“Saya Selalu Bernasib Sial di Argentina”

“Saya Selalu Bernasib Sial di Argentina”

1

Marquez jatuh saat balapan di Argentina

Yamaha pecundangi Honda. Dua kali laga balapan di motoGP 2017, Honda tercecer. Dua kali balapan, Honda babak belur! Viñales kembali unggul dan nangkring di podium juara. Selisih sekitar 3 detik, Si Tua 46 menyusul dibelakangnya.

Jika penampilan Movistar Yamaha stabil atau bahkan lebih baik sedikit lagi, mungkin Yamaha bakal menjadi semakin di depan dan semakin tak terkejar. Ini akan jadi bencana tak tertahankan yang mengiris-iris hati dan memilukan perasaan bagi tim-tim lain yang turut berlaga di motoGP kali ini.

Laga balapan ke dua motoGP 2017 di sirkuit yang namanya membuat lidah saya repot mengucapkannya ini, dua kali jadi “kuburan” bagi Viñales. Ketika Viñales masih di Moto2 pada 2014, pebalap yang kini mulai mendapat tempat di hati penggemar ini, gagal menyelesaikan balapan. Tahun lalu, bersama Suzuki Ecstar, si doi juga tersungkur. Kuda besinya gagal mencapai garis finish.

Inilah mengapa, Viñales sempat pesimis sebelum menjelang tanding balapan. Sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo adalah momok bagi Viñales. Viñales bilang: “Saya selalu bernasib sial di Argentina.” Maka tak heran jika sirkuit ini membuat khawatir bagi Viñales.

Tentu saja ingatan masa lalu, tentang gagalnya menyelesaikan balapan, akan tetap di kenang. Kegagalan menaklukkan sirkuit adalah catatan buruk bagi seorang pebalap. Itu adalah aib dan bisa membuat trauma. Jika trauma dipelihara, dan kenangan tetap ditabur benihnya di masa lalu, kebangkitan masa depan bakal sulit untuk diraih.

Dengan kondisi penuh tekanan dan dobrakan optimisme, MV25 menggeber YZR-M1. Dan ternyata tak terkejar hingga motornya melewati garis finis sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo. “Ketika saya melintasi garis finis pada lap terakhir rasanya sungguh luar biasa,” kata Viñales.

Di Argentina, Viñales bangkit dari “kuburannya.” Dua kali gagal selesaikan balapan di Argentina, ia merubah peruntungan dengan tak hanya menaklukkan sirkuit, tapi bahkan menjuarai balapan. Viñales menaklukkan rekornya sendiri, juga menaklukkan rekor Yamaha yang memenangi dua seri pembuka motoGP, setelah sebelumnya di raih oleh pebalap Wayne Rainey pada 1990.

Tua-Tua Keladi

Si Tua 46 yang memiliki pola spesialis hari Ahad, juga mulai lelah dengan kebiasaan itu. Ketika latihan bebas, selama ini kita menonton sambil ngremusi kacang atau rempeyek,Rossi hampir selalu buruk pada balap latihan atau kualifikasi. Tapi saat pertarungan, Rossi gila-gilaan dan melibas para pebalap-pebalap didepannya.

Ini malah seperti ingin memberi bukti bahwa, “gue kalau cuma free practice itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah balapannya.” Sebab, kejutan memang selalu diberikan oleh Rossi. Memulai balapan dari belakang, lalu menyundul dan melewati satu per satu para pebalap lain di depannya.

Mentalitas juara dalam diri si Tua 46 terbukti belum padam dan ia tetap seorang pebalap yang sulit ditaklukkan. Tapi karena pola ini, pola yang sebelumnya terlihat jelek tapi saat balapan justru sebaliknya, membuat Rossi sendiri mengaku bahwa ia lelah. Rossi lelah jadi pebalap spesialis hari Ahad.

Rossi bahkan mengakuinya dan ia mencoba untuk mengubah hal itu. “Saya menderita karena kesulitan pada sesi latihan bebas, saya tak bisa mengontrol situasi. Pebalap lain mampu langsung tampil kompetitif sejak awal sehingga bisa tampak kuat dengan membuat catatan waktu putaran yang bagus. Memang saat lomba saya mampu meningkatkan performa, tapi kami harus mencoba lebih kuat pada sesi latihan bebas.”

Selamat dari Tamparan Yamaha

Pebalap tua lainnya, dengan umur 31 tahun, juga tua-tua keladi pada balapan Argentina ini adalah Crutchlow. Pebalap asal Inggris ini ditikung oleh Rossi dan naik podium pada urutan ke tiga. Dengan tim LCR Honda, ia telah menyelamatkan Honda dari tamparan keras Yamaha.

Setidaknya, Honda tidak terlalu tercecer berantakan karena ada Crutchlow yang naik podium di Autodromo Termas de Rio Hondo ini. Tim satelit Honda ini mampu melalui pertarungan dan finis di terbaik ke tiga.

Sebelum balapan motoGP 2017 digeber, saya melihat Crutchlow memberi aroma negatif atas Viñales. Sebagai pebalap dengan motor Honda, tentu Crutchlow lebih menjagokan Marc, dari pada Viñales. Tapi komentarnya yang mengatakan bahwa Viñales secara kemampuan masih di bawah Marc dan Viñales beruntung karena mesin yang baik, kini merasakan taji tajam si Viñales.

Crutchlow yang pernah meniti karir sebagai pemain bola, lalu memutuskan jadi pebalap itu, terjungkal-jungkal di Qatar. Ia gagal selesaikan balapan. Apakah itu karma karena meremehkan kemampuan Viñales, saya tidak tahu. Tapi sebagai pebalap yang terhitung memiliki banyak pengalaman, setidaknya raihan di podium tiga ini membuktikan bahwa Crutchlow bukan lelaki yang hanya pandai retorika.

Adakah “pebalap” yang sedang bertarung di Indonesia cuma pandai retorika dan mencoba mengalahkan “juara bertahan” dengan dukungan gerombolan para penggemar isu SARA? Adakah itu? Tentu saja pembaca setia Sewordmania tahu jawabannya.

Share.

About Author

[klik saja nama saya di atas kalau ingin baca tulisan saya yang lainnya]

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage