Menanti “Drone” Canggih Indonesia

Menanti “Drone” Canggih Indonesia

4

UAV Xi-A1

Di sebuah lereng pegunungan bersalju di Alaska, dua orang prajurit khusus Amerika diburu oleh sebuah drone. Seorang tewas di pondokannya karena serangan rudal tiba-tiba dari drone.  Seorang lagi selamat setelah mampu melindungi diri dari pelacak logam, infra-merah dan sinyal pencari panas dari  drone.

Bahkan, seorang prajurit khusus yang tersisa itu dapat menembak kamera drone sehingga membuat pilot jarak jauh tidak bisa mengendalikan pesawat nir-awak tersebut. Dia pun selamat.

Nama prajurit khusus itu adalah Aaron Cross. Aaron pun memulai petualangannya menjadi pelawan, menjadi pemberontak terhadap para atasannya karena ia yang tadinya dilatih justru ingin dimusnahkan.

Kisah Aaron itu menjadi kisah menarik dalam sederet film The Bourne, yakni The Bourne Legacy. Film The Bourne yang populer ini, menjadi rentetan film yang digandrungi oleh banyak ummat penggemar film Hollywood.

Sedikit cuplikan dari film The Bourne Legacy itu, membuat saya takjub.

Barangkali drone pemburu itu memang sudah bukan mustahil saat ini. Sebuah drone yang dilengkapi dengan kamera, pelacak panas, infra-merah serta dilengkapi dengan rudal penghancur. Ia menjadi senjata efektif, serta menakutkan yang bisa melakukan operasi rahasia tanpa kehilangan prajurit.

Drone Indonesia

Indonesia juga sedang bergairah dalam industri drone. Beberapa drone buatan anak negeri mulai bermunculan. Sebutlah Rajawali 720 produksi Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertahanan bekerjasama dengan PT Bhinneka Dwi Persada. Drone ini mampu terbang hingga 68 knot.

Selain itu, ada Puna Alap-Alap yang mengklaim mampu terbang selama 7 jam tanpa henti. Drone satu ini kabarnya sudah meraih prestasi dengan melakukan pemetaan jalur perkeretaapian seluas 6-7 hektar. Puna Alap-Alap dibuat oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Masih ada beberapa drone lain yang diciptakan oleh anak negeri seperti Wulung, Elang 25 dan itu membuat gairah teknologi pesawat nir-awak kelihatan bergairah. Namun dari banyak drone tersebut masih ada kekurangan yakni pada tingkat kebisingan.

UAV Wulung

Drone dengan tingkat kebisingan tinggi, tentu akan bermasalah. Apalagi saat bertugas untuk operasi pengintaian. Kecuali yang diintai sedang mendengarkan Via Vallen menyanyi dengan pengeras suara berkekuatan 100.000 watt, tentu mereka tidak akan mendengar. Mereka cuma akan manggut-manggut sambil sesekali bilang “woyo-woyo jos.” Setelah itu “duarrrr”, mereka gosong ditembak dengan rudal yang dibawa drone.

Selain kebisingan yang ditimbulkan oleh pesawat-pesawat nir-awak buatan Indonesia, bagian utama dari pesawat tersebut, kita juga belum bisa membuatnya. Mesin pesawat nir-awak, hampir seluruhnya masih impor seperti dari Jerman dan dari Jepang.

Kita saat ini bisa mendesain dan membuat tubuh pesawat. Namun, urusan jeroan itu kita belum sanggup membuatnya. Kasus ini mirip pesawat N-219 yang baru saja tes terbang perdana secara mulus di langit Bandung. Pesawat N-219 itu, mesin turbo propeller-nya masih dipasok oleh Pratt & Whitney. Urusan jeroan pesawat itu kita belum bisa bikin, baik pesawat penumpang atau pun pesawat nir-awak.

Meski begitu, kita patut bangga karena industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara, Indonesialah yang paling unggul.

UAV MALE, HALE dan Ai-X1

Drone  biasa atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) bisa ditugaskan untuk operasi yang membantu. Kabarnya, produsen-produsen drone Indonesia saat ini sedang berencana membuat UAV MALE dan targetnya selesai pada 2022.

UAV MALE adalah drone yang mampu terbang tinggi dan memiliki daya terbang lama atau Medium Altitude Long Endurance. UAV MALE kini sedang dikembangkan oleh gabungan lembaga dan perusahaan yakni Kementrian Pertahanan, BPPT, PT DI, PT Len Industri, dan ITB. Pengembangan ini sudah dimulai sejak 2015 dan butuh dana Rp 90 miliar. BPPT mengatakan Indonesia setidaknya minimal butuh 33 UAV MALE.

Tahun lalu, AeroTerrascan telah membuat terobosan yang menimbulkan berbagai tanggapan. Perusahaan yang bermarkas di Bandung itu, berambisi menembus langit sejauh 30km. Tentu saja banyak cibiran orang-orang di dalam negeri. Ini adalah khas orang Indonesia yang mengidap sindrom inferior kompleks akut yang otaknya disemayami kutilanak plus genderuwo.

Hasil cipta anak negeri dan mimpi Menembus Langit justru dicibir sendiri. Uji coba pertama dan kedua gagal. Sensor GPS yang nemplok di tubuh pesawat Ai-X1 buatan AeroTerrascan terganggu dan membuat pesawat nir awak itu gagal menjalankan misi karena secara otomatis mengaktifkan fail safe mode.

Ai-X1 terhitung UAV HALE (High Altitude Long Endurance). Ini berarti sebuah langkah ke depan yang luar biasa. Teknologi UAV bagi Indonesia adalah hal yang mendesak untuk dikembangkan. Sebab, negara-negara tetangga sudah memiliki.

Singapura, Malaysia, dan Australia adalah tiga negara yang sudah memiliki UCAV, UAV versi Combat atau versi tempur. Indonesia terhitung terkepung. Jika UAV versi buatan anak negeri bisa dibuat sebagai UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle ) tentu hal yang wajib.

Kita berharap, semoga para produsen UAV Indonesia bisa memberikan gebrakan drone canggih hingga mendunia.

Share.

About Author

Orang Kampungan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage