Sabon, Soap, Shobun

Sabon, Soap, Shobun

6


Barangkali, kita jarang memikirkannya. Apa yang digunakan oleh orang-orang dahulu sebelum sabun ditemukan? Apa perlunya sabun ada, dan mengapa ia harus kita gunakan saat mandi? Bagaimana jika kita saat ini mandi tanpa menggunakan sabun? Masih sah-kah mandi kita?

Kita disuguhi pelbagai macam jenis sabun saat ini. Oleh pelbagai pabrik dengan beragam warna, beragam wangi, beragam kegunaan. Iklan-iklan menampilkan lelaki dan perempuan yang aduhai dan semlohay, berkulit mulus, putih, syantik dan ganteng. Sabun malang-melintang di televisi tanpa kenal lelah, meski kadang kita juga jengah.

 

Saat ini, kita mungkin sulit membayangkan mandi tanpa sabun. Kulit akan terasa kering. Kelembaban yang hilang dari kulit, dan kesetnya kulit tidak akan terasa. Tubuh masih terasa licin saja jika mandi tak pakai sabun, sehingga kita berpikir bahwa mandi tanpa sabun belum sempurna membersihkan tubuh kita.

Kita mungkin sulit untuk percaya, jika kota yang kini porak-poranda di Suriah sana, adalah salah satu tempat yang pernah terkenal dengan produksi sabunnya. Di Nablus, Damaskus, Aleppo, dan Sarmin, adalah pusat-pusat kota yang terkenal dengan ekspor sabun pada masa kejayan Islam. Eropa belum menggunakannya ketika orang di Asia sudah memiliki sabun berwarna bahkan sabun obat juga sabun parfum.

Perkembangan teknologi alkimia dalam dunia Islam telah melahirkan beragam penemuan. Seperti halnya sabun, proses dasarnya dahulu adalah menggunakan minyak zaitun dan al-Qali. Adakalanya ditambahkan pula natrun. Salah satu alkemis Islam, Daud al-Antakhi menerangkan bagaimana cara pembuatan sabun ini. Selain dia, al-Razi juga memberikan ramuan sabun dan mendeskripsikan tentang proses pembuatan gliserin dari minyak zaitun (al-Hassan dan Hill, 1993:179).

S.I. Poeradisastra, salah seorang komunis Indonesia yang mendapat “cahaya” di pulau Buru, bertobat kemudian menuliskan sebuah buku islami yang juga mengungkap kisah perjalanan sabun ini. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa asal kata sabun adalah dari Arab, shobun. Kata itu bermigrasi ke Eropa pada Perang Salib.

Di Spanyol, ia disebut sabon. Di Prancis, kata itu menjadi savon. Di Inggris soap, di Jerman seife dan Belanda menyebutnya zeep. Bahan-bahan kimia yang ditemukan oleh alkemis Muslim seperti al-kohol (ingat nama-nama Arab di Indonesia yang menggunakan awalan “al”), boric acid, air raksa, amoniak, tawas dan lainnya (2008:41-42).

Dari ilmu kimia murni ini, lalu menjadi kimia terapan yang menghasilkan pelbagai produk seperti parfum, sabun, gelas kaca dan lainnya. Tapi dalam perkembangan lebih lanjut, kimia murni yang berselingkuh dengan kimia terapan, bisa menghasilkan hal yang jauh lebih luarbiasa, yakni farmakologi, ilmu obat-obatan, yang selama ini menjaga kesehatan tubuh kita.

Kembali lagi ke sabun.

Kisah perjalanan sabun ini, terus menerus berkembang. Kini kita mendapati beragam fungsi benda satu ini. Bahkan, dalam sebuah gojekan diantara kaum lelaki, sabun menjadi bahan yang paling konyol dan banyol.

Yah, kita tahu, ketika kaum perempuan berkumpul, gosiplah yang akan mereka bincangkan. Tapi jika kaum lelaki berkumpul, sabun dan fungsi melencengnya serta obrolan sekitar titik-titik-titik itulah yang akan terjadi.

Begitulah sabun membentuk peradaban kulit dan insting penciuman manusia melalui parfum yang menguar darinya. Sabun juga menjadi pembasmi bakteri dan penjaga kesehatan tubuh. Tapi sabun jugalah aktor penting dalam membumikan dosa pertama manusia berkecambah dan bermunculan saat ini yaitu: rasialisme.

Iklan sabun pemutih kulit khususnya, telah membentuk cara pikir masyarakat bahwa kulit putih adalah utama, unggul, agung, luhur, syantik , ganteng, dan apalah-apalah-apalah namanya yang itu berakhir kepada proses diskriminasi rasialisme.

Pemikir pluralis kita, Nurcholis Madjid atawa Cak Nur, seniornya Mas Anies Baswedan itu, mengungkap bahwa: Dosa makhluk yang pertama ialah rasialisme, yaitu ketika iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam dengan alasan bahwa ia lebih baik daripada Adam. Iblis merasa lebih baik dari Adam karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah (Munawar-Rachman: 2012:2836).

Karena itu, bagi kaum titik-titik-titik, berhentilah bertindak dan berucap rasis! Apalagi di Pilkada DKI. Kalau tidak, lu berarti melanggengkan dosa pertama Iblis dan lu bakalan bertumpukan dosa! Jangan bilang item, jangan bilang sipit, jangan bilang Cina! Pemahaman nenek lu nyampek kagak nih? Jadi orang kok rasis melulu! Tai lu! Bilang beragama, tapi nyatanya rasis!

Share.

About Author

bisa disapa di twitter @slamet_wicak

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage