Pesawat N-219, Ajang Unjuk Gigi Anak Negeri

Pesawat N-219, Ajang Unjuk Gigi Anak Negeri

2

Sumber: ainonline.com

Indonesia sedang menunjukkan taringnya dalam produksi alat transportasi udara. Lewat PT. Dirgantara Indonesia, negara ini mampu memproduksi pesawat terbang. Yang terbaru, telah sukses diadakan penerbangan perdana pesawat N-219 yang dilakukan di Bandung, sehari sebelum peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72.

Sebenarnya pesawat ini bukanlah pesawat pertama yang diproduksi oleh PT. Dirgantara Indonesia. Diantaranya ada helikopter bermesin ganda NBO105, pesawat NC212, CN235, NAS332, NSA330 dan helikopter BELL 412

Oiya, dilansir dari Wikipedia, ternyata PT. Dirgantara Indonesia ini merupakan industri pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara. Keren! Menjadi pionir tentu bukan menjadi perkara mudah. Tapi Indonesia mampu membuktikannya. Sebagai informasi, PT. Dirgantara Indonesia ini awalnya bernama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dengan B.J. Habibie sebagai Direkturnya. Kemudian nama tersebut dirubah pada tahun 1985 menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Setelah 15 tahun kemudian, baru berganti nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia.

Kembali ke N-219. Usut punya usut, ternyata hampir keseluruhan produksinya didesain dan dirakit oleh anak bangsa, meskipun beberapa komponen avionik dan mesin masih didatangkan dari luar. Tapi hal itu memang merupakan kewajaran dalam industri penerbangan dunia. For your info, Pesawat ini sudah mengantongi Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. Oiya, orang yang mendapatkan kepercayaan menjadi pilot untuk menerbangkan pesawat N-219 pertama kali adalah Esther Gayatri Saleh, yang tidak lain tidak bukan adalah seorang pilot wanita.

Uniknya, sebelum penerbangan perdana itu, sudah banyak pihak yang memesan pesawat N-219 ini. Baik dari dalam maupun luar negeri. Tak tanggung-tanggung, ratusan unit sudah dipesan. Apa artinya? Kemampuan Indonesia dalam memproduksi alat transportasi udara sudah diakui oleh pihak luar. Tanpa mengetahui apakah pesawat itu berhasil diterbangkan atau tidak, kepercayaan sudah melekat disana. Kepercayaan inilah yang nantinya menjadi personal branding khusus untuk Indonesia.

Pesawat terbang ini dilabeli bukan dengan harga yang murah. Per unitnya, pesawat ini dibanderol mencapai $4.500.000 – $5.000.000. Asas membeli kucing dalam karung pun saya rasa tidak cocok diterapkan. Mungkin beberapa ada yang bertanya: memang apa kelebihan N-219? Akan coba saya jabarkan beberapa diantaranya ya.

Pertama, pesawat ini didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis. Kemampuannya untuk short take off atau landing mempermudah pengoperasian di daerah terpencil. Selain itu, N-219 ini dapat self starting tanpa menggunakan bantuan ground support unit.

Berikutnya, biaya operasional yang diperlukan untuk pesawat berkapasitas 19 orang itu lebih murah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan teknologi yang sudah banyak ditemui di pasaran. Sehingga dalam biaya operasi dan perawatannya relatif lebih rendah.

Selain itu, pesawat N-219 juga dirancang untuk bisa bermanuver dengan kecepatan rendah. Kecepatannya berkisar antara 59 knot – 210 knot. Apa efeknya? Pesawat dapat melaju dengan kecepatan rendah namun tetap dengan kontrol yang stabil. Pesawat ini dapat dipergunakan dengan baik di daerah perbukitan. Ditambah lagi, pesawat N-219 juga dilengkapi dengan Terrain Awareness and Warning System, seperangkat alat yang bisa mendeteksi bahwa pesawat ini sedang menuju kepada atau mendekati wilayah perbukitan. Sistem pesawat akan memberikan tanda, visualisasi secara 3 Dimensi (3D) sehingga pilot bisa melihat secara langsung kondisi perbukitan yang akan dilaluinya. Hal ini tentu sangat relevan untuk digunakan di daerah-daerah yang terpencil, dimana lingkungan alamnya masih tergolong banyak bukit dan tebing antarpegunungan.

Melihat ke depan, rasanya prospek dari N-219 ini akan sungguh bermanfaat. Terutama untuk sektor wisata. Indonesia merupakan negara yang sarat akan lokasi wisata, baik yang sudah mendunia seperti Bali dan Yogyakarta maupun yang baru-baru hits. Nah, yang dapat dikembangkan justru lokasi-lokasi terpencil yang belum mampu mengakomodir pesawat besar, namun memiliki potensi wisata yang baik. Dibandingkan dengan menggunakan jalur darat atau laut yang menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari, bukankah lebih baik menggunakan jalur udara? Ditambah lagi, landas pacu yang pendek menjadi poin penting yang dapat diaplikasikan pada daerah terpencil.

Penguatan sektor pariwisata tentu akan meningkatkan devisa negara sekaligus peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Jelas mendukung program pemerintah yang menginginkan pemerataan ekonomi. Tinggal bagaimana caranya pemerintah menggenjot produksi pesawat ini sambil terus melakukan pengembangan disana-sini agar menjadi produk yang lebih baik. Daripada cuma nyinyir, ya kan?

https://id.wikipedia.org/wiki/Dirgantara_Indonesia

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage