Wisata Mancing di Negeri Bahari, Kenapa Tertinggal?

Wisata Mancing di Negeri Bahari, Kenapa Tertinggal?

0


Indonesia, dengan kekayaan sungai, danau, kawasan mangrove dan laut yang sangat luar biasa, pasti mempunyai pehobi mancing yang sangat banyak. Memang tidak ada sensus khusus berapa jumlah pehobi mancing di Indonesia, namun dengan jumlah wilayah perairan dan jumlah penduduknya, mungkin Indonesia mempunyai jumlah pemancing terbanyak di dunia.
Coba saja perhatikan di sekitar anda, baik itu saudara anda sendiri, tetangga atau teman kerja, dari 100 orang, mungkin 3 sampai 5 orang hobinya mancing.

Dengan jumlah penduduk Indonesia per Juli 2017 sebesar 262 juta, maka bila menggunakan asumsi 3 sampai dengan 5 persen yang hobi, artinya setidaknya lebih dari 7 sampai 13 juta orang yang senang dengan kegiatan yang membutuhkan kesabaran ini dan tehnik yang relatif mudah untuk dipelajari.
Jika demikian, hobi ini selarusnya mempunyai potensi wisata mancing yang sangat besar. Ini belum ditambah jika orang asing datang ke Indonesia khusus untuk memancing dan tentu saja membawa dollar atau Euro yang cukup banyak.

Lalu kenapa potensi besar ini tidak digali lebih dalam lagi? Kenapa seakan-akan pemda, para pengusaha wisata mancing dan klub-klub seperti jalan sendiri-sendiri? Apakah pemerintah pusat sudah betul-betul berperan  memberdayakan potensi ini?

Memang sekarang ini cukup banyak turnamen mancing kelas lokal,nasional bahkan internasional, apakah itu diselenggarakan oleh pemerintah daerah masing-masing atau klub-klub mancing Indonesia, namun nampaknya tidak terkoordinir dengan baik, bahkan terkadang klub-klub mancing ini tidak terlihat saling mendukung jika tidak bisa dikatakan saling menyalahkan.

Misalnya masalah penyebaran ikan toman  (Channa micropeltes) di perairan Pulau Jawa untuk kepentingan mancing air tawar.  Karena ikan predator ini bukanlah ikan endemik P. Jawa, maka sebagian komunitas mancing mengkawatirkan ikan buas ini akan merusak keseimbangan ekosistem perairan tawar (danau dan sungai) . Tetapi hal tersebut ditentang oleh komunitas mancing lainnya. Polemiknya saat itu sampai berbulan-bulan.

Lalu lembaga mana yang seharusnya bertanggungjawab atas peraturan mancing, promosi dan juga yang tidak kalah penting, membantu membiayai atau setidaknya membantu mencarikan biaya untuk turnamen lokal, nasional dan internasional?

Pernah mendengar FORMASI? Organisasi ini adalah singkatan dari Federasi Olah Raga Mancing Seluruh Indonesia yang secara formal seharusnya menjadi koordinator untuk kegiatan-kegiatan turnamen mancing, karena sampai saat ini, hanya FORMASI yang diakui secara formal selalu menyelenggarakan turnamen skala nasional maupun internasional.

Sebut saja Big Game/Billfish Tournament  sampai yang pertama sampai ke sebelas, Turnamen Piala Presiden, sejak yang pertama tanggal 27 Nopember 1997 Ujung Kulon sampai yang terakhir, yaitu turnamen Piala Presiden ke sebelas, 28-31 Mei 2009 di Pelabuhan Ratu. Belum lagi turnamen Piala KASAL atau turnamen FORMASI sendiri yang memperebutkan piala bergilir Ketua Umum FORMASI, kalau tidak salah sempat ada Turnamen Mancing di Kepulauan Seribu memperebutkan piala bergilir Ketua Umum FORMASI, pada Nopember 2013.

Terlepas dari sepinya penyelenggaraan turnamen mancing yang diadakan oleh FORMASI beberapa tahun belakangan ini, maka bila ada penyelenggaraan acara skala nasional apalagi internasional, maka  FORMASI sebaiknya dilibatkan.

Bulan Oktober mendatang, akan ada penyelenggaraan turnamen skala internasional, yang diselenggarakan oleh Pemda Maluku Utara di Pulau Widi, Halmahera Selatan, yaitu Widi International Fishing Turnament (WIFT), namun FORMASI tidak terlihat terlibat atau dilibatkan.

Perlu diketahui bahwa turnamen WIFT digadang-gadang sebagai turnamen mancing terbesar tahun ini karena memperebutkan Piala Presiden dan penyelenggara utama Pemda Maluku Utara beserta pegiat wisata mancing “Rumah Mancing” dan didukung oleh beberapa klub mancing besar Indonesia lainnya.
Tidak tanggung-tanggung, penyelenggaraan ini bahkan melibatkan sembilan kementerian. Sumber

Jadi, ini even yang cukup besar, karena diikuti hampir semua klub mancing besar Indonesia, bahkan konon, sudah banyak  peserta dari luar negeri yang mendaftar. Komposisinya 60 persen dari luar negeri dan 40 persen dari klub mancing dalam negeri. Super sekali.
Namun, walaupun turnamen ini bertujuan sangat mulia untuk memajukan pariwisata di Halmahera Selatan, tetap saja ada yang memandang sinis acara ini. Silahkan baca di sini.

Sekarang, mari kita bahas kenapa saya perlu mengangkat turnamen ini sebagai hal yang perlu dicermati.

Turnamen WIFT ini jelas menyebutkan akan memperebutkan Piala Presiden. Nah lo.

Coba perhatikan. Turnamen mancing Piala Presiden selalu diselenggarakan oleh FORMASI, namun Piala Presiden di even WIFT diselenggarakan tanpa melibatkan FORMASI?
Memang gampang sih membuat piala, namun menurut pandangan saya, seharusnya tidak begitu saja tiap daerah membuat sendiri-sendiri Piala Presiden untuk even mancing, walaupun acara itu diresmikan oleh Presiden dan dihadiri para menteri terkait.

Lalu, jika nanti ada Pemerintah Daerah lain, di tahun yang sama bikin kompetisi yang mirip, dan mengundang Presiden kita untuk meresmikan acaranya, lalu pialanya juga disebut juga Piala Presiden, sah tidak?
Jika nanti peserta atau klub dari negara lain menang di WIFT, kemudian mereka menang lagi di turnamen daerah lain yang juga memperebutkan Piala Presiden? Malu ah, Piala Presidennya Indonesia seperti diobral.

Konfirmasi dari Ketua Bidang Turnamen FORMASI Bang Amin Ginting, yang saya hubungi pada Selasa 12 September 2017, menyatakan bahwa tidak ada surat pemberitahuan atau koordinasi dari panitia WIFT. Namun, mempertimbangkan kemajuan wisata mancing di Indonesia, beliau mempersilahkan bila ada yang mengadakan turnamen mancing internasional di Indonesia.
“Pastikan saja tidak ada nama FORMASI di sana”, imbuhnya. Beliau juga menjelaskan dasar hukum penyelenggaraan turnamen mancing seharusnya mengacu antara lain kepada UU RI Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Bab IX pasal 51, ayat 1 dan 2.

Di kesempatan lain, saya meminta konfirmasi salah satu mitra pendukung utama yaitu Rumah Mancing (RM), Mas Wicaksono yang menyatakan bahwa pihak RM dan teman-teman  sebenarnya tidak bermaksud menyaingi FORMASI.
“Kami hanya ingin wisata bahari khususnya wisata mancing dapat maju lebih pesat lagi”

Lalu, kenapa tempo hari sempat ribut-ribut di Medsos mengenai hal ini? Pro dan kontra perihal pelibatan FORMASI pada even nasional ini sudah sempat sedikit memanas. Tetapi mari kepala kita tetap dingin membahas hal ini.

So what next? Bubarkan FORMASI, atau tempatkan FORMASI pada posisi seharusnya?

Dibutuhkan peran Kemenko Maritim, beserta kementerian di bawahnya, Kementerian Pariwisata, Kemenpora, pemda-pemda dan pastinya komunitas mancing Indonesia, agar kita bisa punya satu komando yang jelas, koordinasi yang jelas, siapa melakukan ini, siapa mengawasi itu, dan seterusnya.

Bah, jadi ingat SKKNI/Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia untuk Profesi Pemandu Wisata Mancing. Halo Kemenaker, Kemenpar, FORMASI, dan beberapa komunitas mancing yang sudah merumuskan standar ini, sudah jalan belum sih? Capek dan begitu banyak waktu membuat ini, sayang jika mubazir.

Kembali lagi ke pokok permasalahan.

Ada solusi yang mumpuni untuk membenahi semua ini? Rumah Mancing usul, dan saya yakin yang lainnya kurang lebih begitu, yaitu duduk bersama dalam rembug nasional dan mengundang semua pemangku kepentingan. Bahas semua hal-hal mendasar mengenai turnamen mancing yang jelas aturan mainnya, bagaimana koordinasinya dan membentuk semacam agenda turnamen tahunan yang berkesinambungan.
Mungkin diskusi ini bisa diadakan dalam acara “Indonesia Fishing Tackle Exhibition” – IFTE pada Nopember mendatang? Atau mau bikin rembug nasional tersendiri?

Terserah. Intinya, kesampingkan egois semua pemangku kepentingan termasuk klub-klub mancing besar kecil, tua, muda  ‘as we are in the same boat’, kompak memajukan pariwisata mancing negeri bahari tercinta.
Sama sekali tidak lucu, kita punya perairan air tawar dan laut yang begitu kaya, kok ketinggalan sama Malaysia dengan aturan-aturan ketatnya mengenai wisata mancing.

Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Mantan Operation Head di suatu shipping lines internasional, pensiunan pemancing pas-pasan, wiraswastawan serba on-line

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage