Kapal Karam Barca dan Efek El-Clasico

Kapal Karam Barca dan Efek El-Clasico

9

“Barcelona seperti kapal karam, saya kesulitan mengendalikan,” kata Luis Enrique setelah timnya ditekuk Juventus dengan tigal gol tanpa balas pada leg pertama Liga Champion, 12 April dini hari. Enrique mengakui kekalahan timnya adalah tanggungjawabnya, dia adalah pusat kesalahan.

Tapi, di liga Champion musim ini, Barcelona sudah dua kali menelan kekalahan memalukan. Di fase 16 besar lalu, mereka takluk di kandang penguasa Prancis oleh Paris Saint Germain (PSG) dengan skor yang tak biasa, 4 – 0. Meski di leg kedua mereka menyudahi pertandingan dengan predikat nyaris mustahil dengan membalikkan keadaan dan menorehkan agregat 6 – 5.

Benarkah Barca seburuk itu saat ini?

Iniesta berdalih, kekalahan dari Juve tak seburuk saat dipermalukan PSG. Tapi membandingkan dua keburukan sama halnya menunjuk takdir, lalu mengharapkan iba untuk dimengerti. Kekalahan dari Malaga sabtu lalu (8/4) juga tak berpengaruh signifikan terhadap peringkat klasemen. Selain kartu merah untuk Neymar, Barca gagal menggeser Madrid di urutan teratas.

Dibanding titel buruk yang terkesan rusak, mungkin lebih tepat jika dikatakan saat ini Barca dalam kondisi labil. Urutan kedua di pentas liga domestik adalah hal biasa, jika yang di atas mereka yang bercokol adalah Madrid, sebaliknya pun begitu. Poin keduanya pun tidak terpaut jauh, hanya beda tiga angka dengan selisih satu pertandingan sisa untuk Madrid.

Kemasukan 3 gol tanpa balas, jelas ini kekalahan besar untuk tim sedigjaya Barcelona, yang di dalamnya ada trisula maut paling mematikan di dunia, Messi, Neymar dan Suarez. Sebuah tim dengan prestasi mentereng, telah merengkuh lima piala liga champion di pentas Eropa, tiga kali juara piala antar klub, 4 kali piala winners, 5 raihan piala super Eropa, 24 liga Spanyol, 28 copa del rey, 11 super Spanyol dan sederet piala lainnya yang mengeaskan mereka adalah klub juara.

El-clasico yang hanya menghibur

The Catalan, gelar yang sekaligus menunjuk sebuah wilayah periphery, symbol perlawanan terhadap teritori kekuasaan yang di pusat pemerintahan ada tim raksasa Real Madrid. Barcelona adalah sparring partner Madrid di Spanyol. Tanpa Barca, tak mungkin Madrid menanjak kesuksesan seperti yang berhasil mereka capai saat ini. Sebaliknya pun Barcelona bermetamorfosis menjadi tim yang berulangkali merajai Eropa berkat pelajaran berharga yang diterima saat melakoni rentetan el-clasico. Hasilnya, mereka (Barca dan Madrid) mendominasi Liga Spanyol, tim lain hanya melengkapi kelasemen.

Karenanya saat ini, Barca versus Madrid sekadar ritual el-clasico untuk memenuhi kebutuhan tontotan dan kepentingan industri sepak bola, bukan lagi uji kualitas. Tensi pertandingan dan gairah membuncah dari kedua kubu lebih besar dibanding apa yang bisa mereka perbuat di atas lapangan. El-clasio kini hanya hiburan semata, namun justru menenggelamkan semua klub yang ada di Spanyol. Bagi Real Federacion Espanola de Futbol (RFEF), ini jelas pertanda buruk untuk masa depan sepak bola Spanyol.

Kapal karam Barca

Pekan depan giliran Barca yang akan jadi tuan rumah di Camp Nou. Saya pikir mereka tak kan bisa mengulang kesuksesan saat menyudahi langkah PSG lalu. Lawan kali ini adalah raja Italia, si Nyonya Tua yang lima musim berturut-turut meraih Scudetto di Italia.

Jika ibarat Barca adalah kapal karam yang terjebak di air surut dan bebatuan karang, sebaliknya Juventus kini menjelma menjadi kapal futuristik yang bisa mengarungi lautan bergelombang ganas hingga menyelam ke dasar lautan yang kelam.

Jadi, sama sekali tak ada kesalahan yang terlampau besar yang dilakukan Barca. Seperti kata Alves, Juventus yang kuat, buka Barca yang lemah. Tim lain yang jauh berkembang adalah situasi yang menempatkan mereka ke garis marginal di pentas Eropa.

Enrique mengibaratkan Barca sebagai kapal karam, tampaknya memahami kondisi musim ini yang tak lagi sekompetitif sebelumnya. Barca yang karam perlu waktu untuk menunggu air laut naik, bahkan jika karamnya dalam, ia butuh membuat perombakan dalam kapal. Beberapa orang yang berdiri di depan kiper mungkin bisa dipertimbangkan untuk dirotasi atau dilepas pada transfer musim depan.

Barca harus berani melakukan perombakan besar dalam skuad demi menyelamatkan kapal karamnya. Sebab, bukan hanya tak mampu mengendalikan setiap permainan, mereka akan kehilangan panggung jika tiba saat tim lain sudah berada dalam kondisi yang terbaik.

Untuk RFEF, efek el-clasico sudah terbukti bagus untuk industri bola, namun akan jadi masa depan buruk bagi sepak bola Spanyol.

Gambar: goal.com

Sumber: bola.net, covesia.com, SuperBall.id

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage