Papua, Telekomunikasi dan Ambisi Besar

Papua, Telekomunikasi dan Ambisi Besar

3

Papua, mungkin kita kenal adalah sebuah gugusan pulau yang cukup besar di Timur Indonesia dengan kekayaan alam yang luar biasa, hingga akhirnya dieksploitasi oleh asing, salah satunya oleh Freeport yang baru-baru ini ribut dengan pemerintah kita. Pulau yang sesungguhnya terus bergejolak dan membutuhkan perhatian.

Papua, memang tertinggal banyak hal dibandingkan pulau tempat saya lahir dan besar hingga hari ini. Telekomunikasi hanya salah satu diantaranya.

Saya, saat menulis ini tengah bekerja di sebuah perusahaan jasa internet yang produk utamanya adalah akses internet berbasis satelit yang perangkat antenanya disebut sebagai VSAT. VSAT umumnya digunakan sebagai perangkat telekomunikasi untuk daerah-daerah pedalaman. Di Indonesia, daerah pedalaman ini terlampau sangat banyak, mulai dari daerah dekat pegunungan, pulau-pulau hingga perbatasan dengan negara tetangga. Pelanggan perusahaan tempat saya kerja sekarang kebanyakan berasal dari daerah-daerah pedalaman, dimana kira-kira 80-90% pelanggan berasal dari gugusan pulau ini, yang untuk memperjuangkannya menjadi seutuhnya milik kita butuh 2 dekade, melewati penghabisan masa Orde Lama ke Orde Baru.

Posisi perusahaan tempat saya bekerja sekarang cukup diuntungkan dengan kendala telekomunikasi ini. Apalagi melihat bahwa dalam beberapa kasus VSAT inilah yang jadi satu-satunya “pintu” melihat dunia luar bagi para pelanggan. Pundi-pundi belasan juta untuk biaya perangkat ditambah dengan biaya paket internetnya, mengalir dari kendala ini. Kendala inilah yang menghidupi saya dan sejumlah 50-60 orang lebih karyawan serta pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Namun, perasaan hati rasanya masih tak tega saat membaca banyak hal gejolak dan kendala yang harus dialami penduduk di pulau ini.

Kendala telekomunikasi yang mesti dialami terjadi ketika ada kendala terhadap akses internet VSAT mereka, yang kadang bukan hanya sekedar akses internet lambat. Untuk segala koordinasi, tentu mau tak mau harus memakai telepon. Sementara, kondisi geografis Papua yang berliku-liku dengan pegunungan dan menyebrangi pulau terkadang menyulitkan koordinasi, dimana kadang ada situasi loss contact terjadi karena mencari sinyal itu sulit. Memang, kemudian diketahui kalau Telkom dan Telkomsel sebetulnya sudah berekspansi disana cukup serius dibandingkan perusahaan telekomunikasi lain. Indihome (layanan triple play internet-telepon-TV kabel dari Telkom berbasis serat optik) sudah masuk ke Papua dengan perantara kabel serat optik SMPCS (Sulawesi-Maluku-Papua Cable System). Hal ini juga saya amati dari kebanyakan nomor telepon pelanggan umumnya adalah Simpati.

Namun, keseriusan ini masih tak terlalu berdampak pada koneksi internet di Papua yang hanya sampai rata-rata 300 Kbps, jauh berbeda dengan di Jakarta yang bisa sampai 7 Mbps, menurut data OpenSignal di 2016 lalu. Salah satu pelanggan pernah mengeluhkan hal ini ketika saya akan mengirimkan file yang mengharuskannya membuka e-mail, sementara VSAT dia sendiri mengalami masalah. Dia sampai harus menanyakan ukuran file yang saya kirim, karena jika ukuran filenya besar, koneksinya akan sangat lambat di tempat dia dengan memakai jaringan selular. Untungnya ukuran file tersebut dibawah 10 KB, sehingga dia tak masalah untuk download file tersebut.

Pemerintah saat ini tengah membangun jalur serat optik yang disebut sebagai Palapa Ring dengan konsorsium beberapa perusahaan telekomunikasi swasta. Jalur ini juga akan melewati Papua dan diharap akan mampu menyamakan kecepatan koneksi internet di Papua dengan di Jawa. Namun, ada beberapa catatan penting yang harus dicermati.

Pertama, proyek “penyamaan” Papua dengan Jawa yang belakangan dicanangkan oleh presiden Joko Widodo sesungguhnya sudah tak relevan lagi. Percepatan pembangunan infrastruktur, termasuk dengan penyelenggaraan Palapa Ring ini, yang nantinya diharapkan menyamakan posisi harga semen hingga BBM di Papua dengan Jawa, memang akan membantu percepatan pembangunan di Papua itu sendiri. Namun, tak relevan rasanya jika percepatan ini harus disamakan targetnya dengan Jawa. Hal ini karena karakteristik geografis dan demografis Jawa dengan Papua berbeda. Kepadatan penduduknya, kemajuan-kemajuan ekonomi dan segala problematikanya yang berbeda-beda. Perlu ada pendekatan yang berbeda untuk Papua. Apalagi kenyataannya kita terlambat memahami dan melihat Papua yang perkembangannya masih lambat dan terlambat lebih dari 1 dekade. Keterlambatan ini akhirnya membuat penyamaan tambah tak relevan lagi.

Penyamaan ini pada akhirnya juga memberikan ruang legitimasi dan pengakuan bahwa pemerintah masih memprioritaskan pengembangan ekonomi di Jawa, sampai segala perkembangan ekonomi di pulau lain, termasuk di Papua harus sama dengan Jawa.

Kedua, ada persoalan yang harus diperhatikan pemerintah, daripada berfokus pada penyamaan harga dan pembangunan proyek-proyek mercusuar yang terasa tak lebih dari unsur politis sebagai pengingat keberadaan sebuah rezim yang sewaktu-waktu bisa jadi bahan nostalgia kembali, seperti rasa yang pernah ada untuk masa Soeharto (yang justru anehnya tak diinginkan kembali hadir dimasa sekarang ini, jika anak-anak presiden Soeharto seperti Tommy Soeharto menjadi presiden). Persoalan pelanggaran hak asasi manusia yang menjadi sorotan mata internasional, persoalan layanan kesehatan penduduk asli Papua yang belum terjangkau, termasuk segala problematikanya seperti angka penderita HIV/AIDS yang besar dari pulau ini hingga persoalan pendidikan, rasa-rasanya lebih perlu diseriuskan untuk penyelesaiannya daripada memprioritaskan pembangunan proyek mercusuar dan penggelaran kabel serat optik yang kadang tak bisa menjangkau seluruh masyarakat Papua secara merata.

Ini bukan berarti niat pemerintah tak boleh dijalankan. Proyek infrastruktur dan penggelaran jaringan telekomunikasi seluas-luasnya boleh-boleh saja dijalankan di Papua. Tentu niat ini dilandasi dengan niat yang baik. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa layanan infrastruktur dan jaringan telekomunikasi ini harus sebisa mungkin merata dan terjangkau dengan kualitas yang baik. Hal ini penuh dengan banyak tantangan untuk memenuhinya. Kondisi geografis misalnya.

Perlu diingat, daerah pedalaman di Papua lebih banyak daripada di Jawa. Kalau soal telekomunikasi, operator selular kebanyakan masih memaksimalkan jaringannya di pulau Jawa, sehingga meski di pulau Jawa masih ada pedalaman, masih ada kemungkinan mendapatkan jaringan. Beda dengan di Papua dimana geser tempat sedikit, telepon tak bisa dihubungi. Sekalinya bisa dihubungi, suara putus-putus.

Pemerintah mungkin mulai harus memikirkan insentif untuk perusahaan telekomunikasi yang menggelar layanan di Papua. Insentif ini juga harus memperhatikan banyak hal, termasuk melihat komitmen perusahaan telekomunikasi untuk perluasan jaringan mereka di pulau ini. Tak hanya dilihat berdasarkan indikator angka-angka luas coverage atau indikator Quality of Service (QOS) yang biasanya dilaporkan, namun juga melihat efektivitas perluasan ini untuk masyarakat Papua.

Maka, akhirnya semua pembangunan yang terjadi di Papua kini seharusnya tak lagi menitikberatkan pada kepentingan politis, namun lebih dari itu, kebermanfaatan dan keberlanjutan menjadi yang utama. Telekomunikasi dan hal-hal pokok lainnya seharusnya ditempatkan pada porsinya sebagai pendongkrak kemajuan Papua yang berkelanjutan. Apalagi selama ini masyarakat Papua masih tersisihkan dari beragam hal, termasuk soal sorot media yang ideal dan aspiratif buat mereka.

Semoga!

Share.

About Author

Mendengarkan, mencatat dan menuliskannya buat kamu. Penulis di IniKritikGue, pekerja dan pengamat. Kontak saya : [email protected]

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage