Timnas U-19 Di Piala AFF 2017: Laga 3 Indonesia vs Vietnam

Timnas U-19 Di Piala AFF 2017: Laga 3 Indonesia vs Vietnam

5

Pada pertandingan Indonesia melawan Philipina kemarin, Komentator Valentino Simanjuntak, begitu mendominasi “komentar” bagi komentator sepanjang pertandingan tersebut. Sangat terlihat, bagaimana Yusuf Kurniawan, duetnya sebagai komentator begitu kewalahan “menandingi” komentar-komentar Valentino yang sarat dengan istilah-istilah baru yang menggelitik.

Tapi pada pertandingan kali ini, antara Indonesia melawan Vietnam, Indosiar menyandingkan M. Kusnaeni untuk bisa “mengimbangi” akselerasi Valentino Simanjuntak dalam mengolah kata-kata. M. Kusnaeni, komentator sepakbola yang sudah “harum” namanya di kancah komentator sepakbola Indonesia, mungkin dinilai pihak Indosiar sebagai “lawan” yang sepadan bagi Valentino Simanjuntak dalam memberikan komentar-komentar yang menarik dan menggelitik, sekaligus berbobot dalam ulasan-ulasan dan analisanya. Dalam arti kata lain, pertandingan ambisius antara Indonesia dan Vietnam yang bergengsi ini, akan dikawal oleh para komentator yang berkualitas.

Mungkin begitu harapan pihak Indosiar.

Indonesia melawan Vietnam. Sebuah pertandingan yang diharapkan akan berlangsung sengit dan bergengsi sekaligus cukup prestisius, merupakan sebuah pertandingan yang kesebelasannya sering memberikan kejutan-kejutan dalam berbagai turnamen sepakbola Asia Tenggara dan dua kesebelasan ini saling bersaing. Banyak penikmat sepakbola Asia Tenggara yang menunggu dan ingin menonton pertandingan ini, apalagi masyarakat di Indonesia.

Ternyata keinginan itu tidak terwujud seperti yang diharapkan. Terutama sekali bagi fans timnas Indonesia. Pertandingannya tidak begitu seru, pemain bermain kurang maksimal, dan kalah telak pula 3-0. Kembali masyarakat gila bola di Indonesia menunda kegembiraan mereka dalam menikmati perjalanan dan perjuangan timnas Indonesia.

Di awal pertandingan, kedua kesebelasan bertanding begitu hati-hati, tetapi lugas dan sarat dengan adu skill dan taktik dalam menjajaki lawannya. Terutama di lini tengah, terlihat bagaimana Indonesia dan Vietnam, saling berusaha untuk menguasai lini tengah yang merupakan kunci dari pertahanan sekaligus serangan.

Permainan Indonesia sendiri, cukup tenang dan begitu disiplin dalam menjaga alur distribusi bola serta mempertahankan posisioning tim di wilayah tengah tersebut. Tetapi, begitu juga dengan Vietnam, mereka juga mempunyai kualitas, kekompakan dan skill yang tidak berbeda dengan Timnas Indonesia.

Tetapi kali ini, mereka mempunyai taktik tambahan, yaitu mengunci Egy Maulana sejak dimulainya pertandingan. Pada awal-awal pertandingan ini, terlihat bahwa Timnas Indonesia seperti terlambat untuk “panas”, walaupun masih mampu untuk adu yang berimbang dengan Vietnam.

Instruksi Indra Sjafri untuk melakukan taktik menekan dan mengganggu setiap pemain Vietnam yang memegang bola, begitu Indonesia kehilangan bola, sambil tetap melakukan penjagaan zona (Zonal marking) berhasil dilakukan dengan baik. Sehingga memang terlihat bahwa Indonesia sedikit lebih unggul dalam mendominasi jalannya pertandingan, walaupun, Egy terus dikawal dan ditutup pergerakannya.

Tetapi keadaan mulai berubah ketika Muhammad Riyandi, kiper Indonesia mendapat cedera dan terpaksa harus meninggalkan lapangan usai terjatuh dalam meyelamatkan gawangnya. Kemudian digantikan Muchamad Aqil Savik pada menit ke-37.

Terlihat, baik pertahanan maupun lini tengah Indonesia mulai gamang dalam bermain, sepertinya ditarik keluarnya Riyandi membuat konsentrasi para pemain mulai pecah dan mulai tidak focus. Timnas menjadi kehilangan koordinasi dan kekompakannya, dan penguasaan lini tengah mulai tampil tanpa pola yang kokoh.

Terjadinya gol untuk Vietnam ketika mendapatkan tendangan pojok, melalui Le Van Nam di menit 41, menjadi salahsatu bukti pecahnya konsentrasi para pemain. Duel perebutan bola yang terjadi didepan gawang Indonesia memperlihatkan bagaimana, para pemain Indonesia hanya terpaku dan tidak fokus lagi dalam menjaga para pemain Vietnam. Tetapi hanya mengikuti arahnya bola, sehingga tampak satu-dua pemain Vietnam bebas melakukan operan tik-tak untuk kemudian menjadikannya gol.

Kemudian permainan ketat pun mulai berubah menjadi adu serang. Indonesia mencoba memberikan balasan dengan cara menyerang dengan pola bermain lebih ofensif, karena ingin mengejar ketertinggalan, tetapi sayangnya serangan yang dibangun itu lemah di penyelesaian akhir. Tapi tidak untuk Vietnam.

Mereka seperti mendapatkan angin segar untuk membangun mentalitas menyerang dan mengeluarkan kemampuannya untuk menambah gol. Vietnam berhasil melakukan pola pertahanan yang rapat, tetapi tetap sabar dalam meladeni serangan Indonesia sambil menunggu untuk melakukan serangan balik.

Taktik Vietnam ini berhasil, hanya berjarak tidak lebih dari 10 menit sejak gol pertama, Vietnampun berhasil menambah golnya di menit injury time babak pertama. Skor pun menjadi 2-0 untuk Vietnam pada menit ke 45+.

Dibabak kedua, baik komentator maupun pemirsa di rumah berharap anak-anak Timnas PSSI dapat membalas gol Vietnam. Begitu juga Indra Sjafri, dengan melakukan pergantian pemain, terutama dengan masuknya Samuel Christianson Simanjuntak di sisi wing back kiri.

Para gelandang yang mengisi lapangan tengah Indonesia, mulai bergerak agresif dan berusaha menciptakan berbagai peluang, termasuk tendangan pojok beberapa kali, tetapi penyelesaian akhir yang tidak terskenario dengan baik, akhirnya hanya mementahkan banyak peluang saja termasuk dalam melakukan serangan.

Vietnam berhasil melakukan zonal marking (penjagaan area) dengan baik, terlihat rapat dan kokoh, serta mampu membaca pergerakan lawan. Kecuali kepada Egy Maulana, Vietnam tetap melakukan pengawalan ketat kemanapun Egy bergerak.

Keadaan ini sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh dua pemain yang baru masuk, yaitu Samuel Christianson Simanjuntak yang begitu baik melakukan overlapping kedepan atau kemampuannya membuka ruang dan peluang untuk rekan-rekannya dari sisi kiri, ia bersama dengan Witan Sulaeman gelandang serang yang kemampuannya menyisir bola dari sisi kanan.

Ditarik keluarnya Saghara, striker yang sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa, akibat dijaganya Egy, membuat Samuel dan Witan dari dua sisi menjadi alternative yang tepat dalam mengganti strategi serangan. Tampak satu dua kali keduanya berkolaborasi di muka gawang Vietnam menciptakan peluang, tetapi belum menghasilkan gol.

Begitu juga dari lini tengah yang kemudian tampak sering kosong, karena para gelandang yang mulai mengolah berbagai sisi lapangan untuk membuka ruang serang dan peluang, sementara kuartet pertahanan bergerak naik merapat untuk menutup sisi kosong pada lini tengah dengan melakukan perangkap off-side ketika diserang.

Cukup berhasil Indra Sjafri dalam menerapkan pola tersebut, hanya sayangnya, peluang demi peluang terbuang percuma karena tidak matangnya Indonesia menyusun serangan. Malah Vietnam akhirnya berhasil menciptakan gol dengan memanfaatkan momen sepakan pojok.

Akhirnya Indonesia mengakhiri pertandingan tersebut dengan kalah 0-3 dari Vietnam.

Vietnam memastikan lolos ke semifinal. Mereka akan bertemu dengan pemenang Grup A yang masih akan ditentukan di laga terakhir pada hari Selasa ini, antara Thailand atau Malaysia, yang sama-sama sudah memastikan kelolosan mereka.

Sementara Indonesia, masih berpeluang untuk menjadi runner-up grup dengan cara harus menang dengan skor besar melawan Brunei nanti, serta di sisi lain, Myanmar, yang merupakan pesaing kuat dalam merebut posisi runner-up harus kalah dari Vietnam di pertandingan selanjutnya.

Harapan pertandingan sengit dan meraih kemenangan yang dikawal oleh dua komentator teranyar sehingga Indonesia lolos ke babak semifinal pada pertandingan ini, Akhirnya harus ditunda dengan realita hasil pertandingan ini, mudah-mudahan dipertandingan selanjutnya Indonesia dapat meraih kemenangan dengan pesta gol, dan Myanmar dapat dikalahkan Vietnam sehingga Indonesia dapat mendampingi Vietnam ke babak selanjutnya

Maju Terus Sepakbola Indonesia!

Share.

About Author

Pengertian tapi sulit dimengerti

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage