“The Rookie Monster”

“The Rookie Monster”

4

Tunggangan Johann Zarco, Monster Yamaha Tech3. Keren yak???

Dalam dunia perkebut-kebutan motoGP, musim 2017/18 ini barangkali kompetitifnya minta amplop banget. Dua seri yang dihelat baru saja di Qatar dan Argentina, telah menunjukkan bahwa setiap tim memiliki kesempatan untuk “menghancurkan” tim lain. Bahkan, tim satelit sekalipun memiliki kesempatan itu.

Melihat motoGP diawal-awal musim, memang demikian. Dominasi salah satu tim seakan-akan bisa dipatahkan. Meski tim pabrikan, kalau kita melihat pertandingan motoGP awal musim, tim-tim satelit masih memiliki kesempatan untuk memuntir tuas gas sekencang-kencangnya dan melibas tim pabrikan.

Dari sirkuit Losa Terjal, eh Losail (maaf Losa Terjal itu penulis Seword yak), Movistar Yamaha melangkah lebih dulu mengusung trofi juara. Repsol Honda sepertinya masih bermasalah, khususnya pada ban depan motor mereka, termasuk di Autodromo Termas de Rio Hondo; dua pebalapnya termehek-mehek karena glasaran di sirkuit.

Viñales, pebalap Movistar Yamaha itu melaju bak Gundala Putra Petir. Tlap-tlap-tlap, tikung kanan-tikung kiri, dan wussss mencium garis finis lebih dulu. Di Argentina, saat melihat qualifikasi, banyak pendapat mengatakan Viñales bakal habis disini. Termasuk saya, sebab sirkuit Autodromo Termas de Rio Hondo belum pernah ditaklukkan oleh Viñales.

Kenyataannya, Viñales naik podium juara. Saya geleng-geleng kepala. Geleng-geleng kepala untuk Marc yang njungkirbalik terkapar tak berdaya saat jatuh mak dlusurrr di tikungan. Padahal, dibelakangnya ia tengah dikejar oleh Viñales. Yah, akhirnya Viñales dong yang memimpin balapan.

Namun, ada pebalap-pebalap mengejutkan pada musim ini. Jika Viñales telah mengoyak perhatian orang-orang musim lalu saat masih di Ecstar Suzuki, kini ada Zarco yang membobol perhatian jama’ah motoGP. Pebalap dari negeri yang melahirkan Voltaire dengan tokoh yang ditulisnya bernama Jean Calas itu, saya sebut “The Rookie Monster” saat mengendarai YZR M1.

Zarco dan tunggangannya, YZR M1

Dengan tim satelit Monster Yamaha Tech 3, Zarco tak terlalu diunggulkan untuk jadi juara dunia. Selain dari tim satelit, dia juga seorang “bocah” yang baru mencicipi manisnya lollipop motoGP. Dia adalah seorang “Rookie”.

Sebelumnya, Zarco kebut-kebutan di Moto2. Dua kali juara dunia secara beruntun. Kini dia menggeser pantat, naik kelas ke motoGP untuk turut bertanding melawan si Tua 46 dan kawan-kawan. Dan si Tua 46 mengangguk-anggukkan kepala ketika melihat gaya balapan “The Rookie Monster”.

“Saya senang bisa menyalip pebalap papan atas, memimpin balapan, dan membuat jarak,” kata Zarco (liputan6.com, 27/3/17). Zarco sempat melibas Viñales di Losail. Viñales pun hampir menabrak Zarco. Tapi Zarco akhirnya gagal finis karena terjungkal di lap ke tujuh. Padahal saat itu dia memimpin balapan.

Tapi dia tidak merasa rugi. Itu pelajaran bagi seorang rookie. Selain itu, patut untuk dimaklumi karena selama berkarir di GrandPrix, Zarco memakai ban Dunlop. Di motoGP, dia harus adaptasi dengan Michelin.

Di Autodromo Termas de Rio Hondo, Argentina, Zarco menggila dan sempat memimpin balapan lagi. Benar-benar “The Rookie Monster” dia itu. Dia finish di urutan ke lima. Di belakangnya, ada Folger yang menguntit. Folger adalah rookie satu tim dengan Zarco, di Monster Yamaha Tech3. Folger berasal dari negeri yang melahirkan “Sang Pembunuh Tuhan”, si Nietzsche.

Dua orang debutan ini, Zarco “The Rookie Monster” dan Folger, patut untuk dapat perhatian lebih. Di Losail, Folger mampu finis di urutan ke 10. Zarco semestinya juga mengkhawatirkan ketenangan Folger.

Jika Zarco terus-menerus memuntir gas dan tidak memperhatikan ban yang ia gunakan, ia bisa terjungkal kembali. Dan di saat yang sama, ketika Folger lebih hati-hati dan bisa mengontrol diri, bisa jadi kehebatan Zarco bakal dihabisi oleh perhitungan intuisi yang cermat rekan setimnya, Folger.

Menjelang balapan motoGP ke tiga di Austin, Texas nanti, para jama’ah motoGP pastinya akan diberi pertunjukkan legit nan apik. Sirkuit Austin terkenal sebagai sirkuit yang amat sulit. Ini karena model tikungan chichane dan hairpin berhamburan di sirkuit ini.

Tahun lalu, Pak Dhe Rossi nggeblak dan tak bisa finis di sirkuit Austin. Sedangkan Marc, menjuarai sirkuit ini karena dinilai sirkuit ini cocok dengan gaya Marc yang agresif.

Sirkuit Austin Texas. Berlimpah tikungan chicane dan hairpin

Jika melihat musim motoGP kali ini yang diisi pebalap-pebalap tangguh, Austin akan jadi lembah pertarungan yang “berdarah-darah”. Rossi pasti akan melahirkan kesumat menaklukkan sirkuit ini, Marc tentu akan ngebet naik podium, Viñales bakal tak membiarkan orang lain merebut kedudukan podium juara.

Dan jangan dilupakan, Crutchlow, si pebalap dari tim satelit LCR Honda yang menyelamatkan Honda dari tamparan Yamaha di Argentina. Dia pasti akan memiliki hasrat berlimpah untuk naik podium setelah sebelumnya finis diurutan ke tiga. Zarco dan Folger dari Monster Yamaha Tech3, adalah para rookie yang punya kans untuk merepotkan para pebalap papan atas.

Arkian, siapa yang bakal saya dukung? Bagaimana kalau saya dukung “The Rookie Monster” saja? Tidak terlalu berharap banyak sih, dia bakal naik podium. Tapi setidaknya, saya dukung dia untuk merepotkan Marc dan Dovizioso , biar Viñales dan Rossi melaju kencang semakin di depan. Wakakakaka.

Share.

About Author

bisa disapa di twitter @slamet_wicak

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage