Rapor Bayangan Untuk “The Special One”

Rapor Bayangan Untuk “The Special One”

7

Mourinho H2C

Musim 2016/2017 sudah di penghujung, beberapa trophy liga bergengsi Eropa sudah dibagikan ke pemiliknya yang sah. Begitu pula English Premier League, liga terpopuler di Eropa – kalau dibilang terbaik, nanti mengundang rombongan Cules dan Madridista untuk menista penulis. Hasilnya sudah kita ketahui bersama, pelatih debuta
n Antonio Conte berhasil membawa pulang trofi raja singa (ada mahkota dan ada singa, jangan protes!) kembali ke London.

Hasil yang membanggakan bukan hanya bagi para supporter Chelsea, namun bagi Abramovich. Bila  Conte sekarang mencapai status The Godfather setelah membawa Chelsea dari keterpurukan musim lalu ke tahta juara musim ini, maka bisa dibilang Abramovich adalah bos besar, ketua komisioner. Gelar ini mengukuhkan Chelsea sebagai tim Inggris tersukses semenjak Abramovich menguasai Chelsea (bukan semenjak era Liga Premier, malaikat juga tahu siapa juaranya kalau tentang Liga Premier).

Namun seperti yang sedang tren di anak muda jaman sekarang, dibalik pasangan yang sedang bahagia, pasti ada mantan yang sedih dan tidak terima. Untuk kasus ini dialah “The Special One” Jose Mourinho. Tapi apa benar Mou adalah mantan yang sedang panas dingin dalam kesirikan sekarang ini? Karena sebagaiman mantan, apalagi yang sudah punya pasangan baru juga, pasti selalu ucapakan mantera sudah move on. Jadi bagaimana kita menilai ke move on -an seseorang? Ya kita lihat bagaimana hubungan barunya, dalam hal ini kita lihat bagaimana hidup baru Mou di MU.

Mou datang ke MU seiring dengan gelombang pembaharuan di EPL. Kedatangan gelombang manager-manager baru berdarah muda seperti Pep, Klopp dan Poch seperti hendak menggusur para punggawa lama seperti Wenger dan Mou, yang sebenarnya tidak uzur-uzur banget juga, karena usianya baru 54 tahun. Namun, yang paling terasa beda usia adalah dari sisi filosofi permainan. Para manager muda dengan ide-ide segar mereka telah membawa semangat baru di EPL. Lupakan sejenak La Vecchia Signor Ranieri yang dengan mengejutkan membawa Leicester ke alam mimpi menjadi juara EPL, Inggris kini tengah didominasi para pelatih muda, Conte, Pochettino, Klop, Pep kemungkinan besar penghuni 4 besar EPL, meninggalkan senior mereka Mou dan Wenger.

Ibarat boy band, mereka ini adalah F4 (iya, memang, penulisnya sudah berumur, kenapa?!), Conte dengan Chelsea yang solid dan seimbang dalam serangan dan pertahanan, Poch dengan Spurs yang muda, meledak-ledak, dan dengan budjet paling kecil dari enam besar di EPL, Klopp dengan Liverpool nya yang heavy metal dan Pep si jenius dengan City yang mencekik lawan-lawannya dengan penguasaan bola setiap pertandingan.

Bagaimanapun dunia tidak mengenal kesempurnaan (terserah apa kata Rizky Febian),  Chelsea masih belum membuktikan diri bisa menjaga performa saat turut berkompetisi di Eropa, Spurs masih banyak dicemooh karena belum punya mental juara, Liverpool dengan ketergantungan mereka pada Sane dan mood Coutinho dan pertahanan yang serapuh hati jomblo, serta City yang bisa dibilang masih jauh dari harapan (musim pertama Pep dapat zonk, tanpa trofi, selamat ya!).

EFL Cup

Jadi bagaimana dengan kiprah Mou dan klub barunya? Kalau trofi yang jadi ukurannya, jelas Community Shield dan EFL Cup memberikan nilai positif pada rapor Mou. Apalagi mengingat MU akhir bulan ini berkesempatan utuk melengkapi koleksi mereka dengan trofi Euro League, trofi yang ibaratnya pasangan pelarian bagi jomblo, pasangan yang ditembak hanya supaya bisa ikut pesta yang mewajibkan untuk bawa pasangan. Normalnya klub sekelas MU akan memandang sebelah mata untuk trofi satu ini, namun tiket Champions League yang turut masuk dalam paket hadiah juara Euro League tentunya menjadi pemanis yang akan membuat trofi ini menambah nilai rapor Mou.

Kalau tidak mau dibilang inilah pertaruhan terakhir Mou, ujian terakhir yang akan menentukan nilai rapor musim pertama Mou. Yang akan menentukan apakah para suporter MU yang sudah berkeluarga akan melewatkan jatah malam Jumatnya untuk begadang kembali mengikuti kiprah MU di Euro League atau bisa kembali dengan asik ikut serta dalam obrolan di warung kopi soal serunya pertarungan Liga Champions, ritual yang terpaksa berhenti setahun ini.

Tapi, tentunya trofi-trofi tersebut tidak bisa dibilang memuaskan untuk klub sekelas MU. Apalagi mantan Mou, Chelsea, dibawa Conte mendapatkan gelar juara. Jadi mari kita lihat aspek lain. Salah satu keberhasilan terbesar Mou di MU adalah transfer musim panas. Terlepas dari uang tranfser yang dikeluarkan , bisa jadi lebih besar dari anggaran belanja beberapa negara, transfer musim ini adalah transfer paling sukses MU di era paska Sir Alex Ferguson. Bukan hanya soal kualitas di atas kertas seperti Falcao tapi juga soal pengaruhnya.

Eric Bailly yang dibeli dari Villareal langsung menjadi pemain belakang terbaik MU, bukan pencapaian yang terlalu hebat mengingat koleksi pemain belakang MU yang antara terbuat dari kaca seperti Jones atau lupa cara bertahan seperti Smalling musim ini, namun Bailly ibaratnya seekor binatang buas yang siap menerkam para penyerang yang kurang beruntung karena berada didekat Baily. Paul Pogba si anak hilang yang telah kembali, dengan rentetan gaya rambutnya yang hanya bisa disaingi dengan dribbling-dribbling dan triknya yang menjadi tumpan MU untuk membawa bola dari belakang ke depan dengan cepat, sudah menjadi bagian tak terpisahkan di lini tengah MU, hanya saja kurang beruntung dalam urusan mencetak gol. Mkhitaryan dengan dribbling –nya yang serumit pengejaan namanya, memberikan dimensi baru pada lini serang MU sekaligus gol-gol dari lini tengah yang lama hilang semenjak Paul Scholes dan Ryan Giggs masuk usia lanjut sebagai pesepak bola. Dan Zlatan yang Zlatan.

Di sisi lain, bagaimana dengan permainan MU musim ini? Bagi para supporter MU yang sudah mengalami era SAF dan kemudian melalui masa sulit tidur di era medioker Moyes dan kemudian melalui era sulit melek di masa membosankan dan jinak Van Gaal, tipe permainan apapun pasti lebih baik, bahkan bila misalnya Sandiaga Uno yang jadi manajer MU dengan pola permainan OK OCE nya.

Semua penikmat EPL sudah mengenal tipikal permainan Mou yang pragmatis, hasil diatas segalanya, hanya saja musim ini tanpa hasil yang mumpuni, ditambah lagi perbandingan dengan Chelsea dan Spurs yang mampu menyatukan pragmatisme dengan permainan yang indah, Mou sepertinya sulit mendapatkan nilai baik, meskipun ada faktor cedera pemain yang membatasi pilihan Mou. Cederanya Zlatan di penghujung musim justru menjadi titik terang yang menunjukkan pola terbaik MU musim ini.

Dengan segala ketajaman dan kualitas dewanya, Zlatan adalah titik statis dan konstan lini serang MU, hal yang membuat serangan MU mudah diprediksi dan mudah ditangani lawan. Terbukti dengan lumbung gol MU yang mengering di musim ini. Rashford si bocah lokal yang selama ini terpinggirkan di sayap, muncul sebagai anti tesis, masuk ke sentral dan menunjukkan mengapa Ronaldo asli memujinya. “Dia adalah pemain pemain muda yang sangat bagus. Saya melihat diri saya di dalam dirinya. Dia memiliki keberanian, cepat, dan sangat bagus saat menggiring bola,” sebagai penyerang dalam permainan sepak bola pujian dari penyerang paling lengkap sepanjang masa ini lebih membahagiakan daripada dapat sepeda dari Pakdhe rasanya.

Kekompakan dan kecepatan Rashford, Lindgaard dan Mkhitaryan seperti membuka kunci untuk membuka kemampuan Pogba dan Hererra dalam mendikte permainan, adanya penyerang dengan kecepatan yang berlari di garis terakhir pertahanan lawan membuka ruang untuk pemain tengah MU, dan memberi sasaran umpan terobosan yang memotong tajam pertahanan lawan, tanyakan pada Chelsea dan David Luiz kalau tidak percaya.

Hasil seri yang berseri

Rekor tidak terkalahkan musim ini yang mencapai 25 pertandingan adalah hal menakjubkan yang hanya bisa disamai dengan hasil draw yang mencapai dua digit mungkin tidak bisa terlalu mengobati posisi MU yang tercecer di posisi enam, namun hal ini benar-benar menujukkan pondasi yang mulai terbentuk, tipikal team Mou, keras dan sudah dikalahkan, tangguh di lini belakang, hanya perlu ketajaman di depan untuk menghasilkan sebuah tim yang lengkap dan menakutkan. Posisi MU memang tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, tapi statistik tidak berbohong, MU adalah tim yang sangat sulit dikalahkan dan membobol gawang David De Gea sama sulitnya dengan menghindari pertanyaan kerabat “Kapan kawin?” saat Idul Fitri. Saat MU mengalahkan Ajax di Stockholm dan memboyong trofi Euro League, rapor Mou akan berisi trofi ganda, melebihi para manajer F4, mengembalikan MU ke marwahnya sebagai tim langganan juara, dan memberikan harapan bagi para supporter MU.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage