Advanced Jet Trainer – Pesawat Latih Lanjutan atau Tingkat Lanjut

Advanced Jet Trainer – Pesawat Latih Lanjutan atau Tingkat Lanjut

4

Guizhou JL-9. a.k.a FTC2000 Mountain Eagle (Shanying) Advanced Jet Trainer

Pertama kali Indonesia menemukan istilah ini adalah ketika kedatangan Hawk Mk-53 ke Indonesia, yang kemudian mengisi Skadron Latih Lanjut 15 Lanud Abdurahman Saleh.

Perkembangan dunia pesawat tempur yang semakin menggila, kalau tidak mau disebut sebagai kelewat batas, memaksa pesawat yang berjulukan Advanced Jet Trainer ( AJT ) ini untuk ber-evolusi juga mengikuti perkembangan pesawat tempur yang ada..

Dahulu ketika baru ada Aeromachi dan Hawk yang merajai pangsa pasar AJT, AJT bisa diartikan dengan istilah pesawat latih lanjutan. Yaitu pesawat latih yang memiliki karakteristik mirip dengan pesawat tempur asli, sehingga bisa memotong kos yang harus dikeluarkan untuk pilot baru. Pilot baru sudah memahami karakteristik pesawat jet dan bagaimana menerbangkannya dengan baik dan benar, dan ketika masuk skadron transisi ( hotlink ) atau masuk skadron tempur ( di Indonesia ), sang Pilot cukup belajar panel dan instrument dari pesawat yang hendak dibawanya, bukan lagi penyesuaian karakteristik terbang, seperti ketika baru belajar dengan AJT.

Sementara itu di luar negeri sana ada istilah namanya Fighter Mafia, sekelompok orang dengan konsep bahwa fighter bagaimanapun harus fighter, jadi harus FIGHT. Nah dari jasa mereka inilah akhirnya muncul pesawat generasi ke empat ( akan dibahas di bagian selanjutnya ) yang notabene masih berukuran kecil namun dengan kemampuan yang luar biasa ( contohnya adalah F16 ).

Semua ini tidak bisa terlepas dari namanya T28 Talon, pesawat latih tingkat lanjut Angkatan Udara Amerika pada medio 50-an. Yang sebenarnya adalah sebuah proposal untuk pesawat tempur berbobot ringan, namun apa daya ? Kemampuan enginering saat itu belum mampu menopang hal tersebut. Jadilah proyek prestisius ini berubah jadih pesawat jet latih untuk angkatan udara Amerika Serikat..

Angin segar mulai berhembus ketika perang Vietnam berlangsung, F4 mandul menghadapi dogfighter semacan Mig-17 dan Mig-19. Kedua pesawat ini adalah pespur transsonic ( baru melampaui kecepatan suara ), beda dengan F4 yang sudah supersonic ( dua kali kecepatan suara ).

F4 sering dipojokan dengan manuver pendek oleh kedua pespur ini dan ketika sampai di jarak tembak, kanon MiG menyalak dan menghantam telak F4 yang sudah terkunci posisinya. Sementara itu T38 Talon masih Transsonic ( kecepatan F5 hanya sekitar 1200 km/jam ). Muncullah ide untuk mengubah T38 menjadi F5 Tiger, yang cukup sukses berkiprah di Perang Vietnam dengan kombinasi rudal dan kanon, seperti MiG 21 namun dengan kecepatan 60% dari MiG21..

Kiprah F5 Tiger selama perang Vietnam membuat Inggris yang kekurangan elemen serang ( hanya mengandalkan Harrier ) memunculkan ide untuk mengubah Hawk 100 yang awalnya hanya jet latih menjadi elemen serang darat juga.. Terutama karena kecepatan Hawk yang lebih baik dari Harrier dan kemampuannya untuk tetap STOL, jadi favorit bagi RAF…

Perkembangan pespur yang semakin cepat, ternyata membawa masalah sendiri lagi, ketika perang besar yang mencoba dihadapi ternyata tidak terjadi.. Malahan perang kota yang semakin menjadi – jadi, terjadi di berbagai tempat di dunia, memaksa para produsen alat perang, untuk merancang pesawat murah meriah yang mampu berperan besar dalam berbagai kesempatan…

Kemudian muncullah konsep pesawat serang ringan yang hanya membawa kurang dari lima ton persenjataan, namun sudah mumpuni seperti layaknya pespur generasi ke tiga.. Senjata yang dibawa mencakup dua sampai empat rudal udara ke udara jarak dekat, dua sampai tiga bom standar @250kg dan dua buah tangki bahan bakar cadangan..

Konsep ini sangat cocok untuk negara dunia ketiga, yang pada dasarnya yang penting keamanan dan pertahanan, bukan negara penyerang seperti negara ( penguasa dunia ). Contoh saja negara – negara menengah dan kecil di Eropa. Bahkan mereka hampir tidak punya pesawat penyerang, andalan mereka adalah pesawat tempur multi fungsi, sehingga biaya pemeliharaan yang keluarkan juga lebih kecil..

Dengan tuntunan dan perkembangan yang gila – gilaan dari generasi pesawat tempur ke empat dan munculnya generasi pesawat tempur ke empat setengah, yang notabene lebih senyap ketimbang, pendahulunya dan fitur baru yang dilahirkan oleh mesin berkekuatan besar ( 25.000 pon vs 32.000 pon ). Menciptakan masalah baru dalam hal pelatihan penempur baru.

Dan kebutuhan pesawat jet latih jenis baru pun mulai digulirkan, salah satunya dengan program T-X ( Jet Latih Masa Depan ), yang bisa digunakan untuk melatih calon pilot F22 Raptor dan F35 Lighting II. Dan spesifikasi yang diminta oleh USAF sangat mendekati dengan spesifikasi pesawat jet tempur generasi tiga atau tiga setengah.

Yaitu kecepatan pesawat lebih besar dari kecepatan suara namun tidak lebih dari dua kali kecepatan suara, serta mampu untuk membawa cukup banyak senjata standar… ( Bisa digunakan untuk pelatihan senjata standar.. !! ) Dan spesifikasi ini sangat cocok untuk negara dunia ketiga, yang tidak memerlukan pesawat dengan spesifikasi tinggi seperti negara besar / adikuasa.

Kebutuhan negara dunia ketiga ini akhirnya malah membuat sebuah produk yang lebih dari sekedar sebuah pesawat latih bermesin jet dan berkecepatan supersonic, tetapi malah sebuah pesawat tempur sesungguhnya dengan memberikan dorongan lebih terhadap spesifikasi pesawat latih tersebut.

Dengan mesin yang lebih punya daya dorong dan persenjataan yang lebih spesifik dan beragam serta munisi pintar yang sudah bisa digunakan juga, ditopang radar yang mumpuni. Jadilah satu kelas atau kasta lagi di dinasti pesawat tempur yaitu Pesawat Jet Latih Tempur, seperti kepunyaan China ( FTC 2000 ) dan Korea Selatan ( TA-50 ). Yang akhirnya disusul oleh beberapa negara eropa yang biasa membuat pesawat latih, dengan mengeluarkan varian dari pesawatnya yang memang dirancang secara nyata sebagai pesawat tempur..

Share.

About Author

Hanya seorang yang gak punya cukup kertas dan pensil untuk menuliskan semua isi otak

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage