Membasmi Tikus Tak Perlu dengan Membakar Lumbungnya

Membasmi Tikus Tak Perlu dengan Membakar Lumbungnya

7

 

Akhir-akhir ini, banyak aplikasi pesan singkat bermunculan.  Setidaknya, ada tiga aplikasi messaging yang banyak digunakan pada smartphone dan tablet berbasis Android dan iOS di Indonesia maupun dunia, yaitu BBM (BlackBerry Messager), Whatsapp, dan Telegram.

Sebagai produk andalan dari Kanada, dahulu BBM hanyalah eksklusif terintegrasi dengan gadget Blackberry. Eksklusifitas ini yang menjamin keamanan aplikasi tersebut.

Sejalan dengan penurunan pasar gadget BlackBerry, BBM diport ke platform Android dan iOS. Walaupun pemakainya tetap banyak, akan tetapi BBM mulai ditinggalkan user karena aspek ekslusifitasnya sudah hilang sama sekali sejalan dengan berubahnya BBM menjadi multi-platform.

‘Ledakan’ calon pembeli yang mengantre gadget Blackberry terbaru di Tanah Air akhirnya menjadi kenangan yang berlalu, sejalan dengan berjayanya gadget berbasis Android dan iOS. BBM memang masih banyak penggunanya terutama karena aspek nostalgia yang kental.

Lain lagi dengan WhatsApp (WA). WA dibuat oleh Brian Acton dan Jan Koum dari Amerika Serikat, dan dirilis pada tahun 2010. WA sangat mudah digunakan, sehingga tentu saja hal tersebut menyebabkan banyaknya pengguna aplikasi tersebut.

Namun dalam konteks privasi mulai dipertanyakan. Kabar bahwa Whatsapp memberikan nomor telpon pengguna kepada Facebook, perusahaan hostnya, menjadikan aspek sekuriti aplikasi tersebut berada dalam pertanyaan besar. Whatsapp memiliki versi peramban untuk Linux, Mac, dan Windows.

Tetapi jika koneksi ponsel terputus, versi peramban tidak bisa digunakan. WhatsApp juga mencoba mengejar ketertinggalannya dari Telegram, yaitu memperkenalkan enkripsi end-to-end.

Akan tetapi, Whatsapp memang tidak didesain untuk power user, sehingga memang mereka tidak memperkenalkan tools atau fitur yang sangat advanced pada pengembangan aplikasinya. Jika ingin membahas sesuatu yang sangat rahasia (top secret) dan privasi, sebaiknya jangan menggunakan whatsapp.

Aplikasi lainnya yaitu Telegram, dibuat oleh Nikolai dan Pavel Durov dari Rusia, dan dirilis tahun 2013. Telegram memang tidak terlalu mudah digunakan, karena memang didesain untuk power user. Akan tetapi, keamanan aplikasi tersebut lebih terjamin.

Bahkan sampai sekarang, pemerintah Rusia melarang Telegram mendirikan server di negara tersebut, karena tidak bisa dikontrol dan diakses oleh pihak intelejen mereka. Oleh karena itu, pihak Telegram terpaksa membuka kantor pusat mereka di Berlin, Jerman.

Karena keamanannya sangat terjamin, kelompok teroris seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menyalahgunakan pemakaian Telegram. Mereka tidak mungkin menggunakan WhatsApp, karena mudah diretas.

Satu hal yang harus diperhatikan, infiltrasi ISIS ke Telegram bukan membuktikan bahwa keamanan Telegram lemah, justru sebaliknya. Itu membuktikan kekuatan Telegram sebagai aplikasi messaging dengan enkripsi yang mumpuni, sehingga menjadi pilihan utama mereka.

Namun pihak Telegram membuka diri untuk bekerja sama dengan aparat keamanan dan intelejen negara manapun untuk menutup kanal diskusi para teroris tersebut. Telegram memiliki versi peramban dan desktop untuk Linux, Mac, dan Windows. Atas dasar itu, penulis menganggap kebijakan pemerintah memblokir situs Telegram terlalu gegabah.

Pemblokiran situs Telegram didasari telah disalahgunakan untuk penyebaran ajaran radikal yang mengarah pada terorisme. Hal tersebut telah berdasarkan pada alasan dan bukti yang kuat.

Demikian disampaikan Menkominfo Rudiantara di Pesawat Kepresiden Boeing 737-400 TNI AU, Sabtu (15/7). “Kami punya bukti yang kuat, ada lebih dari 500 halaman, mulai dari ajaran radikal, cara membuat bom, ajakan membenci aparat kepolisian, banyak!” tandasnya.

Lebih lanjut, dijelaskan, pemblokiran Telegram dilakukan atas persetujuan tiga institusi, yakni Kemkominfo, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Jadi kita tidak asal take down, BIN dan BNPT juga menyetujui situs ini diblokir,” kata dia.

Rudiantara menambahkan, dibandingkan penyedia fasilitas pesan instan dan media sosial lainnya, situs Telegram dianggap tidak memiliki prosedur pengaduan yang efektif sehingga menyulitkan komunikasi apabila pihaknya mendapatkan konten pesan yang berbahaya.

“Lain, misalnya, Twitter punya kantor di Jakarta, Facebook setidaknya ada di Singapura, dan semuanya bisa kita hubungi jika ada konten yang bermasalah,” kata dia.

Oleh karena itu, Menkominfo juga telah meminta Telegram untuk membuat standar operasional prosedur (SOP) penanganan konten-konten radikalisme.

“Kalau mereka sudah buat SOP-nya bisa kita review untuk membatalkan pemblokiran,” kata dia.

Kemkominfo pada Jumat (14/7) telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram yang semula dapat diakses melalui PC.

Menanggapi upaya pemerintah memblokir aplikasi telegram, pendiri sekaligus CEO aplikasi Telegram Pavel Durov angkat bicara.

Pavel dalam akun twitter pribadinya mengaku heran dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, Pavel menulis, pihaknya belum pernah menerima komplain atau keluhan dari Pemerintah Indonesia.

“(Kebijakan) itu aneh, kami tak pernah menerima permintaan atau keluhan apapun dari pemerintah Indonesia. Kami akan menyelidikinya dan mengumumkannya,” tulis Pavel.

Apalagi, pemblokiran yang sudah berjalan selama tiga hari ini tidak diketahui akan berakhir sampai kapan.

Pemblokirannya ya sekarang diblokir. (Sampai kapan diblokir) Ya belum tahu,” ujar Rudi di Aryaduta Hotel Jakarta, Jumat (14/7/2017) malam.

Menurut dia, sejauh ini, yang diblokir adalah 11 DNS milik Telegram Web. Namun, jika dibuka dari aplikasi atau handphone masih bisa diakses. Karena, kata Rudi, pemblokiran melalui aplikasi berbeda cara dengan website.

“Jadi kepada masyarakat masih bisa menggunakan Telegram dari ponsel tapi yang webnya tidak bisa. (Pemblokiran) Aplikasi bertahap karena kan caranya berbeda untuk melakukan pemblokirannya,” ucap dia.

Sontak, pemblokiran ini mengundang reaksi dari para penggunanya, dan mereka mengeluhkan hal tersebut kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara.

Para pengguna Telegram menyampaikan kritikannya atas perintah pemblokiran tersebut kepada Rudiantara melalui Twitter. Mereka menyayangkan langkah pemblokiran tersebut.

Berikut sejumlah cuitan yang ditujukan ke akun Twitter pribadi Rudiantara:

“@rudiantara_id chef masa iya Telegram diblokir hanya gara-gara alasan yang gak masuk logika,” tulis @nasirdbjpr.Jangan sampai pemerintah Indonesia membuat blunder dengan cara langsung memblokir aplikasi Telegram. Padahal, pihak Telegram membuka diri untuk bekerja sama dengan aparat keamanan dan intelejen negara manapun untuk menutup kanal diskusi para teroris.

“Pak Menteri @rudiantara_id kami bekerja pakai Telegram, kalau mau deteksi teroris kenapa tidak diretas saja komunikasinya bukan aplikasinya?!,” kicau Mas Noval Setyawan dengan akun @NopankOpank.

“Sangat disayangkan Telegram akan diblokir oleh Menkominfo. Padahal aplikasi ini memiliki fitur yang tidak dimiliki pesaingnya @rudiantara_id,” kicau akun @isnu.

Ada salah satu pribahasa, jika ingin membunuh tikus, tak perlu membakar lumbungnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mediasi antara pihak Telegram dan Pemerintah untuk mencari solusi terbaik. Bagaimanapun, aplikasi Telegram sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi.

 

Sumber: https://inet.detik.com/cyberlife/d-3288474/keamanan-vs-kenyamanan-whatsapp-bbm-dan-telegram

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170715035826-185-228079/ceo-telegram-angkat-bicara-soal-pemblokiran-oleh-kominfo/

http://berita.suaramerdeka.com/menkominfo-telegram-mengarah-konten-radikal/

http://tekno.liputan6.com/read/3023039/warganet-sindir-menkominfo-terkait-pemblokiran-telegram

Share.

About Author

Hanya seorang ambisius yang realistis email: mufidmubin46@gmail.com WA: 085647611910

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage