan belum mendapatkan respon yang berarti terutama dari pemerintah dan pihak penyelenggara, Maka Keluhan ini berlanjut ke Petisi yang dibangun ditujukan kepada Ketua PSSI Edy Rahmayadi dan Menpora Imam Nahrowi. Belum tahu apakah sudah mendapat tanggapan dari pihak terkait atau belum, tetapi kualitas tayangan dan jadwal yang diacak sampai saat ini masih terjadi, terutama di pelosok tanah air.

“Kami nonton bola semut semua kalo pakai antena, pakai parabola di acak, kami hanya ingin menikmati tontonan rakyat Bapak/Ibu yg terhormat.”

Begitu salahsatu komentar yang datang, menanggapi tayangan tidak memuaskan yang didapat dari stasiun TVOne dalam hal penyelenggaraan Liga 1 dan 2. Seperti yang kita tahu hak siar untuk Liga 1 dan 2 Indonesia, OrangeTV resmi menjadi pemegang hak siar eksklusifnya untuk televisi berbayar dan tvOne sebagai pemegang hak siar untuk siaran langsung dari televisi swasta nasional non-berbayar.

Tayangan di televisi menjadi jauh lebih penting, mengingat tidak semua masyarakat dapat datang ke stadion sepakbola dimanapun itu untuk dapat menyaksikan langsung pertandingan sepakbola klub kesayangannya di stadion tersebut.Begitu juga dengan tayangan siaran berbayar, tidak semua masyarakat Indonesia, terutama di pelosok-pelosok dapat menonton pertandingan sepakbola yang ditayangkan oleh stasiun televise berbayar seperti Orange TV, tentu saja kalau dilihat prosentasenya, Masyarakat Indonesia jauh lebih banyak memiliih tayangan yang di siarkan oleh stasiun tv nasional non berbayar, yaitu dalam hal ini adalah yang ditayangkan oleh TVOne.

Kondisi dari kualitas siaran langsung dari TVOne yang tidak sesuai harapan ini memang sudah menjadi “komplain nasional”, karena yang terkena imbas dari tidak berkualitasnya siaran langsung TVOne justru masyarakat Indonesia yang berada di daerah atau pelosok. Tentu saja ini menjadi kekecewaan besar, karena penggemar sepakbola Indonesia adalah mereka yang tinggal di daerah sampai ke pelosok desa, dari Sabang sampai Merauke. Bisa dibayangkan betapa kemarahan mereka terhadap kondisi ini

Menanggapi hal ini, Kemenpora dan PSSI tidak menutup mata, tanggal 12 Juni 2017 lalu, Kemenpora mengadakan rapat dengan perwakilan Pengurus PSSI, Direksi PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) dan lembaga penyiaran TVOne. Salah satu agenda rapat terkait adalah masalah siaran langsung pertandingan sepakbola Liga 1 dan Liga 2.  Rapat ini dipandang oleh Kemenpora sebagai mekanisme komunikasi secara berkala (tergantung kebutuhannya) itu rutin dilakukan, dengan tujuan selain untuk up date perkembangan, juga untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul menjadi concern publik. Ini juga akan diterapkan dengan pimpinan cabang-cabang olahraga lainnya. (Siaran Pers No. 18/KEMENPORA/6/2017: Kerjasama Kemenpora – PSSI dan Klarifikasi Terhadap Sejumlah Isu Krusial Dalam Kompetisi Liga 1 dan Liga 2)

Dalam rapat tersebut, ada 3 (tiga) agenda rapat, yaitu peningkatan kualitas pelatih, apresiasi terhadap upaya PT Liga Indonesia Baru sebagai penyelenggara kompetisi liga, lalu dengan pihak TVOne, terkait dengan perjanjian hak siar TVOne dalam Liga 1 dan Liga 2 yang disimpulkan dalam 7 (tujuh) point.

Memang, tidak ada masalah bila kita mampu mengambil siaran tv yang berbayar (Terresterial-Satelit, kabel) seperti Orange TV. Karena “Hak Siar” tersebut, “dijual” kembali kepada individu yang telah membayar untuk menikmati suatu siaran.

Berbeda dengan stasiun televise yang memegang hak siar “FREE TO AIR” atau pemegang hak siar tidak berbayar seperti TVOne (kategori Terresterial analog/digital atau tv satelit) yang “hanya” mendapatkan limpahan hak siar dari stasiun tv berbayar dan tayangannya  hanya dapat ditangkap dalam “Batas territorial tertentu”. Pembatasan hak siar bukan dimaksudkan untuk membatasi kepuasan penonton, tapi untuk menjaga keberlangsungan tayangan. (baca: JustSharing – Pengertian Hak Siar)

Tetapi dengan konsekuensi hak siar non-berbayar yang dibatasi oleh “Batas Territorial Tertentu” tersebut sudah seharusnya TVOne mendapat konsekuensi yang disetujui semua pihak untuk dipersilahkan membuat kontrak kerjasama periklanan dengan perusahaan lain seperti menampilkan iklan-iklannya selama pertandingan. Begitu juga TVOne, bisa diberikan hak untuk pasang billboard, logo, dan aneka image lain dengan eksklusif tentunya. Selain itu juga, keterbatasan TVOne soal Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Televisi Siaran Analog Pada Pita UHF, sudah seharusnya disikapi dengan membangun/menggandeng kerjasama dengan televisi lokal untuk memperpanjang jangkauan UHF sampai ketingkat pelosok dan secepatnya TVOne mempunyai Izin Stasiun Radio dalam memperluas jaringan UHF.

Hal ini sudah dibahas dalam rapat dengan Kemenpora, sehingga diharapkan secepatnya, kerjasama-kerjasama tersebut dapat menutupi keterbatasan hak siar terrestrial non-berbayar yang selama ini menjadi topik komplain masyarakat Indonesia.

Kemenpora juga sebaiknya turut mempercepat proses ini, agar keterbatasan tersebut dapat segera terselesaikan, mengingat, Pembangunan sepakbola itu tidak melulu soal organisasinya, pembinaannya, kontrak-kontrak kerjasamanya, tetapi juga kepuasan masyarakat tingkat pelosok dapat turut menyaksikan perkembangan sepakbola Indonesia.

Bukankah sebagian besar bibit-bibit unggul atlet Indonesia justru datang dari pelosok-pelosok tanah air? Dan bukankah, tayangan-tayangan olahraga, terutama olahraga nasional Indonesia, secara signifikan memberikan motivasi mendalam bagi mereka para generasi muda dipelosok tanah air yang bercita-cita menjadi olahragawan dan mempunyai cita-cita untuk mengangkat Indonesia di kancah internasional?

Tayangan-tayangan siaran langsung ini bukanlah hanya bisa dilihat dari sisi hiburannya saja. Tapi sudah banyak contoh-contoh bahwa olahragawan kita, justru paling banyak datang dari berbagai pelosok tanah air. Tayangan ini juga bisa memberikan inspirasi yang tinggi, dan mutlak merupakan bagian penting dalam pembangunan sepakbola di Indonesia.

 

*dedicated to Careen Mansawan-Papua, serta teman-teman lain penggila bola yang berada di manapun di Indonesia

Share.

About Author

Pengertian tapi sulit dimengerti

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage