Telegram, Kominfo, dan Logika Berpikir yang Tidak Biasa

Telegram, Kominfo, dan Logika Berpikir yang Tidak Biasa

13

Belakangan ini, masyarakat Indonesia, khususnya pengguna media sosial diributkan oleh berita bahwa layanan media sosial Telegram akan diblokir (baca: Kompas). Sontak, berita ini langsung ramai dibincangkan oleh kalangan pengguna Telegram maupun yang bukan pengguna Telegram. Ada juga yang mungkin bertanya-tanya, jaman secanggih ini masih pakai telegram? Ya wajar diblokir. hehe…

Setelah ditelusuri, penyebabnya ada 17 ribu halaman mengandung terorisme, radikalisme, membuat bom (baca: Detik). Stop. Apakah ada yang salah dengan alasannya ini? Tidak ada yang salah, hanya aneh saja.

Saya selaku pengguna aplikasi Telegram ini (bukan teroris loh ya saya), kaget sekaligus kecewa dengan keputusan kominfo. Mengapa? Logika berpikir kominfo seperti ini: ada tikus masuk ke rumah, rumahnya dibakar. Kalau menggunakan logika yang sama, terus kenapa panci dibiarkan bebas beredar? Padahal, panci banyak digunakan teroris untuk dijadikan bom.

Kalau masalah Telegram digunakan untuk terorisme, dan lain-lain itu, saya yakin bukan hanya Telegram tetapi seperti Facebook, YouTube, Whatsapp, Twitter dan lain sebagainya juga banyak digunakan untuk kepentingan yang sama. Contohnya YouTube, Twitter dan Facebook sering digunakan sebagai media perekrutan ISIS untuk menjaring kadernya (baca: Kompas lagi). Kalau yang ini, kenapa kominfo tidak melakukan pemblokiran juga? Apalagi konten-konten yang ada di YouTube, Facebook, Twitter juga banyak ragamnya, termasuk gambar porno dan sebagainya. Coba periksa sendiri deh.

Terus kenapa Telegram?

Jujur, sebagai pengguna Telegram, saya sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini, karena beberapa institusi keuangan maupun lainnya menggunakan aplikasi ini untuk menginformasikan sesuatu kepada para nasabahnya. Bagi institusi keuangan atau suatu bisnis, ini sangat membantu untuk menjangkau pelanggannya, karena kebanyakan orang lebih sering menggunakan media sosial dibandingkan baca email.

Ini adalah salah satu fasilitas yang tidak ditemukan di aplikasi Whatsapp adalah channel atau kanal, yaitu komunikasi satu arah dari satu orang kepada orang banyak. Ini yang banyak dimanfaatkan perusahaan-perusahaan maupun kelompok-kelompok radikal ataupun teroris untuk memberikan informasi ataupun instruksi. Pengguna tidak bisa mencari sendiri kanal itu, melainkan diundang. Kemungkinan ini yang membuat pusing kepala pemerintah dalam mencari kelompok radikal tersebut.

Di dalam kanal ini, para pengikut kanal tersebut tidak bisa melihat siapa saja yang ada di dalam kanal, maupun sumbernya dari nomor telepon mana. Jadi semuanya bersifat rahasia. Tentunya, ini baik bagi perusahaan untuk menjaga kerahasiaan data pelanggannya. Hal ini juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk memberikan instruksi dan sebagainya kepada pengikutnya secara aman.

Jika dibilang Telegram lebih aman, sebenarnya tidak juga. Telegram tidak menggunakan enkripsi end-to-end secara baku atau default. Untuk lebih aman, harus diaktifkan mode secret chat-nya baru kemudian aktif enkripsi end-to-end, hanya bisa 2 belah pihak saja yang baca, kemudian chat-nya bisa hilang, mirip seperti film mission impossible, tapi tidak pakai bakar-bakaran. hehehe.

Bukan bermaksud promosi, tapi aplikasi Telegram ini juga lebih ‘ringan’ bagi telepon pintar, serta semua media, baik foto maupun video, serta tulisan yang ada di aplikasi Telegram ini disimpan di dalam server Telegram, sehingga apabila kita telepon kita hilang, dan ganti baru, semua chat dan media bisa kembali tanpa melakukan backup dan sinkronisasi. Semua media tersimpan di dalam servernya Telegram, mengakibatkan telepon pintar kita lebih hemat tempat, terutama bagi yang punya telepon pintar dengan kapasitas terbatas. Inilah yang diunggulkan oleh pendiri Telegram, Pavel Durov, yaitu portabilitasnya.

Selain itu, sebelum Whatsapp bisa digunakan di perangkat lain, Telegram sudah terlebih dahulu digunakan di PC maupun tablet, tanpa menghidupkan telepon pintar kita. Hal ini yang membuat berbeda dengan aplikasi Whatsapp, yang harus dalam keadaan aktif apabila kita mau melakukan pengetikan melalui PC.

Whatsapp

Kalau mau aman, sebenarnya lebih unggul Whatsapp, karena secara standar, semua percakapan dilakukan enkripsi end-to-end, termasuk dalam grup whatsapp. Segala percakapan, serta medianya, baik itu foto maupun video, langsung dikirimkan ke telepon pintar masing-masing, tanpa disimpan di dalam server Whatsapp. Hal ini yang menyulitkan penguasa atau pemerintah untuk melakukan penyadapan maupun pemeriksaan di dalam server Whatsapp.

Sebaliknya, mudah sekali, apabila kita mendapatkan akses ke server Telegram, untuk dapat membuka percakapan karena tidak ter-enkripsi di dalam server Telegramnya, terkecuali yang menggunakan secret chat.

Diblokir

Alasan pemblokiran Telegram sebenarnya aneh, termasuk juga komentar pendiri Telegram (baca: Kompas juga). Saya yakin, seyakin-yakinnya, para teroris atau yang radikal, menggunakan media lain selain Telegram.

Keputusan kominfo ini, analoginya para penganut terorisme ataupun radikalisme ini tinggal, hidup, menggunakan fasilitas di suatu kota. Nah, kominfo melakuka pemblokiran akses menuju dan keluar ke kota itu. Artinya merugikan kepentingan banyak orang demi segelintir orang saja. Kan aneh? Bukannya malah menangkap orang-orang yang terduga berafiliasi terorisme dan radikalisme, malah aksesnya ditutup.

Pemblokirannya pun sederhana (baca: BBC), hanya mengotak-atik di DNS server nasional, mesin penerjemah alamat internet ke bahasa komputer sehingga apabila kita minta alamat telegram, dikasih jawaban yang lain. Ini juga dilakukan terhadap website yang mengandung pornografi dan lain-lain.

Tentunya, hal ini bagi yang melek IT, merupakan hal yang mudah untuk tetap bisa akses, yaitu mengganti DNS servernya. Kalaupun tidak bisa, masih bisa menggunakan alternatif lain, yaitu DNScrypt ataupun VPN untuk mengakses alamat yang diblokir dengan metode ini. Sampai detik ini, kominfo hanya berhasil memblokir Telegram yang diakses lewat internet browser, tetapi apabila melalui aplikasi, masih jalan terus, lancar jaya.

Bukan hanya kali ini, kominfo melakukan blunder. Ketika heboh ransomware wannacry, kominfo melakukan kegaduhan dengan mengumumkan tidak boleh menyalakan komputer di tanggal tertentu (baca: Kominfo). Hal ini mengakibatkan kehebohan yang luar biasa di masyarakat luas, terutama rekan kerja saya sih. hehe.

Balik ke masalah pemblokiran. Bahkan selain Telegram, menkominfo mau melakukan pemblokiran terhadap semua media sosial (baca: Viva). WOW! Kenapa tidak sekalian internetnya diputus juga? hehehe

Pemblokiran bukan suatu solusi, karena pasti akan ada cara yang lain atau jalan lain untuk tetap dapat mengakses dan berkomunikasi. Alangkah baiknya, kominfo melakukan sesuatu yang lebih cerdas dibandingkan sekedar blokir sana sini, misalnya langsung di-trace siapa orangnya, kemudian dikoordinasikan dengan kepolisian untuk melakukan penangkapan, sehingga diharapkan penganut terorisme dan radikalisme itu berkurang atau hilang sama sekali.

Teknologi, peralatan, sosial media bukan sumber masalahnya, tetapi orang yang menggunakannya yang bermasalah. Jadi, blokir orangnya, bukan teknologinya ya pak.

Demikian kura-kura.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage